Akurat Logo

Kisah Hidup Bamsoet: Dari Wartawan, Penjual Telur Dan Kini Ketua MPR

Aris Rismawan | 17 Juni 2023, 15:08 WIB
Kisah Hidup Bamsoet: Dari Wartawan, Penjual Telur Dan Kini Ketua MPR

AKURAT.CO, Bambang Soesatyo menceritakan kisah hidupnya dari mulai menjadi wartawan, penjual telur dan sayuran di pasar induk Kramat Jati, pengusaha tambang batubara, anggota DPR yang membongkar skandal Bank Century, ketua Komisi III DPR, ketua DPR, dan kini menjabat ketua MPR. Siapa sangka, berbagai pencapaian tersebut didapatkan Bamsoet, demikian Bambang Soesatyo disapa, setelah menghadapi berbagai 'kegagalan'.

"Saya berasal dari keluarga tentara yang hidup pas-pasan. Dari SD, SMP hingga SMA semua sekolah negeri karena SPP nya sangat murah. Lulus SMA 14 Jakarta, saya inginnya melanjutkan pendidikan kedokteran di Universitas Indonesia namun gagal dan akhirnya masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Jayabaya dengan menjual beberapa petak sawah di kampung, peninggalan ayah saya yang sudah mendahului saat saya masih duduk di SMP," kata Bamsoet mengawali cerita.

Selama kuliah Bamsoet tinggal bersama beberapa senior aktivis mahasiwa antara lain mantan Menteri Kehutanan MS Kaban, Bursah Zarnubi, Eggy Sujana dan lain-lain. Pernah suatu malam, ia makan nasi goreng bersama. Ketika membayar saling tengok tidak satupun yang punya uang.

"Akhirnya saya ambil diam-diam sepatu kets baru milik MS Kaban untuk bayar nasi goreng tersebut. Kejadian ini menjadi pelajaran hidup bahwa menjaga pertemanan sangat penting. Teman merupakan anak tangga menuju kesuksesan," ujar Bamsoet di acara Q&A edisi 'BEB! Bamsoet Emang Beda'.

Setelah lulus kuliah Bamsoet berkarir sebagai wartawan. Salah satunya di Harian Prioritas milik Surya Paloh dengan Panda Nababan sebagai pemimpin redaksi dan Derek Manangka (almarhum) sebagai redaktur pelaksana.

Selama menjadi wartawan, ia banyak bertemu para tokoh politik dan pengusaha seperti Aburizal Bakrie, Akbar Tandjung, Agung Laksono, Siswono Yudohusodo, Fadel Muhammad, dan lain-lain. Relasi itulah yang kemudian mengantarkan dirinya aktif di Partai Golkar.

Semasa menjadi wartawan, Bamsoet pernah mendapatkan penugasan meliput pembukaan Pasar Induk Kramat Jati. Dari situ ia mengetahui pedagang pasar mendapatkan pasokan sayuran, telur, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya dari para pedagang di Bekasi dan berbagai kota pinggiran Jakarta. Lantas ia pun menawarkan diri menjadi pemasok.

Kepala Pasar Induk Kramat Jati menyetujui sepanjang harganya lebih murah dari pemasok lain. Dengan menggunakan kendaraan pick up sewaan, setiap pagi dini hari Bamsoet bolak-balik dari Bekasi ke Pasar Induk Kramat Jati.

Karena Harian Prioritas tempat bekerjanya di bredel, untuk tetap bertahan hidup Bamsoet memberanikan diri mendirikan majalah Info Bisnis. Di zaman itu, mendirikan media massa sangat sulit karena salah satu syaratnya harus memiliki deposit atau jaminan Rp 1 miliar yang tidak boleh dipakai selama satu tahun penerbitan.

Berkat hubungan baik dengan para pengusaha yang pernah menjadi narasumber, antara lain Aburizal Bakrie, Agung Laksono, dan Fadel Muhammad, kesulitan tersebut bisa diatasi Bamsoet.

Karir di politik juga ditempuh Bamsoet dengan jalan yang tidak mudah. Ia harus mengalami empat kali gagal nyaleg dan baru yang kelima berhasil lolos ke Senayan. Dimulai kali pertama di era Orde baru pada Pemilu 1992 dengan mendapatkan nomor urut 18, Pemilu 1997 dengan nomor urut 8, Pemilu 1999 dengan nomor urut 4 serta Pemilu 2004 dengan nomor urut 2. Barulah di Pemilu 2009, dengan nomor urut 1, ia berhasil menjadi anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah VII (Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Banjarnegara).

"Kegagalan pada berbagai Pemilu tidak membuat saya putus asa. Justru dari kegagalan itulah, saya kemudian memiliki waktu untuk mengembangkan berbagai usaha. Salah satunya HPH di Membramo Papua dan tambang batubara di Kalimantan yang kemudian membuat saya memiliki pendapatan diatas rata-rata.  Tanpa perlu ada yang ditutupi serta tampil apa adanya" jelas Bamsoet.

Semangat keterbukaan dan tampil apa adanya yang membuat Bamsoet hidup ringan tanpa perlu bersandiwara yang menyiksa diri sendiri dan mengelabui publik. Berbagai hobi mulai dari kendaraan hingga satwa yang dia pelihara, didapat dengan cara yang legal.

"Untuk apa berpura-pura. Justru dengan terbuka apa adanya, saya bisa tenang menjalani kehidupan. Termasuk juga tenang menjalankan pengabdian sebagai politisi," katanya.

Hingga kini Bamsoet masih berprofesi sebagai wartawan yang selalu mencatat, mencermati, mengalisis dan menuangkannya dalam bentuk tulisan, opini, dan catatannya sebagai ketua MPR tersebar di berbagai media cetak maupun online. Ada lebih dari 30 judul bukunya sudah diterbitkan. Hobinya adalah menjadi pengusaha yang selalu mencari tatangan dan peluang. Menjadi politisi sebagai jalan pengabdian sekaligus wujud tanggung jawab sebagai putra dari ibu Pertiwi.

"Karena jika hanya menjadi pengusaha, saya hanya bisa membantu sedikit orang. Namun dengan menjadi politisi, saya berkesempatan membantu lebih banyak orang," pungkas Bamsoet.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
A