Kemendikbud Dorong Kreativitas Pembelajaran Siswa melalui Program INOVASI

AKURAT.CO, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia terus berupaya menciptakan lahan agar kreativitas dapat tumbuh dan berkembang pada peserta didik, tenaga pendidik, serta tenaga kependidikan melalui kebijakan Merdeka Belajar. Sebab, kreativitas dianggap dapat mendorong peserta didik untuk selalu berkreasi.
Sejak 2016, Kemendikbud bersama Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia dan program INOVASI yang digagas bersama dengan Pemerintah Australia terus berupaya menemukan dan memahami cara-cara kreatif untuk meningkatkan hasil pembelajaran siswa kelas awal di berbagai daerah di Indonesia, khususnya dalam bidang literasi, numerasi, serta pendidikan inklusif.
Dalam melaksanakan Program INOVASI, Totok Suprayitno, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) mengungkapkan dibutuhkan kreativitas yang mendorong setiap guru di sekolah sasaran untuk berkreasi. Ia optimis kualitas pendidikan di Indonesia mampu ditingkatkan melalui INOVASI.
Lebih lanjut, menurut Totok, berbeda dengan sekolah lainnya menunggu petunjuk pemerintah untuk menjalankan proses pendidikannya, sekolah garapan INOVASI justru terus selalu berkreasi untuk menemukan cara yang paling tepat. Target dari Program INOVASI adalah menjadi sekolah-sekolah yang dapat diadaptasi cara pembelajarannya oleh sekolah lainnya di seluruh Indonesia.
"Yang selalu kita anggap mustahil mengubah kultur belajar dari yang kaku, yang serba ikuti petunjuk menjadi sebuah proses belajar yang penuh dengan kreativitas oleh guru. Matematika yang momok dan menjadi menyenangkan, literasi yang sulit dicapai dari berbagai tes, ternyata bisa ditingkatkan dengan cara-cara yang bisa dimunculkan oleh guru-guru yang bersangkutan," kata Totok Suprayitno pada bincang daring “Kemitraan untuk Pembelajaran” yang diselenggarakan atas kerja sama Kemendikbud dengan Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) di Jakarta, dikutip dalam keterangan tertulisnya Selasa (18/5/2020).
Konselor Pembangunan Manusia Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia Michelle Lowe memberikan apresiasi atas keberhasilan program INOVASI. Menurutnya, Program INOVASI merupakan kemitraan yang sangat penting antara Pemerintah Indonesia dan Australia untuk memajukan metode pembelajaraan siswa, terutama dalam bidang literasi, numerasi, serta pendidikan inklusif.
“Kolaborasi adalah kunci dalam peningkatan kualitas pendidikan. Bekerja langsung dengan sekolah, guru, dan pejabat pemda, INOVASI bertujuan untuk memperkuat kualitas pengajaran dan pembelajaran di Indonesia,” tutur Michael Lowe.
Sementara itu, Direktur Program INOVASI, Mark Heyward mengungkapkan bahwa dirinya beserta tim sangat bangga melihat hasil-hasil yang positif dan sangat menggembirakan. Salah satu hasil yang sangat membanggakan contohnya adalah meningkatkan kemampuan literasi bagi kelompok siswa kelas rendah.
“Di NTT misalnya, data INOVASI menunjukkan bahwa kemampuan literasi siswa meningkat dari 22 persen menjadi 53 persen. Pada angka hasil belajar siswa, kegiatan kemitraan juga telah berhasil memperkecil jarak antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa lainnya, yang tadinya 17 persen menjadi 4 persen. “Hasil-hasil ini memberikan inspirasi bagi saya, dan saya kira bagi kita semua,” terang Mark.
Keberhasilan kerja sama dalam Program INOVASI ini juga diapresiasi oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud, Iwan Syahril. Ia mengatakan bahwa Kemendikbud menginginkan adanya ekosistem yang kuat sebagai upaya peningkatan kualitas pendidikan.
“Arahan dari Presiden adalah kita harus kerja keras, kerja cepat, kerja produktif, tapi jangan lupa fokusnya adalah outcome. Outcome tersebut Mas Menteri terjemahkan sebagai hasil belajar murid. Kita masih perlu kerja keras yang lebih fokus lagi, dan visi Merdeka Belajar adalah visi yang fokus kepada murid,” ujar Iwan.
Sejak tahun 2018, INOVASI bersama 21 kemitraannya yang terdiri atas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK), NGO (Organisasi Non-Pemerintah), dan institusi lainnya berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memajukan pendidikan dan meningkatkan hasil belajar siswa-siswa di Indonesia, khususnya di empat provinsi mitra INOVASI, yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur dan Kalimantan Utara.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





