Akurat Logo

Rupiah Berpotensi Menguat ke Rp17.600 Karena Ini

Esha Tri Wahyuni | 31 Agustus 2026, 09:51 WIB
Rupiah Berpotensi Menguat ke Rp17.600 Karena Ini
Ilustrasi rupiah menguat atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini. Pada perdagangan Jumat (28/8/2026), rupiah berada di level Rp17.693 per USD, menguat 51 poin atau 0,29% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di Rp17.744 per USD.

Penguatan rupiah terjadi ketika pasar mulai merespons kepastian arah kepemimpinan Bank Indonesia (BI) setelah Komisi XI DPR RI menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI terpilih periode 2026-2031.

Namun, penguatan rupiah diperkirakan belum akan berlangsung tanpa hambatan. Pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama setelah inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang menjadi indikator pilihan Federal Reserve (The Fed) masih berada di level tinggi.

Baca Juga: Destry Jadi Gubernur BI, Ekonom: BI Tak Bisa Sendirian Jaga Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, rupiah pada perdagangan awal pekan depan masih akan bergerak fluktuatif.

"Untuk perdagangan Senin, mata uang rupiah akan fluktuatif. Rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.690 sampai Rp17.750 per USD," kata Ibrahim dalam riset hariannya pada Jumat (28/8/2026).

Menurut Ibrahim, untuk keseluruhan perdagangan pekan depan, rupiah berpotensi bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.600-Rp17.900 per USD. Salah satu faktor domestik yang menjadi perhatian pasar adalah kepastian calon Gubernur BI periode 2026-2031.

Komisi XI DPR RI melalui rapat internal pada Kamis (27/8/2026) menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur BI terpilih. Destry merupakan calon tunggal yang diajukan Presiden Prabowo Subianto untuk menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri dari posisi Gubernur BI pada 25 Juli 2026.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mengatakan, proses di tingkat komisi telah dituntaskan. Keputusan tersebut selanjutnya akan dibawa ke Rapat Paripurna DPR yang dijadwalkan pada 1 September 2026.

Bagi pasar keuangan, kepastian mengenai figur yang akan memimpin bank sentral menjadi salah satu faktor yang dapat mengurangi ketidakpastian kebijakan moneter domestik.

Destry sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan kemudian menjadi pejabat Gubernur Sementara setelah pengunduran diri Perry Warjiyo. Jika proses di DPR selesai, Destry akan menjadi perempuan pertama yang memimpin BI secara definitif.

Kepastian tersebut menjadi salah satu sentimen domestik yang diperhitungkan pasar di tengah tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang.

Meski terdapat sentimen positif dari dalam negeri, arah rupiah masih sangat bergantung pada perkembangan kebijakan The Fed.

Perhatian pasar pada Jumat (28/8/2026) tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium ekonomi Jackson Hole. Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato pada pukul 10.00 waktu New York atau sekitar pukul 21.00 WIB.

Pidato tersebut menjadi penting karena pasar mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga AS setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga masih relatif tinggi.

Data terbaru menunjukkan indeks harga PCE AS naik 3,7% secara tahunan pada Juli 2026. Angka tersebut masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Core PCE juga berada di 3,3%.

Kondisi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS. Berdasarkan CME FedWatch yang dikutip Reuters, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember berada di sekitar 74%.

"Pasar masih berhati-hati menunggu arah kebijakan The Fed. Inflasi PCE yang masih tinggi membuat ruang pelonggaran moneter AS menjadi terbatas," ujar Ibrahim.

Bagi rupiah, suku bunga AS menjadi salah satu faktor penting karena perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed dapat memengaruhi arus modal global dan permintaan terhadap dolar AS.

Jika The Fed memberikan sinyal lebih hawkish, dolar AS berpotensi kembali menguat sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.

Sebaliknya, jika komunikasi Warsh lebih lunak dan pasar melihat ruang pelonggaran kebijakan masih terbuka, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat berkurang.

Selain kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan volatilitas pasar valuta asing.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perhatian investor. Upaya diplomatik untuk kembali membuka pembicaraan antara kedua negara juga menghadapi ketidakpastian.

Pada saat yang sama, ketegangan Rusia-Ukraina kembali meningkat setelah Moskow memperingatkan kemungkinan serangan terhadap target militer Inggris sebagai respons atas serangan Ukraina ke wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh yang dipasok Inggris.

Kondisi geopolitik tersebut berpotensi mendorong investor meningkatkan kepemilikan aset safe haven ketika risiko global meningkat. Dolar AS menjadi salah satu aset yang biasanya mendapat perhatian dalam kondisi tersebut.

Level Rp17.600 menjadi area yang perlu diperhatikan apabila rupiah kembali mendapatkan sentimen positif dari dalam negeri maupun pelemahan dolar AS secara global.

Sebaliknya, level Rp17.900 menjadi batas atas yang perlu diwaspadai jika dolar AS kembali menguat akibat ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi. Dengan demikian, arah rupiah pekan depan tidak hanya akan ditentukan oleh kondisi domestik. 

Kepastian kepemimpinan BI memang memberikan sentimen positif, tetapi keputusan dan komunikasi The Fed, data ekonomi AS, serta perkembangan geopolitik masih menjadi faktor utama yang dapat menentukan apakah rupiah mampu melanjutkan penguatan atau kembali tertekan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.