AKURAT.CO Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat membawa implikasi besar bagi ekonomi global, termasuk Indonesia. Mengingat, AS menjadi mitra dagang terbesar kedua bagi RI, terutama nonmigas.
Dengan pendekatan ekonomi yang cenderung proteksionis dan kebijakan perdagangan yang sering kali kontroversial, hubungan dagang internasional bisa kembali mengalami gejolak.
Tentunya hal ini semakin menarik perhatian mengingat Indonesia kini resmi bergabung dengan BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan South Africa) serta mendukung kebijakan dedolarisasi.
Mengacu kepada era kepemimpinan Trump periode sebelumnya, kebijakan perdagangan Amerika Serikat lebih menitikberatkan pada 'American First, dimana Trump dikenal sering memberlakukan tarif tambahan untuk melindungi produsen domestik.
Nah, apabila kebijakan serupa diterapkan kembali, tentunya Indonesia dapat menghadapi berbagai tantangan berikut.
1. Peningkatan Tarif
Seperti yang diketahui, produk ekspor utama Indonesia ke Amerika Serikat, seperti tekstil, alas kaki, dan produk pertanian diprediksi akan mendapatkan tarif yang lebih tinggi.
2. Pengurangan Permintaan Global
Pada dasarnya kebijakan proteksionis Trump dapat memperlambat ekonomi global, yang berdampak pada penurunan permintaan atas komoditas ekspor Indonesia seperti batu bara, minyak sawit, dan produk manufaktur.
3. Volatilitas Mata Uang
Volatilitas Mata Uang merupakan salah satu dampak yang sudah pasti akan kena, apalagi saat ini seluruh dunia terutama Indonesia yang masih ketergantungan akan Dollar ditambah ketegangan perdagangan dengan China dapat mempengaruhi stabilitas nilai tukar, terutama jika dolar AS menguat secara signifikan.
Peran BRICS Untuk Ekonomi Indonesia
Bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS membuka peluang baru untuk mendiversifikasi pasar ekspor dan mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat.
Hal tersebut diaminkan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, dimana dirinya optimis pasar Indonesia akan lebih meluas dengan bergabung menjadi anggota BRICS.
“Apa keuntungan kita dengan (bergabung) ke BRICS? Ya market kita lebih besar,” ungkap Luhut dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/1/2025).
Dirinya juga menekankan bahwa Indonesia tidak takut dengan adanya risiko retaliasi dari pihak Barat, dalam hal ini Amerika Serikat, pasca menjadi anggota BRICS. Menurutnya, Indonesia merupakan negara besar dan berdaulat.
"Indonesia is too big to lean to any country. Indonesia terlalu besar untuk condong pada satu negara, ya maksud saya waktu itu China dan Amerika. Kita tidak perlu (takut dengan retaliasi), apalagi sekarang ini Presidennya Pak Prabowo, ndak perlu. Jadi kita perlu merdeka, perlu independen, ya sedikit nakal-nakal lah,” jelasnya.
Secara keseluruhan, dengan bergabungnya Indonesia dalam organisasi tersebut, secara tidak langsung Indonesia mendapatkan berbagai alternatif perdagangan yang lebih inklusif. Diantaranya yakni,
1. Peningkatan Akses Pasar
1. Peningkatan Akses Pasar
Indonesia dapat memanfaatkan BRICS untuk memperluas pasar ekspor ke negara-negara anggota, seperti China dan India, yang memiliki populasi besar dan kebutuhan tinggi terhadap komoditas.
2. Pendanaan Infrastruktur
BRICS memiliki New Development Bank (NDB) yang dapat membantu pendanaan proyek infrastruktur, meningkatkan konektivitas perdagangan Indonesia.
3. Peluang Kolaborasi Teknologi
Anggota BRICS juga menawarkan potensi kolaborasi teknologi yang dapat mendukung modernisasi sektor manufaktur dan pertanian Indonesia.
Untung Rugi Dedolarisasi BRICS untuk Indonesia
Salah satu agenda penting BRICS adalah dedolarisasi, yakni upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Bagi Indonesia, dedolarisasi menawarkan beberapa manfaat:
Seperti mengurangi Risiko Volatilitas Mata Uang, sebab dengan menggunakan mata uang lokal atau alternatif seperti yuan atau rubel, Indonesia dapat melindungi perdagangan dari fluktuasi nilai tukar dolar.
Kemudian juga adanya diversifikasi aset cadangan, dimana kebijakan ini memungkinkan Bank Indonesia untuk mendiversifikasi cadangan devisa dengan aset berbasis non-dolar. Memperkuat Posisi Negosiasi, dalam hubungan dagang, ketergantungan rendah terhadap dolar memberikan ruang lebih besar untuk melakukan negosiasi.
Meskipun begitu, tantangan tetap ada. Proses transisi menuju dedolarisasi memerlukan waktu dan infrastruktur keuangan yang mendukung, seperti sistem pembayaran lintas negara yang andal.
Meskipun begitu, tantangan tetap ada. Proses transisi menuju dedolarisasi memerlukan waktu dan infrastruktur keuangan yang mendukung, seperti sistem pembayaran lintas negara yang andal.
Strategi Indonesia Menghadapi Era Baru
Untuk memastikan stabilitas ekspor dan impor di tengah dinamika global, Indonesia perlu mengadopsi beberapa strategi, diantaranya yakni.
1. Diversifikasi Pasar
Mengurangi ketergantungan pada pasar Amerika Serikat dengan memperluas jaringan dagang ke negara-negara BRICS dan ASEAN.
2. Mendorong Inovasi Produk
Memperkuat daya saing produk ekspor melalui inovasi, kualitas, dan efisiensi produksi.
3. Pemanfaatan Kerja Sama Multilateral
Mengoptimalkan peran dalam BRICS untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik.
4. Meningkatkan Infrastruktur Keuangan
Mempercepat adopsi sistem pembayaran berbasis mata uang lokal dalam perdagangan internasional.
Secara keseluruhan, dengan naiknya kembali kepemimpinan Donald Trump yang berpotensi membawa kembali kebijakan proteksionis menjadi tantangan baru bagi perdagangan global, termasuk Indonesia.
Secara keseluruhan, dengan naiknya kembali kepemimpinan Donald Trump yang berpotensi membawa kembali kebijakan proteksionis menjadi tantangan baru bagi perdagangan global, termasuk Indonesia.
Namun, dengan bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS dan langkah strategis dedolarisasi, peluang untuk menavigasi tantangan tersebut menjadi lebih besar.
Kunci keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekspor dan impor terletak pada kemampuan adaptasi terhadap dinamika global, inovasi dalam produk unggulan, dan optimalisasi kerja sama internasional.
Kunci keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas ekspor dan impor terletak pada kemampuan adaptasi terhadap dinamika global, inovasi dalam produk unggulan, dan optimalisasi kerja sama internasional.
Sebab langkah-langkah tersebut tidak hanya memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi global, tetapi juga membangun fondasi yang lebih kokoh untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Tiba di Jakarta, Ryan Giggs Terkesan 'Kehebohan' Penggemar Sejak di Bandara
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan








