Irsyad Mohammad Luncurkan Dua Buku: Puisi Esai sebagai Peringatan Dini Bangsa

AKURAT.CO Puisi esai bukan sekadar bahasa keindahan, melainkan bisa menjadi peringatan dini agar bangsa tidak terperosok pada lubang sejarah yang sama.
Keyakinan itu melatarbelakangi peluncuran dua buku terbaru karya Irsyad Mohammad—penyair, sejarawan muda, sekaligus aktivis—pada Senin (18/8/2025) di Al-Zastrouw Library & Adakopi, Kompleks Taman Serua, Depok.
Irsyad menghadirkan dua karyanya berjudul Lima Saksi Reformasi Denny JA dalam Atas Nama Cinta: Suatu Analisis Sejarah dan Yang Luput dari Jantung Sejarah: Sejumlah Puisi Esai Kontemporer. Perhelatan ini dikemas dalam acara sastra yang mempertemukan refleksi lintas disiplin: sejarah, sastra, hingga advokasi hak asasi manusia.
Buku pertama merupakan telaah akademik-puitik atas karya legendaris Denny JA, Atas Nama Cinta (2012), yang menandai lahirnya genre puisi esai di Indonesia. Bagi Irsyad, puisi-puisi tersebut adalah arsip sosial sekaligus saksi zaman.
“Puisi-puisi dalam Atas Nama Cinta adalah peringatan dini. Ia mengingatkan bahwa intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan atas nama mayoritas bisa melumpuhkan bangsa. Sastra hadir bukan untuk memanjakan rasa, tapi menggugah kesadaran,” ujar Irsyad.
Melalui pendekatan historiografi, hermeneutika, dan kritik sastra, Irsyad menegaskan bahwa puisi esai bisa diperlakukan sebagai sumber sejarah alternatif—dokumen emosional sekaligus intelektual.
Baca Juga: Animo Tinggi di BNI WonderX 2025, Promo Properti Bikin Milenial Berebut
Dalam buku kedua, Yang Luput dari Jantung Sejarah, Irsyad menghadirkan tujuh puisi esai kontemporer.
Ia menghidupkan kembali sejarah yang terlupakan—mulai dari kisah waria peramal yang ternyata agen CIA, elegi Esperanto, hingga jejak nasionalis Jepang Kita Ikki.
Baginya, fiksi yang baik harus bersandar pada fakta. Dengan riset mendalam, puisi esai menjadi jembatan antara arsip dan nurani, data dan batin.
Acara peluncuran buku ini turut menghadirkan penyair senior Jamal D. Rahman dan Angin Kamajaya.
Jamal menilai menulis puisi esai menuntut keterampilan berjalan di garis tipis antara disiplin fakta dan kebebasan imajinasi.
“Irsyad memberi gambaran konkret bagaimana sastra dan sejarah dapat bertemu, saling meneguhkan, sekaligus saling menguji,” katanya.
Sementara itu, Angin Kamajaya menyoroti penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam buku kedua Irsyad. Ia menilai AI hanya berfungsi sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas.
“Kebuntuan ide bisa dibantu AI, tapi kreativitas tetap lahir dari pengarang,” ujarnya.
Lewat dua buku ini, Irsyad menegaskan posisinya bukan sekadar penyair, tetapi intelektual publik muda yang menghadirkan sastra sebagai ruang refleksi sejarah sekaligus advokasi sunyi yang tegas.
Baca Juga: Prabowo Ngotot Soal DTSEN, Fahri Hamzah: Kebijakan Pro Rakyat Harus Efisien dan Tepat Sasaran
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








