Akurat Logo

7 Pandangan Religius Isaac Newton

| 25 November 2019, 17:10 WIB
7 Pandangan Religius Isaac Newton

AKURAT.CO, Apa hal paling identik dari seorang Isaac Newton? Bisa jadi kita langsung teringat pada teori mekanika klasiknya yang dijabarkan menjadi tiga hukum Newton, salah satunya rumus gaya berbanding lurus dengan massa dan percepatan (F=m.a).

Ada juga teori kelembaman yang menyebut bahwa benda diam cenderung tetap diam, sedangkan benda bergerak cenderung terus bergerak dengan kecepatan konstan. Yang tak kalah dikenal pula adalah teori tentang dua gaya sama besar yang saling berlawanan, atau dirumuskan dengan F aksi = - F reaksi.

Berbagai rumusan yang ditemukannya dari mengamati gejala alam itu dituangkan dalam buku berjudul 'Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica' atau lebih dikenal 'Principia'. Buku yang terbit saat Newton berusia 45 tahun ini dianggap sebagai buku paling berpengaruh terhadap perkembangan sains.

Masa Kecil Newton

Sebelum masuk ke alam pikiran Newton, mari kita berkenalan dulu dengan latar belakang kehidupannya. Newton (1643 –1727) merupakan anak petani kaya asal Whoolsthorpe, Lincolnshire, Inggris. Ia telah menjadi yatim 3 bulan sebelum lahir. Ibunya kemudian menikah lagi saat Newton berusia 3 tahun, tapi ayah tirinya tak bersedia merawatnya. Itu membuatnya punya rasa benci yang besar pada ayah tiri termasuk pada ibunya.

Sejak itu, ia dibesarkan dan disekolahkan oleh nenek dari pihak ibu. Setelahnya, Newton tinggal indekos saat masuk The King’s School di Kota Grantham yang berjarak sekitar 40 km dari desanya. Newton menjadi murid terpandai di angkatannya, namun terpaksa berhenti sekolah karena dipanggil pulang untuk mengurusi lahan keluarga oleh ibunya saat usia 12 tahun. Sang ibu kembali ke kampungnya dengan mengajak serta Newton sebab sang suami baru saja meninggal. Newton pun kembali tinggal bersama sang ibu serta tiga adik tirinya.

Namun tampaknya misi sang ibu agar Newton menyukai pertanian tak berhasil. Yang dia temukan di sawah hanyalah sesuatu yang monoton. Tak lama, Newton kembali sekolah dan lulus di usia 18 tahun. Atas saran pamannya yang telah melihat kecerdasan sang ponakan, Newton melanjutkan kuliah di Trinity College Universitas Cambridge pada tahun 1661 dengan mengambil program kerja sambil kuliah dan meraih gelar pada 1665. Dua tahun kemudian, Newton kembali ke Cambridge sebagai pendidik. Ia kemudian meraih gelar Master of Arts pada 1669, sebelum genap 27 tahun.

Semasa kuliah, Newton telah gandrung mempelajari sains yang lebih mutakhir kala itu. Dia menuliskan seputar pertanyaan-pertanyaan filosofisnya. Oleh mentornya Isaac Barrow, Newton digambarkan “sangat muda, tetapi sangat jenius dan mahir alm matematika”.

Ketika Barrow mundur dsri jabatan Lucasian Professor of Mathematics di Cambridge, Newton menduduki posisi tersebut. Berkat ketekunan belajarnya, Newton dikenal dengan teori-terori di bidang optik, gerak, kalkulus, gravitasi, dan lain-lain. Pada 1705, dia diganjar gelar tertinggi “kesatria” dari Queen Anne of England hingga disematkan Sir di depan namanya. Newton menjadi ilmuwan kedua yang mendapat gelar tersebut, setelah Francis Bacon.

Isaac Newton, si Jenius yang Dianggap Aneh

Dalam Ngaji Filsafat tema 'Para Genius' edisi Isaac Newton, Fahruddin Faiz memaparkan jejak hidup sang fisikawan. Dikisahkan Fahruddin, pernah suatu kali tetangganya merasa risih pada laku aneh Newton hingga si tetangga mengadukannya pada penguasa setempat. Namun, saat mengetahui bahwa orang yang diadukan itu adalah Newton, seorang ilmuwan yang telah diganjar penghargaan tertinggi dari kerajaan Inggris, maka penguasa tidak berani bertindak.

Layaknya ilmuwan, Newton mempertanyakan dan merenungi banyak hal. Sebagai gambaran, saat melihat busa sabun saja, Newton tampak seperti melihat sesuatu hal menakjubkan. Fahruddin mencontohkan mikrofon di hadapannya yang baru jatuh dari dudukannya.

Sudut pandang seorang ilmuwan akan mempertanyakan kenapa mikrofon bisa jatuh, apa yang salah, di mana salahnya, cara memperbaikinya bagaimana, dan seterusnya. Berbeda dengan kita yang bukan ilmuwan, ketika bertemu mikrofon jatuh langsung memasang lagi pada dudukannya tanpa perlu repot memikirkan apa di baliknya.

7 Poin Religiusitas Newton

Berikut adalah 7 petikan bersifat religius dari sekian banyak gagasan Newton, diolah dari pemaparan Fahruddin Faiz dalam Ngaji Filsafat di Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta, Rabu (20/11) serta beberapa sumber internet.

1. He who thinks half heartedly will not believe in god, but he who really thinks has to believe in god. Dia yang berpikir setengah hati tidak akan percaya pada tuhan, tetapi dia yang benar-benar berpikir harus percaya tuhan.

Ungkapan ini rasanya wajar diucapkan seorang ilmuwan. Prinsip dari sains adalah membuktikan suatu dugaan, yang akan mengarahkan bahwa effect/akibat selalu didahului oleh cause/sebab. Alam semesta (akibat) tidak hadir dari ketiadaan, melainkan ada suatu penyebab yang telah mengaturnya sedemikian rupa.

Berjalannya alam dengan hukum-hukumnya memang bisa dijelaskan lewat berbagai cause, namun ada satu cause utama yang tak dikenali dan tak terdefinisikan, yang diidentifikasi sebagai tuhan.

2. Don’t doubt the creator because it is inconceivable that accidents alone could be the controller of this universe. Jangan meragukan sang pencipta karena tidak dapat dibayangkan bahwa kebetulan saja bisa menjadi pengendali alam semesta.

Memang ada konsep big bang yang menjadi muasal dimulainya kehidupan alam semesta. Akan tetapi patut dipertanyakan kenapa manusia lahirnya di Bumi, bukan di planet lain. Apakah hanya kebetulan manusia tinggal di planet yang bisa ditinggali. Atas dasar itulah Newton percaya bahwa ada sosok pemrakarsa dan pengendali alam semesta.

3. This most beautiful system of the sun, planets, and comets, could only proceed from the counsel and dominion of an intelligent and powerful Being. Sistem matahari, planet, dan komet yang paling indah ini, hanya dapat berjalan berdasarkan arahan dan dominasi Makhluk yang cerdas dan kuat.

Kutipan ini berasal dari esainya berjudul 'General Scholium' yang menjadi bab tambahan pada buku Principia edisi kedua (1713). General Scholium ditulis sebagai tanggapan atas kritik pada Principia edisi pertama (1687) yang berisi paparan seputar hipotesisnya sekaligus pandangan keagamaannya. Menurut Newton, sosok pengatur alam semesta ini bukanlah jiwa dari dunia, melainkan berkuasa atas segalanya.

4. In the absence of any other proof, the tumb alone would convince me of God’s existance. Kalau tidak ada bukti lain pun, ibu jari saja akan meyakinkan saya tentang keberadaan Tuhan.

Newton menggambarkan kesempurnaan bentuk manusia lewat fungsi sebuah ibu jari. Jempol sebagai satu bagian penting dari tubuh manusia sangat terasa fungsinya untuk berbagai pekerjaan, dari hal kecil hingha yang berskala besar. Tanpanya, barangkali manusia akan kesulitan memegang segala sesuatu. Pekerjaan mencatat sejarah serta mengembangkan ilmu pengetahuan lewat menulis, akan sulit dilakukan tanpa bantuan ibu jari.

5. Gravity explains the motions of the planets but it cannot explain who sets the planet in motion. Gravitasi menjelaskan gerakan planet tapi tidak bisa menjelaskan siapa yang membuat planet bergerak.

Newton percaya Tuhan tidak seperti yang pandangan deisme yang menurutnya mengumpamakan Tuhan seperti tukang bikin jam, menyetel pada suatu sistem lalu membiarkannya berjalan sendiri. Pada dasarnya, deisme menyatakan bahwa Tuhan ada sebagai suatu penyebab paling awal segala sesuatu, yang bertanggung jawab atas penciptaan alam semesta, tetapi kemudian tidak ikut campur tangan lagi ketika dunia yang diciptakan-Nya berjalan. Menurut Newton, Tuhan selalu intervensi pada alam semesta kapan pun.

6. What we know is a drop, what we don’t know is an ocean. Apa yang kita ketahui hanyalah setetes, yang tidak kita ketahui adalah samudera.

Pandangan ini kira-kira sejalan dengan Alquran surah Al-Kahfi ayat 108 yang menyebut bahwa “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku...”

7. If i have seen further than others, it is by standing upon the shoulders of giants. Kalau aku melihat lebih jauh dibanding orang lain, itu dengan cara berdiri di atas pundak raksasa.

Pernyataan Newton ini merupakan deklarasi kerendahan hati, bahwa kepandaiannya diperoleh atas pandangan-pandangan para orang besar/ilmuwan terdahulu. Ilmu yang dimilikinya bukanlah kehebatan dirinya sendiri, melainkan ada andil orang lain. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.