Proyek Data Center Jatiluhur Disetop, Ekonom: Kebijakan Gubernur Jabar Rusak Iklim Investasi

AKURAT.CO Peluang investasi data center senilai ratusan triliun rupiah dinilai menjadi momentum besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai tujuan investasi teknologi di Asia Tenggara.
Namun, kepastian kebijakan di daerah dinilai menjadi salah satu tantangan yang harus segera dibenahi.
Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menyoroti penghentian sementara pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Menurut Didik, kebijakan penghentian proyek yang sudah berjalan berpotensi memberikan sinyal negatif kepada investor dan mengganggu iklim investasi di Indonesia.
“Peluang ini jangan sampai membuat kita seperti pelanduk terperosok dua kali di lubang yang sama,” kata Didik dalam keterangan persnya, Minggu (4/10/2026).
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya memang menghentikan sementara pembangunan data center AI milik BDX Data Centers di Jatiluhur.
Pemprov Jabar menyebut penghentian dilakukan karena proyek tersebut belum mengantongi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Proyek yang dibangun di lahan sekitar 8.000 meter persegi itu mulai dikerjakan pada 22 September 2026 dan direncanakan memiliki kapasitas daya hingga 640 megawatt (MW).
Selain persoalan perizinan, Dedi meminta kajian mengenai dampak proyek terhadap lingkungan, termasuk potensi kebisingan serta penggunaan air dari Waduk Jatiluhur.
Pemprov Jabar juga meminta agar kebutuhan air data center tidak mengganggu kepentingan masyarakat dan petani.
Dedi kemudian menegaskan penghentian tersebut bukan berarti pemerintah daerah menolak investasi. Dia menyatakan proyek dapat dilanjutkan apabila seluruh persyaratan, termasuk AMDAL dan PBG, terpenuhi.
Namun, bagi Didik, persoalan tersebut tetap harus dilihat dari perspektif kepastian investasi.
Menurutnya, Indonesia sedang membutuhkan investasi dalam jumlah besar dan sektor data center merupakan salah satu peluang yang tengah terbuka lebar.
Pemerintah sebelumnya menyebut terdapat rencana investasi data center sekitar US$15–20 miliar atau setara Rp270–360 triliun, dengan tambahan kapasitas sekitar 1,3 gigawatt. Salah satu lokasi yang menjadi sasaran investasi tersebut adalah Batam.
Didik menilai, besarnya peluang tersebut tidak boleh kembali hilang akibat kebijakan yang membuat investor merasa tidak memperoleh kepastian dalam menjalankan usaha.
Dia mengingatkan, Indonesia pernah kehilangan momentum dalam industri semikonduktor pada era 1980-an.
Baca Juga: KDM dan Kemhan Bahas Masa Depan BIJB Kertajati untuk Industri Pertahanan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 6Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat







