Akurat Logo

OJK: Geopolitik dan Perlambatan Ekonomi China Bebani Perekonomian Global Kuartal III-2024

Hefriday | 18 November 2024, 18:47 WIB
OJK: Geopolitik dan Perlambatan Ekonomi China Bebani Perekonomian Global Kuartal III-2024

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa risiko geopolitik dan perlambatan ekonomi China memberikan dampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi global di kuartal III-2024.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/11/2024). “Di kuartal III-2024 yang lalu, pertumbuhan ekonomi dunia mengalami penurunan di sebagian besar negara perekonomian utama,” ujar Mahendra.

Ia menjelaskan bahwa situasi global masih dibayangi ketegangan geopolitik yang terus meningkat, terutama akibat konflik di Ukraina serta serangan Israel ke Gaza dan Lebanon. Ketegangan geopolitik yang memburuk menyebabkan ketidakpastian di pasar global. Konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur tidak hanya memengaruhi stabilitas politik, tetapi juga memukul harga energi dan komoditas, yang akhirnya menekan ekonomi berbagai negara.

Baca Juga: Aduh, IMF Kembali Pangkas Proyek Ekonomi Global

“Ketegangan geopolitik ini memengaruhi kepercayaan pelaku pasar, sehingga memperburuk proyeksi pertumbuhan ekonomi global,” kata Mahendra. Kondisi ini diperparah oleh risiko proteksionisme di banyak negara, yang semakin mempersempit peluang perdagangan internasional.

Mahendra juga menyoroti pelemahan ekonomi China sebagai salah satu faktor utama yang menekan ekonomi global. Menurutnya, perlambatan ini terjadi karena tertekannya sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply). Dampaknya, sektor ekspor dan konsumsi domestik China mengalami penurunan yang cukup signifikan.

“Berlanjutnya perlambatan ekonomi China memberikan efek domino pada mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Hal ini menjadi tantangan besar, mengingat peran China sebagai salah satu penggerak utama ekonomi dunia,” jelasnya.

Di Amerika Serikat, tekanan ekonomi terlihat dari penurunan indikator pasar tenaga kerja. Kondisi ini berdampak pada penurunan kepercayaan konsumen, yang pada akhirnya menekan laju pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, perekonomian Eropa menghadapi tantangan berbeda, dengan tingkat inflasi yang tetap tinggi dan kinerja sektor manufaktur yang terus terkontraksi. “Inflasi yang persisten dan lemahnya manufaktur membuat Eropa masih jauh dari pemulihan ekonomi yang stabil,” tambah Mahendra.

Menanggapi tekanan global ini, berbagai bank sentral utama di dunia mulai mengambil langkah-langkah yang lebih akomodatif. Pelonggaran kebijakan moneter dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dan ekonomi.

“Bank sentral di negara maju lebih akomodatif untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa risiko global memaksa otoritas keuangan untuk lebih fleksibel dalam kebijakan moneternya,” ujar Mahendra.

Selain faktor ekonomi, Mahendra juga menggarisbawahi risiko politik, terutama terkait kemungkinan kembalinya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Menurutnya, isu ini turut memperburuk proyeksi ekonomi global, karena pasar masih berhati-hati terhadap kebijakan yang mungkin diambil Trump di masa depan. “Risiko terpilihnya kembali Donald Trump menjadikan para pelaku pasar memperhitungkannya dalam pelemahan perkiraan pertumbuhan ekonomi ke depan,” ujar Mahendra.

Meski ekonomi global menghadapi tantangan besar, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan. Pada kuartal III-2024, pertumbuhan tercatat sebesar 4,95%. Secara keseluruhan, hingga kuartal ketiga tahun ini, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,03%, tetap berada di atas angka psikologis 5%. “Walaupun ada tekanan eksternal, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa terjaga di atas 5%. Ini menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi domestik kita cukup kuat,” ujar Mahendra.

OJK tetap optimistis bahwa ekonomi Indonesia dapat terus bertumbuh, meskipun risiko global masih membayangi. Namun, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama menghadapi tantangan eksternal. “Sinergi antara otoritas dan pelaku ekonomi sangat diperlukan agar Indonesia dapat terus bertahan dan bahkan memanfaatkan peluang di tengah risiko global yang ada,” tukas Mahendra.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa