Imbas Musim Kemarau, Benarkah Indonesia Akan Inflasi Pangan?

AKURAT.CO Indonesia kini masih dilanda El Nino, fenomena iklim yang dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah hingga menyebabkan kemarau yang panjang dan cuaca ekstrem.
Selain kemarau dan cuaca ekstrem, tak menutup kemungkinan fenomena El Nino juga dapat berpengaruh pada inflasi pangan di Indonesia. Hal ini karena kemarau yang panjang dapat berpengaruh pada panen petani sehingga berpotensi mengerek harga.
Fenomena El Nino yang melanda Indonesia sendiri telah mendapat perhatian khusus dari Presiden Jokowi. Hal ini terlihat melalui rapat terbatas yang dipimpin Presiden Jokowi pada 3 Oktober kemarin.
Baca Juga: Pemerintah Diminta Konsen Soal Risiko Inflasi Pangan
Rapat terbatas itu dihadiri oleh beberapa jajaran seperti Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati; Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar; Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto; dan Wakil Menteri Pertanian, Harvick Hasnul Qolbi.
Dalam rapat terbatas itu, Presiden Joko Widodo membahas berbagai aspek berkaitan dengan El Nino, termasuk masalah kekeringan, ketersediaan air bersih, situasi pertanian serta antisipasi dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Kepala BMKG, perkembangan kondisi El Nino dari data satelit terkini diprediksi masih akan berlangsung hingga akhir Oktober. Kemudian, pada November, akan terjadi transisi dari musim kemarau ke musim hujan.
Baca Juga: FAO Peringatkan Lockdown dan Panic Buying Picu Inflasi Pangan Dunia
El Nino diprediksi akan tetap berlangsung hingga akhir tahun, Dwikorita menekankan bahwa ada harapan dengan masuknya angin monsun dari arah Asia mulai November.
Meski Indonesia dilanda fenomena El Nino namun inflasi pangan Indonesia relatif lebih rendah dibandingkan inflasi negara lainnya. Hal ini sebagaimana disampaikan Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti.
"Inflasi pangan sebesar 2,51 persen ini termasuk yang terendah di antara negara-negara G20," katanya dalam paparan rilis BPS, Senin (2/10/2023).
Menurut data BPS, inflasi pangan Indonesia hanya kalah rendah dari Brasil 1,09 persen, Saudi Arabia 0,36 persen dan China deflasi 1,70 persen. Sementara itu, Amerika Serikat dan Zona Euro mencapai 4,3 persen dan 11,60 persen.
Adapun, inflasi pangan negara G20 tertinggi dipimpin Argentina sebesar 133 persen, Turki 72,86 persen dan Inggris 13,60 persen pada September 2023. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 4Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 7Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang






