Akurat Logo

Pancasila Kekuatan Utama Cegah Konflik Horizontal Akibat Intoleransi

Arief Rachman | 6 Oktober 2024, 11:00 WIB
Pancasila Kekuatan Utama Cegah Konflik Horizontal Akibat Intoleransi

AKURAT.CO Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Leonard Chrysostomos Epafras, menegaskan, Pancasila merupakan kekuatan utama yang dapat menjadi penengah dalam konflik horizontal akibat intoleransi di Indonesia.

Leonard menyampaikan bahwa Indonesia telah banyak belajar dari berbagai insiden yang dipicu oleh isu keagamaan.

Ia menyoroti, konflik berlatar belakang agama di Indonesia tidak hanya melibatkan agama mayoritas, tetapi juga agama minoritas. Leonard menekankan bahwa radikalisme tidak dapat diasosiasikan dengan satu agama tertentu, misalnya Islam.

Leonard mencontohkan konflik di Ambon, di mana terdapat kombatan beragama Kristen yang menggunakan Alkitab sebagai pembenaran tindak kekerasan.

Baca Juga: Rektor Unisma ke Ratusan Peserta AGTC 2024: Jadilah Insan Kamil yang Kompetitif dan Komparatif

"Radikalisme tidak hanya terjadi dalam Islam saja. Ada juga kombatan di Ambon yang beragama Kristen dan mendapatkan doktrin menggunakan Alkitab untuk membenarkan kekerasan yang dilakukan," ujarnya, Sabtu (5/10/2024).

Padahal, dalam ajaran Kristen, umat diajarkan untuk mengasihi sesama.

Lebih lanjut, Leonard mengingatkan, semua manusia, terlepas dari agama dan latar belakangnya, diciptakan oleh Tuhan yang sama. "Kita harus menyadari bahwa kita adalah bagian dari keluarga besar kemanusiaan," tambahnya.

Menurut Leonard, akar dari banyak kasus intoleransi di Indonesia sering kali bukan perbedaan agama itu sendiri, melainkan relasi mayoritas-minoritas atau kecemburuan sosial.

Ia memberi contoh kasus di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana warga pendatang, yang kebanyakan beragama Islam dari Jawa Timur dan Makassar, sering kali memiliki usaha, etos kerja, dan akses permodalan yang lebih baik dibandingkan dengan penduduk setempat yang beragama Kristen.

Baca Juga: Nikita Mirzani Dituding Lakukan Penelantaran Anak, Kakak Bilang Begini

Leonard menjelaskan, ketimpangan yang awalnya bersifat ekonomi ini sering kali diperburuk dengan dikait-kaitkan dengan perbedaan agama, seolah menjadi pembenaran atas kecemburuan sosial.

Sebagai solusi, Leonard menekankan pentingnya peran Pancasila sebagai jembatan untuk mengatasi perbedaan suku, agama, dan ras di Indonesia.

Ia berharap agar masyarakat lebih bijaksana dalam menghadapi isu-isu yang dapat memicu polarisasi dan gesekan horizontal, serta kembali kepada nilai-nilai Pancasila.

"Jangan sampai kita mundur ke era sebelum Pancasila, di mana kita tidak memiliki konsep bersama. Meskipun Pancasila dapat ditafsirkan dengan berbagai cara, ia tetap menjadi landasan utama kita dalam menjaga persatuan dan mewujudkan Indonesia yang seutuhnya," pungkas Leonard.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.