Tangerang Selatan Jadi Kota Terpolusi, Warga Seperti Isap 112 Rokok Sebulan

AKURAT.CO Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berada di urutan pertama sebagai kota paling berpolusi dalam kurun waktu tiga bulan terakhir dalam laporan yang dirilis oleh Perusahaan Kualitas Udara Berbasis Teknologi, Nafas, pada Kamis (10/8/2023).
Hal tersebut tercantum dalam laporan kota dengan polusi udara terburuk di Indonesia sepanjang Juli 2023. Data kualitas udara tersebut didapat dari low cost sensor yang tersebar di lebih dari 180 titik lokasi dan mempresentasikan cakupan wilayah 1-2 km dari lokasi sensor terpasang.
Tangsel, terutama di wilayah Serpong menjadi lokasi paling berpolusi di Indonesia dengan rata-rata PM2.5 yang dihasilkan sebesar 80 µg/m³ ditanadi dengan kode warna merah yang berarti tidak sehat untuk semua orang.
Diketahui, pengukuran polusi dilakukan berdasarkan partikel PM2.5 yang berdasarkan standar WHO. Dalam satuan mikrogram (µg) per meter kubik (m³).
Dilaporkan oleh Nafas, buruknya kualitas udara yang terjadi di Serpong setara dengan mengisap 112 batang rokok per bulan. Pengukuran jumlah ekuivalen rokok itu dikur berdasarkan rata-rata polusi PM2.5 dalam sehari 22 µg/m³ yang setara dengan 1 batang rokok.
Selain Tangsel, kota Tarumajaya, Bekasi berada di urutan selanjutnya sebagai wilayah paling berpolusi di Indonesia dengan 79 µg/m³ dan sementara Parung Panjang, Bogor dengan 70 µg/m³ berada di posisi ketiga.
Berikut 10 wilayah dengan polusi tertinggi yang dirilis oleh Nafas.
10 Lokasi dengan Polusi Terburuk
- Serpong, Tangserang Selatan: 80 µg/m³
- Tarumajaya, Bekasi: 79 µg/m³
- Parung Panjang, Bogor: 70 µg/m³
- Babakan, Tangerang Selatan: 70 µg/m³
- Bedahan, Depok: 68 µg/m³
- Panunggangan Utara, Tangerang: 67 µg/m³
- Cipayung, Jakarta Timur: 67 µg/m³
- Gunung Sindur, Bogor: 67 µg/m³
- Semanan, Jakarta Barat: 65 µg/m³
- Pamulang, Tangerang Selatan: 65 µg/m³
Penyebab Polusi Udara
Menurut Nafas, sebagian besar penyebab hal tersebut berasal dari aktivitas manusia, seperti kendaraan, asap pabrik dan pembakaran sampah, hingga fogging nyamuk. Namun ada juga yang berasal dari alam, salah satunya gunung meletus.
Ancaman akan hal itu mudah berubah dengan cepat, dan dapat meningkat ketika ada sumber polusi di wilayah tersebut serta kondisi atmosfer yang mendukung. Angin bisa membawa polutan jauh dari sumber asalnya, dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Sayangnya penghijauan saja tidak cukup untuk mengatasi ancaman itu. Studi US EPA menunjukkan, pohon hanya berkontribusi 0,24 persen dalam menghilangkan PM2.5 di udara.
Dari peta satelit sebenarnya terlihat masih banyak zona hijau di Tangerang Selatan, terutama di sisi barat. Berdasarkan Laporan Nafas Mei 2023, wilayah Tangerang Selatan yang identik dengan daerah residensial yang asri, tingkat ancamannya masih terpantau tinggi.
Padahal, jika terus dibiarkan, sudah banyak studi yang menyebut bahwa polusi udara bisa memengaruhi kesehatan, salah satunya peningkatan risiko influenza dan penyakit paru.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK




