Ancam Wisata Labuan Bajo, Komisi VII DPR Desak Proyek Pulau Padar Dihentikan

AKURAT.CO Rencana pembangunan proyek pariwisata berskala besar di Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menuai penolakan masyarakat. Sebab, proyek tersebut dinilai mengancam kelestarian alam dan daya tarik utama wisata Labuan Bajo.
Anggota Komisi VII DPR RI, Kaisar Abu Hanifah, mendesak pemerintah untuk menghentikan proyek tersebut.
Menurutnya, pengembangan pariwisata tidak bisa hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi semata. Harus ada prinsip keberlanjutan lingkungan dan pelestarian budaya.
Baca Juga: Wisatawan Dilarang Masuk Pulau Padar, Balai TN Komodo Bantah Ada Pengusiran
"Jika di Pulau Padar dibangun proyek pariwisata yang merusak keindahan alam, maka proyek itu harus dihentikan. Jangan sampai karena alasan ekonomi, justru kita mengorbankan pesona alam yang menjadi daya tarik utamanya," kata Kaisar di Jakarta, Jumat (8/8/2025).
Berdasarkan informasi, proyek tersebut mencakup pembangunan 619 unit fasilitas, terdiri dari 448 villa serta berbagai sarana lain seperti restoran, gym, spa, kapela pernikahan, dan fasilitas pendukung lainnya.
Menurutnya, skala pembangunan ini akan mengubah lanskap alami Pulau Padar yang selama ini dikenal sebagai ikon wisata NTT, bahkan diabadikan pada pecahan uang Rp50.000 edisi 2016.
Dia mengatakan, Pulau Padar terkenal dengan pemandangan bukit hijau yang berpadu dengan laut biru, serta spot pendakian yang menyuguhkan panorama tiga teluk dengan pasir pantai berwarna putih, hitam, dan merah muda.
Baca Juga: PGN Dukung Pengembangan Wisata Berkelanjutan Lewat Program CSR Bersama UGM di Kawasan Mandeh
"Bayangkan jika keindahan yang mempesona itu tergantikan oleh ratusan vila dan bangunan lain. Keaslian alam akan hilang, dan pada akhirnya membunuh potensi pariwisata kawasan tersebut. Ekosistem yang indah tidak boleh dikorbankan demi proyek yang mengabaikan kelestarian lingkungan," jelasnya.
Selain itu, Pulau Padar merupakan salah satu habitat penting komodo. Pembangunan berskala besar dikhawatirkan akan mengusir satwa endemik tersebut dari lingkungan alaminya.
"Ekosistem komodo yang selama ini terjaga dengan baik akan terancam jika pembangunan ini tetap dipaksakan. Begitu habitat mereka terganggu, kita berisiko kehilangan komodo dari Pulau Padar," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 4Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







