Pasar Kerja AS Bertahan di Tengah Bayang-Bayang Inflasi Energi

AKURAT.CO Perekonomian Amerika Serikat kembali menunjukkan daya tahan di tengah tekanan geopolitik dan kenaikan harga energi global.
Data terbaru ketenagakerjaan menunjukkan pasar kerja Negeri Paman Sam masih tumbuh lebih baik dibanding ekspektasi pasar.
Departemen Tenaga Kerja AS mencatat penambahan 115 ribu lapangan kerja baru pada April 2026. Angka tersebut jauh melampaui proyeksi ekonom yang sebelumnya memperkirakan hanya sekitar 62 ribu pekerjaan baru. Tingkat pengangguran juga tetap berada di level 4,3%.
Jika dilihat di permukaan, data tersebut memperlihatkan bahwa ekonomi AS masih cukup kuat menghadapi ketidakpastian global, terutama akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia.
Baca Juga: Amerika Serikat Lumpuhkan Kapal Tanker Iran di Teluk Oman
Namun, di balik angka utama yang terlihat positif, sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda-tanda perlambatan yang tidak bisa diabaikan.
Reuters melaporkan bahwa jumlah pekerja paruh waktu karena alasan ekonomi meningkat tajam hingga 445 ribu orang. Pada saat yang sama, tingkat partisipasi angkatan kerja terus menurun menjadi 61,8%, level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan partisipasi tenaga kerja menjadi perhatian karena berkontribusi menjaga angka pengangguran tetap rendah secara statistik. Artinya, sebagian masyarakat tidak lagi aktif mencari pekerjaan sehingga tidak tercatat sebagai pengangguran resmi.
Kondisi tersebut memunculkan gambaran bahwa pasar tenaga kerja AS sebenarnya mulai kehilangan momentum.
Sedangkan untuk sektor kesehatan masih menjadi motor utama penciptaan lapangan kerja dengan tambahan sekitar 37 ribu pekerjaan. Sektor transportasi dan pergudangan juga menambah sekitar 30 ribu tenaga kerja seiring tingginya kebutuhan distribusi logistik. Sementara sektor ritel menyumbang sekitar 22 ribu pekerjaan baru.
Di sisi lain, sejumlah sektor strategis justru mulai melemah. Industri manufaktur tercatat kehilangan sekitar 2 ribu pekerjaan pada April 2026. Sektor informasi dan pemerintahan federal juga mengalami penurunan tenaga kerja.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja di AS semakin terkonsentrasi pada sektor jasa, sementara sektor produksi dan industri mulai mengalami tekanan.
Baca Juga: Pejabat Amerika Serikat: Permusuhan dengan Iran telah Berakhir!
Tekanan tersebut diperparah oleh kenaikan harga energi akibat konflik Iran yang masih mempengaruhi rantai pasok global.
Meskipun pertumbuhan upah tahunan naik menjadi sekitar 3,6%, kenaikan tersebut dinilai belum cukup untuk mengimbangi tekanan inflasi energi dan biaya hidup masyarakat.
Lembaga survei University of Michigan bahkan mencatat sentimen konsumen AS turun ke level terendah akibat kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan harga bahan bakar.
Kondisi ini membuat bank sentral AS atau Federal Reserve diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 6Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat









