Akurat Logo

Proyek Data Center Jatiluhur Disetop, Ekonom: Kebijakan Gubernur Jabar Rusak Iklim Investasi

Herry Supriyatna | 4 Oktober 2026, 11:04 WIB
Proyek Data Center Jatiluhur Disetop, Ekonom: Kebijakan Gubernur Jabar Rusak Iklim Investasi
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini.

AKURAT.CO Peluang investasi data center senilai ratusan triliun rupiah dinilai menjadi momentum besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai tujuan investasi teknologi di Asia Tenggara.

Namun, kepastian kebijakan di daerah dinilai menjadi salah satu tantangan yang harus segera dibenahi.

Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menyoroti penghentian sementara pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Menurut Didik, kebijakan penghentian proyek yang sudah berjalan berpotensi memberikan sinyal negatif kepada investor dan mengganggu iklim investasi di Indonesia.

“Peluang ini jangan sampai membuat kita seperti pelanduk terperosok dua kali di lubang yang sama,” kata Didik dalam keterangan persnya, Minggu (4/10/2026).

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya memang menghentikan sementara pembangunan data center AI milik BDX Data Centers di Jatiluhur.

Pemprov Jabar menyebut penghentian dilakukan karena proyek tersebut belum mengantongi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Proyek yang dibangun di lahan sekitar 8.000 meter persegi itu mulai dikerjakan pada 22 September 2026 dan direncanakan memiliki kapasitas daya hingga 640 megawatt (MW).

Selain persoalan perizinan, Dedi meminta kajian mengenai dampak proyek terhadap lingkungan, termasuk potensi kebisingan serta penggunaan air dari Waduk Jatiluhur.

Pemprov Jabar juga meminta agar kebutuhan air data center tidak mengganggu kepentingan masyarakat dan petani.

Dedi kemudian menegaskan penghentian tersebut bukan berarti pemerintah daerah menolak investasi. Dia menyatakan proyek dapat dilanjutkan apabila seluruh persyaratan, termasuk AMDAL dan PBG, terpenuhi.

Namun, bagi Didik, persoalan tersebut tetap harus dilihat dari perspektif kepastian investasi.

Menurutnya, Indonesia sedang membutuhkan investasi dalam jumlah besar dan sektor data center merupakan salah satu peluang yang tengah terbuka lebar.

Pemerintah sebelumnya menyebut terdapat rencana investasi data center sekitar US$15–20 miliar atau setara Rp270–360 triliun, dengan tambahan kapasitas sekitar 1,3 gigawatt. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran investasi tersebut adalah Batam.

Didik menilai, besarnya peluang tersebut tidak boleh kembali hilang akibat kebijakan yang membuat investor merasa tidak memperoleh kepastian dalam menjalankan usaha.

Dia mengingatkan, Indonesia pernah kehilangan momentum dalam industri semikonduktor pada era 1980-an.

Baca Juga: KDM dan Kemhan Bahas Masa Depan BIJB Kertajati untuk Industri Pertahanan

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.