Akurat Logo

Aida Budiman Ungkap Dilema BI Jaga Stabilitas Rupiah Tanpa Mengorbankan Pertumbuhan

Esha Tri Wahyuni | 27 Agustus 2026, 09:16 WIB
Aida Budiman Ungkap Dilema BI Jaga Stabilitas Rupiah Tanpa Mengorbankan Pertumbuhan
Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman

AKURAT.CO Calon Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman mengungkap, tantangan yang dihadapi bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. 

Menurutnya, menjaga daya tarik aset rupiah melalui kebijakan suku bunga memang diperlukan untuk menarik aliran modal asing, tetapi kebijakan tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap perekonomian domestik.

Aida mengatakan kondisi ekonomi global saat ini membuat tugas BI menjaga stabilitas nilai tukar menjadi semakin kompleks. 

Baca Juga: FPT, Destry Damayanti Petakan Tantangan Eksternal Ekonomi RI

Lingkungan suku bunga global yang masih tinggi atau higher for longer membuat perbedaan imbal hasil antara aset rupiah dan aset valuta asing menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor.

"Tantangan kita sekarang adalah stabilitas nilai tukar, terutama karena ekonomi global saat ini menuju kondisi higher for longer," kata Aida dalam uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Menurut Aida, respons melalui BI-Rate menjadi salah satu instrumen untuk menjaga daya tarik aset rupiah. Imbal hasil yang cukup menarik dibutuhkan agar aliran modal masuk ke Indonesia tetap terjaga.

"Respons kebijakan BI-Rate perlu dilakukan untuk merespons kondisi tersebut guna menjaga perbedaan imbal hasil antara rupiah dan valas sehingga dapat menarik capital inflows," ujarnya.

Namun, Aida menyadari terdapat konsekuensi apabila suku bunga dinaikkan secara terus-menerus. Suku bunga yang lebih tinggi dapat memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

"Setelah menjaga stabilitas nilai tukar, kita juga perlu mendorong pertumbuhan ekonomi," kata dia.

Aida menyebut tantangan tersebut membuat BI perlu mengurangi trade-off atau tarik-menarik antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, kebijakan bank sentral tidak dapat hanya bertumpu pada suku bunga. BI perlu menggunakan kombinasi instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menciptakan ruang bagi perekonomian untuk tetap tumbuh.

"Untuk mengurangi trade-off kebijakan, BI mengombinasikan berbagai kebijakan," ujar Aida.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah operasi pasar terbuka dan pengembangan pasar uang. BI juga memberikan insentif terhadap biaya lindung nilai atau hedging untuk mendukung arus masuk investasi portofolio asing.

"Stabilitas nilai tukar membutuhkan capital inflows yang masuk, sedangkan arus tersebut akan tertarik jika imbal hasil rupiah cukup menarik," kata Aida.

"Namun, kita juga mengamini bahwa kenaikan BI-Rate secara terus-menerus dapat berdampak pada perekonomian domestik," lanjutnya.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, BI berupaya tidak menjadikan kenaikan suku bunga sebagai satu-satunya instrumen dalam menjaga rupiah.

Aida juga menjelaskan batas intervensi BI dalam menjaga nilai tukar. Menurutnya, bank sentral tidak dapat sepenuhnya menghilangkan tren pergerakan rupiah yang terbentuk akibat kondisi pasar.

Fokus BI adalah memastikan pergerakan nilai tukar tidak mengalami overshooting atau pelemahan yang berlebihan dalam waktu singkat.

"Stabilitas nilai tukar yang dijaga BI adalah memastikan pergerakannya tidak mengalami overshooting," kata Aida.

Aida mengatakan BI menjaga pergerakan nilai tukar sekitar 10% dari moving average nya sebagai salah satu acuan untuk mencegah pergerakan yang terlalu ekstrem.

"Tapi tren daripada pasar itu tidak bisa kita hindari. Apabila pasar itu trennya terdepresiasi, yang penting jangan terdepresiasi terlalu tinggi," ujarnya.

Menurut Aida, stabilitas pergerakan rupiah penting agar pelaku ekonomi memiliki kepastian dalam menjalankan aktivitasnya.

"Sehingga terjadi kepastian dan akibatnya pelaku pasar pun kemudian bisa menggunakan nilai tukar ini sebagai anchor," kata dia.

Aida menilai kondisi global pada 2026 menjadi salah satu faktor yang membuat tugas menjaga stabilitas makroekonomi semakin berat. 

Perang di Timur Tengah, kata dia, telah mengubah persepsi pasar sekaligus mendorong kenaikan harga minyak.

Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui nilai tukar, inflasi, serta sektor eksternal.

Meski demikian, Aida menilai posisi eksternal Indonesia masih mampu dijaga. Ia menyoroti defisit transaksi berjalan yang mencapai 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal II 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut masih dapat ditopang oleh kinerja financial account yang cukup tinggi.

"Defisit transaksi berjalan sebesar 3,3% dari PDB pada triwulan II 2026 masih dapat terjaga karena adanya financial account yang cukup tinggi," ujar Aida.

Di sisi nilai tukar, Aida mengatakan pergerakan rupiah secara perlahan mulai lebih stabil di kisaran Rp17.800-Rp17.900 per USD.

"Sekarang pelan-pelan nilai tukar sudah mengalami gerakan yang cukup stabil, Rp17.800-Rp17.900, itu yang kami sebut dengan penjagaan," kata dia.

Meski demikian, stabilitas nilai tukar tidak serta-merta berarti tekanan terhadap harga barang hilang. 

Aida mengatakan perkembangan harga tetap perlu diperhatikan karena inflasi menjadi salah satu indikator utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

"Kalau disebut dengan harga-harga, tidak bisa terpungkiri juga kita ada inflasi yang mengurangi harga atau menaikkan harga dari barang," ujarnya.

Karena itu, pengendalian inflasi tetap menjadi bagian penting dari kebijakan BI bersama pemerintah.

"Inilah mengapa inflasi itu dicoba untuk selalu dalam target yang sudah disetujui antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan," kata Aida.

Dalam pemaparannya di hadapan Komisi XI DPR RI, Aida menempatkan stabilitas makroekonomi sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Menurutnya, mandat BI tidak hanya berkaitan dengan nilai tukar, tetapi juga mencakup stabilitas sistem pembayaran dan stabilitas sistem keuangan.

"Tugas pertama BI yaitu bagaimana kami menjaga stabilitas daripada makroekonomi, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan," kata Aida.

Aida menilai pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kondisi makroekonomi yang stabil.

"Karena tidak ada pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja kalau kita tidak punya lingkungan ekonomi yang stabil," ujarnya.

Aida mengatakan stabilitas tersebut diterjemahkan melalui sejumlah indikator, antara lain inflasi, nilai tukar, likuiditas, serta kondisi sektor eksternal.

Menurutnya, bauran kebijakan BI yang berjalan saat ini sudah cukup baik. Namun, ke depan bank sentral perlu terus mencari kombinasi kebijakan yang dapat menekan trade-off antara stabilitas dan pertumbuhan.

"Ke depan kami akan mengupayakan pengurangan trade-off antar kebijakan," kata Aida.

Aida S. Budiman merupakan calon tunggal Deputi Gubernur Senior BI yang diajukan Presiden Prabowo Subianto kepada DPR RI. Saat ini, Aida masih menjabat sebagai Deputi Gubernur BI.

Pada Rabu (26/8/2026), Komisi XI DPR RI menggelar uji kelayakan dan kepatutan terhadap calon Gubernur BI dan calon Deputi Gubernur Senior BI.

Destry Damayanti menjadi calon tunggal Gubernur BI. Sementara uji kelayakan dan kepatutan untuk calon Deputi Gubernur BI dijadwalkan berlangsung pada Kamis (27/8/2026).

Dua nama yang diajukan sebagai calon Deputi Gubernur BI adalah Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.