Akurat

CSIS: ART Amankan Cuma 2 Persen Akses Pasar, Tak Sebanding dengan Yang RI Berikan

Esha Tri Wahyuni | 28 Februari 2026, 12:15 WIB
CSIS: ART Amankan Cuma 2 Persen Akses Pasar, Tak Sebanding dengan Yang RI Berikan
Presiden AS, Donald Trump

AKURAT.CO Agreement on Reciprocal Trade (ART) Indonesia–Amerika Serikat (AS) disebut hanya mengamankan sekitar 2% akses pasar dari total perdagangan Indonesia.

Temuan ini disampaikan Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono, dalam taklimat media di Jakarta. 

Meski terdapat 1.819 produk Indonesia yang memperoleh tarif 0% (exemption) dari AS, nilai tersebut dinilai belum signifikan terhadap total ekspor nasional.

Baca Juga: Pemerintah Tinjau Ulang Perjanjian Impor Energi AS Senilai USD15 Miliar

Isu perjanjian dagang RI–AS, tarif resiprokal, hingga dampak reformasi tata kelola menjadi sorotan utama dalam evaluasi implementasi ART.

ART RI–AS: Hitungan 1.819 Produk, Tapi Akses Pasar Hanya 2 Persen

Riandy menjelaskan, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia mendapatkan pembebasan tarif resiprokal 0% dari AS. Angka ini memang terlihat besar secara nominal.

Namun, jika dihitung terhadap keseluruhan ekspor Indonesia ke AS, pembebasan tersebut hanya mencakup sekitar 24% dari total ekspor RI ke Negeri Paman Sam. Sementara kontribusi ekspor Indonesia ke AS sendiri hanya berkisar 10% dari total ekspor nasional.

“Jadi, total akses pasar yang kita amankan dari total perdagangan cuma 2 persen,” ujar Riandy dalam taklimat media bertajuk Perjanjian Perdagangan Resiprokal: Karpet Merah atau Jebakan Perdagangan di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Dengan kata lain, secara agregat terhadap total perdagangan Indonesia, manfaat langsung ART dinilai masih terbatas.

Indonesia Banyak Produk Bebas Tarif

Secara jumlah produk, Indonesia memang mencatat angka lebih tinggi dibanding negara lain di kawasan. Malaysia, misalnya, memperoleh pembebasan tarif untuk sekitar 1.700 produk.

Namun, menurut Riandy, keunggulan dari sisi jumlah produk tersebut tidak otomatis berarti dampak ekonomi yang lebih besar. Ia menilai porsi 2% akses pasar tersebut tidak sebanding dengan upaya reformasi tata kelola yang harus dilakukan Indonesia untuk memenuhi ketentuan ART.

“Biasanya dalam perjanjian dagang lain, kita bisa mengamankan 90 sampai 99 persen dari total perdagangan nasional. Tapi kali ini (ART) tidak seperti itu,” tegasnya.

Produk Strategis yang Dapat Tarif 0 Persen

Dalam kesepakatan ART, sebanyak 1.819 pos tarif yang dibebaskan mencakup sejumlah komoditas unggulan Indonesia, antara lain Minyak sawit, Kopi dan kakao, Rempah-rempah, Karet, Komponen elektronik, termasuk semikonduktor, Komponen pesawat terbang.

Pembebasan tarif ini memberikan peluang bagi eksportir di sektor-sektor tersebut untuk meningkatkan daya saing di pasar AS. Namun demikian, manfaatnya tetap dibatasi oleh skala kontribusi ekspor Indonesia ke AS yang relatif kecil dalam struktur perdagangan nasional.

Tarif 19 Persen Masih Berlaku, Tekstil Dapat Kuota Khusus

Meski terdapat pembebasan untuk produk tertentu, ART tetap mempertahankan tarif resiprokal sebesar 19% untuk produk impor Indonesia secara umum.

Pengecualian hanya berlaku pada sejumlah produk yang mendapatkan tarif 0%. Selain itu, AS juga berkomitmen membentuk mekanisme khusus agar produk tekstil dan garmen Indonesia bisa menikmati tarif 0% untuk volume tertentu.

Kuota tersebut akan ditentukan berdasarkan jumlah ekspor tekstil yang diproduksi menggunakan kapas dan serat buatan asal AS. Artinya, insentif tarif ini tetap mensyaratkan keterkaitan rantai pasok dengan bahan baku dari Amerika Serikat.

Riandy juga menilai bahwa pengecualian tarif tersebut pada dasarnya merupakan skenario kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump sejak awal, bukan sepenuhnya hasil negosiasi intensif pemerintah Indonesia.

Penilaian ini mengindikasikan bahwa posisi tawar Indonesia dalam kesepakatan ART masih menjadi ruang evaluasi, terutama jika dikaitkan dengan beban reformasi domestik yang harus dilakukan untuk memenuhi ketentuan perjanjian.

Secara makro, angka 2% akses pasar menunjukkan bahwa dampak langsung ART terhadap total perdagangan Indonesia relatif terbatas. Namun, secara sektoral, sejumlah komoditas strategis tetap berpotensi mendapatkan dorongan ekspor.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.