Tradisi Kearifan Lokal Mampu Dorong Moderasi Beragama dengan Kedepankan Toleransi

AKURAT.CO Meskipun Idulfitri 1445 Hijriah telah usai, semangat persaudaraan dan kerukunan yang didapat setelah merayakannya masih terasa.
Ketupat, makanan yang identik dengan hari raya ini ternyata menyimpan makna filosofis tentang semangat persatuan dan kesatuan Indonesia.
Artinya tradisi kearifan lokal mampu mendorong moderasi beragama dengan mengedepankan toleransi.
Membahas relevansi budaya dan tradisi kearifan lokal dengan persaudaraan sesama manusia, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat, Dr. H. R. Iip Hidajat, menjelaskan bahwa kata ketupat memiliki banyak arti yang mendalam.
"Ketupat berasal dari kata kupat dan memiliki arti ganda yakni ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Empat tindakan yang dimaksudkan antara lain luberan (melimpahi), leburan (melebur dosa), lebaran (pintu ampunan terbuka lebar) dan laburan (menyucikan diri)," jelasnya, melalui keterangan yang diterima Selasa (23/4/2024).
Baca Juga: Beda Pilihan Politik Bukan Alasan Pecah Belah, Persatuan dan Toleransi Kunci Jaga Bangsa
Menurut Iip, ketupat pernah digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa.
Selain itu, ketupat juga telah membudaya sebagai sarana penyambung tali silaturahmi dan persaudaraan.
Maka dari itu, sangat erat kaitannya antara ketupat dengan anjuran silaturahmi dalam Islam.
Iip yang juga akademisi dan pemerhati isu toleransi antar golongan juga menggarisbawahi proses akulturasi budaya ketupat dengan ajaran Islam di Indonesia.
Dia mengatakan, produk dari akulturasi tersebut memiliki pengaruh positif pada kerukunan masyarakat Indonesia.
"Terlebih lagi bahwa di Indonesia, ketika suatu agama merayakan hari besar keagamaannya maka seluruh unsur masyarakat turut merasakan kebahagiaan dan keberkahannya," ujarnya.
Mengingat beragamnya hari besar keagamaan yang ada di Indonesia, Iip berujar, jika masing-masing wilayah di Indonesia punya ciri khas dalam menyemarakkan perayaannya.
Misalnya di Kuningan, Jabar, ada upacara tahunan keagamaan dari agama kepercayaan yang dikenal dengan istilah Seren Taun.
Upacara Seren Taun ini adalah bentuk syukur masyarakat setempat atas segala macam keberkahan yang berlangsung selama setahun penuh, terutama pada sektor pertanian yang dihitung berdasarkan kalender dari kebudayaan Sunda.
Baca Juga: Menghidupkan Esensi Piagam Madinah dalam Semangat Toleransi di Indonesia
"Dalam pelaksanaannya, Upacara Seren Taun sudah menjadi agenda tahunan dan daya tarik pada aspek kebudayaan dan kepercayaan bagi para wisatawan yang mengunjungi wilayah Kuningan, Jawa Barat," ujar Iip.
Menurutnya, dari upacara ini dapat terpancar bahwa tradisi lokal mampu mendorong modernisasi beragama dengan mengedepankan rasa toleransi melalui perwujudan syukur kepada Sang Pencipta.
Rasa syukur atas segala keberkahan dan rezeki yang diterima serta kenyamanan dalam hidup berdampingan dan kedamaian adalah maksud yang ingin dicapai dari Upacara Seren Taun.
"Kita juga perlu melihat fenomena sosial yang ada, melalui Upacara Seren Taun yang dilaksanakan secara rutin, menandakan adanya penerimaan dan toleransi yang tinggi pada wilayah Kuningan (Paseban), Jawa Barat. Kendati tidak semua masyarakatnya menganut agama kepercayaan," ungkap Iip.
Dia berpendapat, walaupun di banyak wilayah Indonesia belum tentu ada budaya atau kearifan lokal yang khusus dilakukan saat Idulfitri dalam rangka membendung intoleransi dan radikalisme.
Namun, budaya yang umum dilaksanakan seperti memberikan parsel atau bingkisan Lebaran serta mengundang masyarakat untuk berkunjung atau dikenal dengan istilah open house di saat Idulfitri, menjadi salah satu kebiasaan yang dapat memupuk rasa kebersamaan dan deradikalisasi di masyarakat.
Iip berangan-angan agar perayaan Idulfitri yang dipadukan dengan budaya lokal sesuai dengan daerah masing-masing dapat meningkatkan semangat toleransi antargolongan masyarakat.
"Perayaan Idulfitri, di manapun tempatnya dan bagaimanapun tradisinya selayaknya menjunjung tinggi kebersamaan dalam hal kebaikan dan muhasabah diri. Kesemuanya diniatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik sesuai perintah agama serta selalu menjalin silaturahmi antarsesama manusia. Dengan begitu, semangat toleransi akan tetap terjaga," pungkas Iip memaparkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 2Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Gara-gara Kembang Api di Hotel Pemain Persib, Persija Disanksi Tak Gelar 2 Laga di Kandang
- 5Kalender Jawa 18 September 2026: Watak Weton Jumat Pon, Bijak dan Mudah Bergaul
- 6Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 7Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 8Prediksi Skor Brentford vs Chelsea 19 September 2026: Duel Ketat, Apakah Akan Berakhir Imbang?
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag







