Kasus Kekerasan Anak Meningkat, DPR Minta Pemerintah Perkuat Pencegahan di Sekolah

AKURAT.CO Meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak, termasuk di lingkungan pendidikan, harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan.
Anggota Komisi XIII DPR, Anisah Syakur, meminta pemerintah memperkuat langkah antisipasi sekaligus memastikan pendampingan psikologis dan rehabilitasi bagi para korban.
Anisah menegaskan bahwa penyelesaian setiap kasus kekerasan harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup dukungan psikologis, hukum, dan sosial hingga korban benar-benar pulih.
Namun, ia menilai pendampingan saja tidak cukup tanpa adanya langkah pencegahan yang jelas dan terukur.
“Pertanyaannya, apa bentuk pendampingan yang dilakukan sampai tuntas? Kita harus memastikan korban mendapatkan perlindungan penuh, bukan hanya saat kasus muncul, tetapi sampai proses pemulihan selesai,” ujarnya dalam RDP Komisi XIII dengan LPSK, Komnas Perempuan, dan KPAI di Gedung DPR, Jakarta, dikutip Rabu (26/11/2025).
Ia menilai lemahnya upaya antisipasi membuat kasus kekerasan terhadap anak terus berulang.
Karena itu, Anisah mendesak KPAI memastikan program pencegahan di sekolah dan lingkungan anak berjalan efektif.
“Apakah tidak ada program antisipasi yang benar-benar konkret? Kalau hanya menunggu ada korban, maka kekerasan akan terus terjadi di mana-mana,” tegasnya.
Menurut Laporan Tahunan KPAI, terdapat 2.057 pengaduan sepanjang 2024, di mana 954 kasus telah masuk tahap terminasi.
Undang-Undang Perlindungan Anak Nomor 35 Tahun 2024 juga menegaskan bahwa satuan pendidikan wajib melindungi anak dari kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual, maupun bentuk kekerasan lainnya.
Anisah turut menyoroti lemahnya implementasi regulasi perlindungan anak di sekolah, meski berbagai aturan sudah diterbitkan. Ia meminta pemerintah memperjelas langkah konkret di lapangan.
“Regulasi sudah ada, tetapi apa saja langkah nyatanya? Apa yang membuat program pencegahan tidak berjalan efektif? Ini yang perlu dijelaskan,” ujarnya.
Ia menegaskan perlindungan anak harus menjadi prioritas negara.
“Yang dibutuhkan adalah program nyata, memastikan sekolah menjadi ruang aman bagi anak-anak, dan memastikan tidak ada lagi korban berikutnya,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








