Akurat Logo

Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Integrasi Teknologi dalam Kembangkan Ekonomi Syariah di Indonesia

Gerdiansyah | 23 November 2023, 23:33 WIB
Ganjar Pranowo Tekankan Pentingnya Integrasi Teknologi dalam Kembangkan Ekonomi Syariah di Indonesia


AKURAT.CO - Calon Presiden Ganjar Pranowo menyoroti urgensi integrasi teknologi untuk memajukan ekonomi syariah di Indonesia dengan menyampaikan bahwa pembangunan digital nasional harus menjadi fokus utama negara ini dalam waktu mendatang.

Ganjar menekankan bahwa mengingat ketertarikan masyarakat terhadap kemajuan kecerdasan buatan (AI), generasi muda Indonesia tidak dapat menghindari transformasi yang terus berkembang dalam teknologi digital.

Dia menilai Indonesia memiliki keunggulan dalam pengembangan digital nasional berkat bonus demografi yang dimilikinya. Namun, Ganjar menyoroti kebutuhan untuk memastikan bahwa bonus demografi ini dapat menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.

Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) 2023 pada Rabu (8/11/2023), Ganjar menekankan keterkaitan antara penduduk Muslim Indonesia, yang mencapai 87% atau 238 juta jiwa, dengan dunia digital. Ia mempertanyakan tingkat kesiapan umat Muslim dalam menghadapi era digital.

Menurut data yang diberikan oleh Ganjar, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan 5,7 jam per hari menggunakan ponsel, sebuah angka yang lebih tinggi daripada penduduk Thailand.

Baca Juga: Ganjar Paling Peduli Isu Maritim, Siapa Capres Paling Tidak Peduli?

Ganjar juga menyentuh potensi besar ekonomi digital di Indonesia, dengan transaksi digital mencapai Rp475,3 triliun dan potensi ekonomi digital yang diperkirakan mencapai Rp4.531 triliun.

"SDM digital kita harus meningkat, dan kita harus terbiasa dengan industri digital serta penggunaannya," ucap Ganjar, menegaskan pentingnya kesiapan SDM dalam menghadapi perubahan ini.

Lebih lanjut, Ganjar juga menyoroti ekonomi berbasis syariah. Sebagai pasar konsumen Halal terbesar di dunia, Indonesia memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ekonomi syariah global.

Namun demikian, Ganjar menyoroti paradoks bahwa Brazil, sebuah negara dengan populasi Muslim yang tidak mayoritas, masih memegang gelar sebagai eksportir pangan halal terbesar di dunia.

Dalam upayanya untuk meningkatkan kinerja sektor ini, Ganjar mengusulkan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia dengan mengadopsi standar ekspor global.

Dengan perspektifnya ini, Ganjar Pranowo menekankan signifikansi integrasi antara kemajuan teknologi dan pemahaman ekonomi syariah untuk memperkuat posisi Indonesia di panggung global.

Baca Juga: Muhammadiyah Yakin Ganjar-Mahfud Tak Akan Khianati Konstitusi

Kemajuan Teknologi Digital Mendorong Ekosistem Ekonomi Syariah

Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, menyatakan bahwa kemajuan teknologi digital menjadi pendorong utama untuk membangun ekosistem ekonomi syariah yang lebih handal.

Oleh karena itu, penguatan sektor ekonomi digital menjadi salah satu strategi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya saat Seminar Ekonomi Syariah dalam rangka peringatan Hari Jadi PT Pos Indonesia yang ke-277 dan Hari Jadi Kliring Berjangka Indonesia yang ke-39 di Pos Bloc, Jakarta Pusat, Rabu (23/08/2023).

Menkominfo mengungkapkan bahwa inklusi sosial merupakan prasyarat yang harus dipenuhi sebelum mencapai inklusi finansial dalam perekonomian syariah.

Integrasi unsur sosial dan komersial dalam ekosistem ekonomi syariah dapat diwujudkan melalui pemanfaatan teknologi digital.

Baca Juga: Firli Bahuri Tersangka, Ganjar: Sikat Habis!

Menurut Budi Arie, pertumbuhan ekonomi syariah juga dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi digital di Indonesia.

Ia merujuk pada data Google, Temasek, dan Bain yang memperkirakan nilai potensial ekonomi digital Indonesia pada tahun 2025 mencapai USD 146 miliar atau sekitar Rp. 2.097 triliun.

"Sementara itu, Kementerian Perdagangan memproyeksikan bahwa nilai potensial ekonomi digital Indonesia pada tahun 2030 dapat mencapai USD 315,5 miliar atau sekitar Rp. 4.531 triliun," ujar Budi Arie.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

G
Reporter
Gerdiansyah
A