Akurat Logo

Islam Penuh Toleransi dengan Rahmatan Lil Alamin, Jangan Biarkan Intoleransi Digaungkan Orang Tak Pernah Belajar Agama

Mukodah | 17 Mei 2024, 15:39 WIB
Islam Penuh Toleransi dengan Rahmatan Lil Alamin, Jangan Biarkan Intoleransi Digaungkan Orang Tak Pernah Belajar Agama

AKURAT.CO Indonesia adalah bangsa besar yang penuh dengan keberagaman.

Keberagaman agama, suku, ras dan bahasa justru menggambarkan Indonesia yang tergambar di dalam kitab suci Al- Qur'an, di mana Tuhan Yang Maha Esa menciptakan dunia dengan berbagai perbedaan.

Di Indonesia, perbedaan itu merupakan keniscayaan dan perekat persatuan NKRI karena tidak ada celah sedikit pun intoleransi boleh hidup di bawah panji-panji Pancasila.

"Pada dasarnya semua orang itu cinta pada perdamaian karena manusia itu diciptakan dengan fitrah yang penuh cinta oleh Tuhan. Kalau dalam Islam karena itu yang dibutuhkan adalah paparan melalui dalil-dali berbasis nilai-nilai keislaman bahwa Islam berpihak secara penuh kepada nilai-nilai toleransi yang disebut dengan tasamuh," jelas pendakwah dan kreator konten milenial Habib Husein Ja'far Al Hadar, saat menjadi narasumber kegiatan Sekolah Damai dengan tema Pelajar Cerdas Cinta Damai di Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Banyuwangi, Kamis (16/5/2024) malam.

Dia melanjutkan, tasamuh dalam bahasa dan istilah Arab yang berbasis pada nilai utama Islam disebut sebagai rahmatan lil alamin.

Baca Juga: Hardiknas Momentum Penyemangat Seluruh Komponen Bangsa Lindungi Generasi Muda dari Intoleransi dan Radikalisme

Karena itu, Ja'far mengajak terutama anak muda, khususnya para santri dan santriwanti, untuk melekatkan nilai dan mengisi ruang-ruang dakwah dengan nilai-nilai Islam yang penuh dengan toleransi.

"Jangan biarkan justru klaim-klaim Islam sebagai agama yang sarat dengan nilai-nilai intoleransi digaungkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Santri itu telah menjadi punggung bagi toleransi di Indonesia. Karena itu semua, tidak hanya santri, harus sadar bahwa di luar ini ada tantangan yaitu intoleransi," ungkapnya.

Untuk para santri, kata Ja'far, bila mereka sudah purna dari pesantren maka wajib menjaga agama dan ilmu agama serta amal dan akhlak yang salah satu pondasinya adalah toleransi.

Ketika mereka menjadi apapun nanti, para santri harus mendakwahkan Islam rahmatan lil alamin pada sekitarnya, bukan malah menyebarkan kebencian dan intoleransi kepada umat agama lain.

Santri juga bisa memimpin majelis taklim di masjid agar Islam dijaga oleh ahlinya.

Pasalnya, bila Islam diserahkan kepada yang bukan akhlinya maka kehancuran nama dan cinta Islam itu ada depan mata melalui propaganda ke masyarakat karena mereka tidak pernah belajar dan mengelola agama.

Menurut Ja'far, santri akan diajarkan pertama kali adalah agama. Kedua adalah menginternalisasi agama melalui apa-apa yang disebut dengan suluk.

Ponpes tasawuf seperti di Darussalam ini bukan hanya belajar agama tetapi juga meresapinya melalui suluk.

Baca Juga: Perkuat Kewaspadaan Anak Bangsa Terhadap Ancaman Intoleransi dan Radikalisme

Mereka iniah yang akan menjadi generasi tahu agama dan tidak diprovokasi oleh nafsu dalam diri ketika melihat perbedaan.

Jadi, kalau santri telah belajar agama dan mereka tahu bahwa toleransi adalah satu keharusan karena perbedaan itu satu kenyataan dan keniscayaan Tuhan yang tercantum dalam Al-Qur'an.

Kalau Tuhan mau, semua umat manusia bisa saja login sebagai muslim. Tetapi Tuhan menciptakan dunia serta manusia dan segala isinya dengan berbagai perbedaan.

"Intinya bahwa toleransi adalah ajaran Islam terhadap perbedaan. Perpecahan adalah musuh Islam yang harus dilawan. Jadi, musuh kita itu bukan peradaban yang berbeda tapi orang-orang yang tidak siap menerima perbedaan," tutur Ja'far.

Dalam kesempatan tersebut ia juga menguraikan terkait intoleransi, kekerasan dan bullying.

Menurut Ja'far, orang yang punya intoleransi maka akan menyebabkan kekacauan sehingga tidak ada kedamaian.

"Ciri orang Islam itu, menurut Nabi Muhammad, bukan hanya salat, puasa, zakat, haji tapi bisa memberikan rasa damai bagi siapa saja. Maka orang tidak toleran bukan muslim. Muslim itu yang tasamuh, memberikan rasa damai dan toleransi bagi orang sekitar," jelasnya.

Ja'far mengatakan, terdapat empat jenjang toleransi. Pertama, intra agama sesama orang Islam yaitu Ukhuwah Islamiyah. Kalau berbeda agama atas namanya Ukhuwah Wathoniyah, toleransi antarwarga negara. Kalau beda suku, beda agama tapi satu warga negara, sesama orang Indonesia adalah bersaudara.

"Kalau dia bukan orang Indonesia, bukan Islam maka toleransi kita Ukhuwah Insaniyah, persaudaraan sesama manusia. Sedangkan kalau dia bukan manusia, toleransi Ukhuwah Mahmudiyah, persaudaran dalam toleransi sesama makhluk Tuhan," terangnya.

Ja'far juga menuturkan empat unsur Islam toleran. Pertama, Islam yang tidak takfiri, tidak mudah mengafirkan orang lain. Kedua, tidak menjadikan kekerasan sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah.

Kalau ada masalah maka dia cari solusi damai, bukan dengan kekerasan. Ketiga, tidak antinilai-nilai kebangsan. Dan keempat adalah tidak antinilai budaya.

Ia melanjutkan bahwa Allah SWT akan terkagum-kagum apabila umatnya mampu menjaga adab dengan berkelakukan baik.

Apalagi umat manusia bisa melakukan itu tentu akan mendapat ganjaran dari Allah SWT.

"Kemudian jangan lupa, nonmuslim itu menilai Islam tidak dari Al-Qur'an atau hadis maupun sebagainya melainkan mereka ini melihat kita umat muslim dari tindak tanduk, sebagai agen atau marketing Islam. Maka dari itu, kita sebagai muslim harus bisa memberikan contoh dalam berkehidupan dan beribadah yang baik di manapun karena nama Islam harus senantiasa kita jaga," pungkas Ja'far.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK