Serial Merdeka Finansial (IV): Bunga Kredit yang Masih Mahal bagi Kelas Menengah

AKURAT.CO Konsumsi rumah tangga di Tanah Air tumbuh melambat di paruh pertama 2026.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi RI tumbuh melambat dari 5,61% di kuartal I-2026 ke 5,29% di kuartal II-2026.
Disaat yang sama, konsumsi rumah tangga turut melambat ke 5,06%, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,52% pada kuartal sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tetapi tidak cukup kuat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Sebabnya tak lain adalah rapuhnya kelas menengah, yang mulai lelang usai bertahun-tahun menopang pertumbuhan dan konsumsi rumah tangga.
Kelas menengah, yang sebagian menjadi konsumen atau menciptakan sisi demand sektor riil, juga sebagian pelaku UMKM membutuhkan dukungan, termasuk akses pembiayaan murah untuk menjalankan kegiatan ekonomi.
Kondisi tersebut membuat peran perbankan menjadi penting. Namun, pertumbuhan kredit perlu dilihat tidak hanya dari jumlahnya.
Penyaluran kredit juga perlu dilihat berdasarkan sektor penerima, tujuan penggunaan dan biaya yang harus dibayar debitur.
Terhimpit Biaya Modal Yang Kian Mahal
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, sebelumnya menyoroti kondisi kelas menengah yang menghadapi peningkatan kebutuhan rumah tangga.
Menurut Misbakhun, kelas menengah perlu mendapatkan ruang untuk meningkatkan kemampuan ekonominya.
Kelompok tersebut tidak hanya harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga membayar cicilan, biaya pendidikan dan menyiapkan tabungan untuk kebutuhan masa depan.
"Kelas menengah harus diberi ruang untuk bertumbuh," kata Misbakhun di Jakarta (12/6/2026).
Tidak sampai disitu saja, Misbakhun juga mengatakan pengeluaran rumah tangga bertambah ketika cicilan tetap berjalan dan biaya pendidikan meningkat.
Pada saat yang sama, keluarga tetap perlu menyiapkan tabungan untuk kebutuhan masa depan. Kondisi tersebut berkaitan dengan kemampuan rumah tangga dalam menggunakan pendapatannya.
Pendapatan rumah tangga tidak seluruhnya dapat digunakan untuk konsumsi tambahan. Sebagian pendapatan digunakan untuk kebutuhan rutin, cicilan, pendidikan, kesehatan dan perumahan.
Semakin besar pengeluaran tersebut, semakin kecil pendapatan yang tersisa untuk ditabung atau digunakan membeli aset.
Bank Perlu Lebih Bersahabat ke Kelas Menengah
Bank Indonesia mencatat kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut meningkat dari 11,51% pada Mei 2026.
Berdasarkan penggunaannya, kredit investasi tumbuh 24,90%, kredit modal kerja tumbuh 8,94% dan kredit konsumsi tumbuh 5,75%.
Data tersebut menunjukkan pertumbuhan kredit investasi lebih tinggi dibandingkan kredit modal kerja dan kredit konsumsi.
Kredit investasi digunakan antara lain untuk pembelian aset tetap dan ekspansi usaha. Sementara kredit modal kerja digunakan untuk kebutuhan operasional perusahaan.
Pertumbuhan kredit investasi memang relevan ketika pemerintah ingin meningkatkan peran investasi dalam pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan belum diikuti pertumbuhan kredit UMKM dengan kecepatan yang sama.
Seperti yang diketahui, kredit UMKM pada Maret 2026 mencapai sekitar Rp1.498,64 triliun, tetapi hanya tumbuh 0,12% secara tahunan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit secara agregat belum otomatis meningkatkan akses pembiayaan seluruh kelompok usaha. Ini menjadi alarm rapuhnya kelas menengah.
UMKM memiliki kebutuhan pembiayaan untuk membeli bahan baku, membayar tenaga kerja, memenuhi pesanan dan meningkatkan kapasitas produksi.
Namun, akses pembiayaan UMKM juga dipengaruhi oleh kemampuan menyediakan agunan, pencatatan keuangan, arus kas dan profil risiko usaha.
Karena itu, peningkatan kredit UMKM membutuhkan kebijakan yang tidak hanya mendorong jumlah penyaluran, tetapi juga memperbaiki akses pembiayaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah










