Akurat Logo

Profil Helmud Hontong, Wakil Bupati Sangihe yang Vokal Tolak Tambang Emas dan Meninggal Dunia di Pesawat

Shalli Syartiqa | 18 Desember 2025, 14:28 WIB
Profil Helmud Hontong, Wakil Bupati Sangihe yang Vokal Tolak Tambang Emas dan Meninggal Dunia di Pesawat

AKURAT.CO Wakil Bupati Kepulauan Sangihe, Helmud Hontong, meninggal dunia secara mendadak pada 9 Juni 2021 di tengah isu penolakan tambang emas di wilayahnya​.

​Sosoknya dikenal luas sebagai politikus yang gigih menentang rencana eksploitasi tambang emas oleh PT Tambang Mas Sangihe, sebuah sikap yang menarik perhatian publik pasca-kematiannya. ​

Kepergiannya yang tiba-tiba dalam penerbangan dari Denpasar ke Makassar memunculkan spekulasi publik terkait penolakannya terhadap tambang tersebut.

Profil Helmud Hontong

​Helmud Hontong, S.E., lahir di Mahengetang, Sulawesi Utara, pada 9 November 1962.

​Ia menjabat sebagai Wakil Bupati Kepulauan Sangihe sejak 22 Mei 2017 hingga tanggal wafatnya pada 9 Juni 2021.

​Helmud Hontong meninggal dunia pada usia 58 tahun saat dalam penerbangan dari Denpasar menuju Makassar.

​Jabes Gaghana adalah Bupati Kepulauan Sangihe yang menjabat bersama Helmud Hontong. ​

Helmud menganut agama Kristen Protestan dan memiliki seorang istri bernama Rahel Sasamu serta seorang putra bernama Geral Imanuel Hontong.

Latar Belakang Pendidikan dan Karier

​Helmud Hontong menghabiskan sebagian besar masa kecil dan pendidikannya di kota Tahuna.

​Ia menyelesaikan sekolah menengah atas pada tahun 1982 dan meraih gelar Sarjana Ekonomi di Manado pada tahun 2004.

Perjalanan karier Helmud Hontong menunjukkan dedikasi yang panjang di dunia politik.

Awal Karier: ​Sebelum terjun ke politik, Helmud pernah bekerja sebagai tukang cukur dan mengembangkan bisnis pangkas rambutnya. ​Ketertarikannya pada politik muncul ketika ia direkrut sebagai penata rambut istri seorang politikus dan anggota parlemen provinsi di Manado.

Anggota DPRD: ​Ia terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe selama dua periode, yaitu dari tahun 2009 hingga 2017. ​Ia menjabat sebagai Ketua Komisi A di DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe pada periode 2009-2014 dan 2017-2022.

Wakil Bupati: ​Pada tahun 2017, ia memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai wakil bupati dan terpilih sebagai Wakil Bupati Kepulauan Sangihe untuk periode 2017-2022.

Partai Politik: ​Helmud Hontong adalah politikus dari Partai Golkar. ​Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Golkar Kabupaten Kepulauan Sangihe periode 2009-2014 dan 2014-2016, serta Sekretaris DPD Partai Golkar Sangihe periode 2016-2021. ​Ia juga menjabat sebagai Ketua Kosgoro Sangihe periode 2016-2021.

Penolakan Terhadap Tambang Emas

​Helmud Hontong sangat vokal menentang rencana pengembangan tambang emas oleh PT Tambang Mas Sangihe (TMS) di Kepulauan Sangihe.

​Menurut pemetaan potensi sumber daya mineral oleh pemerintah, tambang tersebut akan mencakup 42.000 hektar Pulau Sangihe, yang lebih dari setengah luas pulau. ​

Helmud menilai aktivitas pertambangan skala besar tersebut berpotensi merusak ruang hidup masyarakat, mengancam kedaulatan pangan, dan merusak keanekaragaman hayati.

​Pada 21 April 2021, ia secara resmi mengeluarkan surat kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM) untuk mencabut izin perusahaan pertambangan.

​Namun, terdapat perdebatan apakah Helmud benar-benar menolak semua jenis pertambangan atau hanya menolak izin yang diberikan kepada PT Tambang Mas Sangihe, dengan beberapa sumber menyebutkan ia mengusulkan agar wilayah tersebut dijadikan area Community Mining.

​Dua hari setelah kematiannya, Kementerian ESDM mengkonfirmasi surat penolakan tersebut, tetapi menyatakan akan melanjutkan penambangan dengan pengawasan pemerintah.

​Pada 12 Januari 2023, izin penambangan tersebut akhirnya dibatalkan dan dinyatakan melanggar hukum oleh Mahkamah Agung Indonesia.

Kronologi dan Spekulasi Kematian

​Helmud Hontong meninggal dunia secara mendadak pada 9 Juni 2021, dalam penerbangan Lion Air JT-740 dari Denpasar menuju Makassar dalam perjalanan ke Manado.

​Menurut keterangan resmi Lion Air, ia menghadiri pertemuan tahunan seluruh bupati dan wakil bupati di Indonesia sebelumnya dan telah dites negatif COVID-19.

​Tidak lama setelah lepas landas, sekitar pukul 15:40 WIB, ia tiba-tiba batuk dan mulai mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya.

​Awak pesawat segera memberikan pertolongan pertama, termasuk tabung oksigen, dan pilot diinstruksikan untuk mendarat di bandara terdekat, yaitu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar.

​Namun, tim medis di bandara menyatakan ia telah meninggal dunia saat pesawat tiba pada pukul 16:17 WITA.

​Keluarganya, termasuk ajudannya dan keponakannya Engel Hontong, menolak autopsi dan meminta jenazahnya segera dibawa ke Manado dan kemudian ke Tahuna menggunakan kapal.

​Menurut keponakannya, Helmud tidak memiliki riwayat penyakit serius dan kematiannya sangat mendadak. ​Polisi menduga penyebab kematiannya adalah serangan jantung mendadak.

​Namun, tim medis juga menyatakan penyebab kematian belum jelas dan ada kemungkinan faktor lain terlibat. ​

​Hasil autopsi yang dilakukan kemudian menyatakan tidak ada racun di tubuh Helmud Hontong, namun penyebab kematian disebut karena komplikasi penyakit.

​Kematian mendadak Helmud Hontong memicu spekulasi luas di kalangan warganet Indonesia, yang mengaitkannya dengan penolakannya terhadap tambang emas. ​

Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), sebuah LSM Indonesia, mendesak pemerintah untuk menyelidiki kematiannya, menggambarkannya sebagai "tidak biasa dan mencurigakan". ​

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.