Akurat

Adakah Istilah Khilafah Dalam Alqur'an? Begini Penjelasan Buya Yahya

Khaerul S | 14 Oktober 2019, 13:05 WIB
Adakah Istilah Khilafah Dalam Alqur'an? Begini Penjelasan Buya Yahya

AKURAT.CO, Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Jawa Barat, Yahya Zainul Ma'arif atau yang akrab disapa Buya Yahya memberikan penjelasan mengenai istilah khilafah yang belakangan sering dikaitkan dengan organisasi terlarang, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Dalam video yang diunggah channel Youtube Buya Yahya, pada Jumat (11/10/2019), seorang santri membacakan pertanyaan dari salahsatu peserta pengajian Buya Yahya mengenai keberadaan istilah Khilafah dan istilah ummat Islam di dalam Alquran. 

"Ada yang bertanya ke saya, cuma saya bingung bagaimana jawabnya. Sebab saya juga masih awam. Kata teman saya, sebagaimana yang ia dengar dari seorang tokoh bahwa di dalam Alquran tidak ada istilah Khilafah Islamiyah dan tidak ada juga istilah ummat Islam adanya adalah ummatan wasathan atau umat yang yang moderat. Benarkah begitu Buya?," kata Santri tersebut membacakan pertanyaan. 

Mendapat pertanyaan demikian, Buya Yahya berharap kepada semua pihak agar hendaknya tidak alergi dengan istilah yang ada kaitannya dengan Islam, termasuk istilah khilafah. 

"Kadang-kadang kita ini nggak adil. Yang pentingkan isinya. Lho, sudah bilang yang penting isinya, di saat disebut masalah khilafah kok jadi alergi?," kata Buya Yahya. 

Buya Yahya mengakui memang tidak ada istilah khilafah, khususnya khilafah dalam makna siyasah atau politik di dalam Alquran. Adapun ayat yang menyebutkan inni ja'ilun fil ardhi khalifah, bukanlah khilafah dalam arti siyasah tersebut. Kata dia, ayat tersebut memiliki makna yang sangat luas, yang berkaitan dengan tugas dan fungsi manusia di muka bumi. 

"Inni ja'ilun fil ardhi khalifah menjadikan manusia melestarikan semesta. Dengan apa? Dengan keahliannya bercocok tanam, dengan keahlian tekhnologi, dalam keahliannya mengatur negara juga. Itu lebih luas lagi khalifah. (istilah khilafah) ada dalam alquran tapi maknanya lebih luas dari urusan siyasah, urusan politik," tutur Buya Yahya. 

Buya Yahya sendiri tidak setuju dengan seruan negara khilafah seperti yang digaungkan oleh HTI. Namun, ia tidak setuju jika penolakan terhadap HTI membuat sebagian kalangan alergi dengan istilah khilafah. Sebab, istilah khilafah bagi dia merupakan kosa kata yang ada dalam kamus Islam. 

"Memang ada yang menyeru khilafah tapi tidak sesuai dengan aqidah kita. Memang ada sebagian kelompok yang menyeru khilafah, tapi secara aqidah saya tidak setuju. Tidak sesuai itu. Saya punya aqidah tapi nggak itu. Cuma istilah itu tidak saya pangkas, yang saya pangkas adalah program kharokahnya itu," ujar Buya Yahya. 

"Atau paling tidak saya tidak mendukung, kalau ada satu yang menyeru tentang khilafah atau yang menyeru tentang imamah, tapi kalau memang yang tidak kita setujui tentang aqidahnya, ya aqidahnya saja. Cuma masalah istilah ini, nggak boleh kita ributkan urusan istilah," tambahnya. 

Lebih lanjut, ia menjelaskan mengenai awal mulanya istilah khilafah sering digunakan oleh ummat Islam terdahulu. Kata dia, saat itu Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, dan para sahabat sedang berembug mencari penggantinya. 

Kala itu, terjadi perselisihan antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin mengenai sosok pengganti Nabi Muhammad. Agar tidak terjadi persengketaan di kedua belah pihak, maka disepakati masing-masing memiliki pemimpin.

Namun, kesepakatan tersebut dirasa kurang pas, dan dilakukan dialog lagi di antara kedua belah pihak. Maka disepakatilah Abu Bakar As Siddiq sebagai pengganti Rasulullah. 

"Setelah diskusi lagi, akhirnya diambil kesepakatan. Sudahlah yang ada adalah pengganti Rasulullah, makanya Abu Bakar disebut Khalifatu Rasulillahi," ujar Buya Yahya. 

Setelah Abu Bakar wafat, lanjutnya, gilaran Umar Bin Khattab yang diangkat sebagai pemimpin. Namun, kala itu Umarb tidak disebut dengan istilah khalifah. Melainkan Khalifatu Khalifati Rasulillah yang artinya pengganti penggantinya Rasulullah.

"Ini makna menggantikan. Akhirnya nama itu panjangan, kembali kepada nama yang pernah disebutkan nabi, kalau kamu bertiga, hendaknya satu di antara kamu jadikan amir, maka Sayyidina Umar bin Khattab disebut dengan Amirul Mu'minin.

Adapun perubahan istilah khalifah menjadi khilafah, Buya Yahya menduga hal itu merujuk pada istilah negara yang dibangun atas dasar Islam. 

"Itu masalah istilah. Adapun isinya harus kembali pada aqidah kita. Maksudkan kami, jangan suka kita menepis satu istilah yang sudah mengakar dari masa ke masa, sehingga Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar, Khalifah Usman, khalifah Ali, sudah dari dulu kita tahu istilah itu. Sehingga kita tahu namanya masa Khalifah. Jadi yang sudah ada jangan ditepis, kalau ditepis merusak sejarah nanti," tutur Buya Yahya. 

Simak penjelasan lengkap Buya Yahya mengenai istilah Khilafah melalui video berikut ini:

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A