Akurat Logo

BMKG Pantau Fenomena Godzilla El Nino Akan Melanda Indonesia, Apa Bedanya dengan El Nino Biasa?

Titania Isnaenin | 6 April 2026, 13:22 WIB
BMKG Pantau Fenomena Godzilla El Nino Akan Melanda Indonesia, Apa Bedanya dengan El Nino Biasa?
Godzilla El Nino.

AKURAT.CO ​BMKG memantau potensi Godzilla El Nino yang diperkirakan akan melanda Indonesia, di mana fenomena ini merupakan El Nino dengan intensitas yang jauh lebih besar dari biasanya, membawa dampak yang lebih ekstrem terhadap pola cuaca. ​

El Nino sendiri adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Mengenal Godzilla El Nino

​Istilah "Godzilla El Nino" digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari kondisi normal. ​

BMKG mengklasifikasikan El Nino berdasarkan kekuatannya, yaitu lemah, sedang, hingga kuat, dan "Godzilla" adalah penyebutan populer untuk intensitas yang sangat kuat. ​

Baca Juga: Kejagung Amankan Kajari Karo, Hinca Pandjaitan: Jadi Pelajaran unruk Semua

Fenomena ini disebut "Godzilla" karena skalanya yang besar dan dampaknya yang tidak bisa dianggap ringan. ​

Para ahli klimatologi, termasuk dari NASA, menyematkan istilah ini untuk El Nino yang masuk kategori "Very Strong".

​Jika El Nino biasa hanya meningkatkan suhu sekitar 1 hingga 1,5 derajat Celcius, Godzilla El Nino bisa mencatatkan anomali suhu hingga di atas 2,5 atau bahkan 3 derajat Celcius. ​Kekuatan ini menjadikannya destruktif dan sulit diprediksi.

Perbedaan dengan El Nino Biasa

​​Perbedaan utama antara El Nino biasa dan Godzilla El Nino terletak pada intensitasnya​.

​Godzilla El Nino memiliki pemanasan suhu laut yang jauh lebih tinggi sehingga dampaknya juga lebih luas dan terasa lebih kuat dibandingkan El Nino biasa.

​Dalam kondisi normal, El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, yang memengaruhi pola pembentukan awan dan hujan. ​

Namun, ketika fenomena ini menguat secara ekstrem, pola pembentukan awan dan hujan akan semakin berubah secara drastis.

​Awan cenderung terkonsentrasi di wilayah Samudra Pasifik, sehingga wilayah seperti Indonesia mengalami pengurangan awan dan curah hujan yang signifikan, memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering. ​

Fenomena ini juga berpotensi meningkatkan suhu hingga sekitar 1,5 hingga 2 derajat Celsius secara bertahap.

Prediksi dan Dampak di Indonesia

​Sinyal kemunculan El Nino diperkirakan mulai terlihat pada April 2026. ​Pada fase awal ini, curah hujan masih bisa terjadi hingga akhir Maret, namun intensitas hujan diprediksi mulai berkurang secara bertahap memasuki April. ​

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.