Sipil dan Militer Harus Bersinergi Jaga Pertahanan Nasional di Tengah Geopolitik Global

AKURAT.CO Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, menegaskan pentingnya penguatan kerja sama sipil dan militer sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas dan ketahanan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada kegiatan Pelatihan Eksekutif bagi Personel TNI, di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Cibodas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Dinamika global yang ditandai dengan rivalitas kekuatan besar, krisis ekonomi dan energi, serta meningkatnya ancaman nontradisional, menuntut penguatan sinergi antara unsur sipil dan militer. Menurutnya, stabilitas merupakan prasyarat utama bagi keberlangsungan pembangunan dan peningkatan daya saing bangsa.
Baca Juga: Cadangan Beras Tembus 5 Juta Ton, Sejarah Baru Ketahanan Pangan Indonesia
"Sipil dan militer harus bekerja sebagai satu ekosistem, bukan dua kutub yang saling berhadapan," kata Bima, Jumat (24/4/2026).
Tanpa stabilitas, berbagai aspek strategis negara berpotensi terganggu, mulai dari menurunnya investasi, meningkatnya potensi konflik, hingga terhambatnya pembangunan. Karena itu, sinergi yang dibangun harus mampu menjaga keseimbangan antara supremasi sipil dan efektivitas militer dalam kerangka demokrasi.
Dia pun memaparkan sejumlah strategi penguatan kerja sama sipil dan militer, antara lain melalui kejelasan peran dan batas kewenangan, penguatan sistem peringatan dini, perencanaan dan koordinasi terpadu, peningkatan kapasitas, serta pengawasan sipil yang akuntabel.
Baca Juga: Jaga Ketahanan APBN, Berikut Strategi Fiskal ala Wamenkeu Juda Agung
Dia juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan, komunikasi yang intensif, kepemimpinan inklusif, serta kesamaan visi lintas sektor. Kerja sama sipil-militer yang ideal adalah yang mampu menghadirkan kekuatan negara yang efektif, demokratis, responsif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, sinergi tersebut tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga memperkuat ketahanan nasional secara berkelanjutan di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
"Demokrasi itu supremasi sipil 'like it or not' supremasi sipil, tetapi kita membutuhkan kepemimpinan yang efektif," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 7Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 8Prediksi Prancis vs Italia 3 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat








