RI Inflasi 0,08 Persen pada Oktober 2024 Usai Deflasi 5 Bulan Beruntun, Efek Anak Muda Suka Ngopi?

AKURAT.CO Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 0,08% secara bulanan pada Oktober 2024, dipicu oleh lonjakan harga pada berbagai sektor, termasuk makanan, minuman, dan terutama produk kopi yang kini populer di kalangan Gen Z dan milenial.
Menurut Plt Kepala BPS, Amalia A Widyasanti, secara tahunan terjadi inflasi sebesar 1,71% dan inflasi secara tahun kalender sebesar 0,82%.
Ditambahkan, seiring dengan tren konsumsi kopi yang meroket, terutama di kalangan anak muda yang kerap menjadikan kopi sebagai bagian dari gaya hidup, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 2,35%.
"Inflasi bulan Oktober 2024 ini mengakhiri tren deflasi yang terjadi sejak Mei 2024," ujarnya di Jakarta, Jumat (1/11/2024).
Selain itu, penyediaan makanan dan minuman di restoran dan kafe juga mencatat kenaikan harga hingga 2,36%. Hal ini menunjukkan bahwa budaya ngopi telah berkontribusi signifikan dalam mendorong inflasi di sektor ini.
Baca Juga: Inflasi Singapura Nanjak 2,8 Persen, Kebijakan Moneter Perlu Kian Ketat
Tak hanya sektor makanan dan minuman, beberapa kelompok pengeluaran lainnya juga menunjukkan kenaikan indeks harga. Kelompok pakaian dan alas kaki mengalami kenaikan 1,20%, sementara perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik sebesar 0,60%. Inflasi juga terjadi di sektor kesehatan sebesar 1,71%, dan sektor rekreasi, olahraga, dan budaya yang naik 1,53%.
Kenaikan harga di beberapa sektor ini menunjukkan bagaimana gaya hidup, terutama di kalangan Gen Z dan milenial, mempengaruhi ekonomi secara keseluruhan. Tidak hanya kopi, tetapi juga layanan penyediaan makanan, fasilitas rekreasi, dan layanan perawatan pribadi mencatat kenaikan harga.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya bahkan mencatat inflasi tertinggi, sebesar 7,06%, mencerminkan meningkatnya permintaan di kalangan masyarakat untuk layanan ini.
Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru mencatat penurunan indeks. Kelompok transportasi mengalami penurunan harga sebesar 0,08%, sedangkan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun sebesar 0,28%. Penurunan ini bisa jadi disebabkan oleh persaingan yang ketat di industri transportasi dan telekomunikasi, yang mendorong harga menjadi lebih stabil atau bahkan turun.
Kondisi inflasi yang terus meningkat ini memberikan tantangan bagi stabilitas ekonomi, terutama di tengah daya beli masyarakat yang beragam. Bagi pemerintah, penting untuk memastikan bahwa inflasi terkendali, agar daya beli masyarakat tetap terjaga, khususnya di sektor-sektor yang menjadi kebutuhan primer.
Selain itu, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga harga di sektor-sektor penting agar tidak terus mengalami kenaikan yang signifikan.
Dengan melihat tren konsumsi yang kini lebih mengutamakan pengalaman dan gaya hidup, fenomena inflasi ini bisa jadi refleksi perubahan pola konsumsi yang semakin dinamis di kalangan masyarakat Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 3Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 4Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 5Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 6Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Malam Ini!
- 7Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 8Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 9Komisaris Sucofindo: Gus Alex Titip Satu Juta Dolar untuk Pansus Haji, Sosok Komsin Disebut Brimob Jujur
- 10Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun









