Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Bisa Dicapai Prabowo Jika Mampu Selesaikan Tantangan Ini

AKURAT.CO Target pertumbuhan ekonomi 8% yang dicanangkan oleh Presiden dan Wakil Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka bisa tercapai jika mereka mampu menghadapi beberapa faktor yang menjadi penghambat.
Menurut Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti, angka 8% tersebut bisa tercapai jika mereka bisa meminimalisasikan tantangan ekonomi. "Mungkin bisa tercapai jika mengeliminir atau meminimalkan tantangan ekonomi. Tantangan ekonomi itu sendiri terdiri dari fiskal, investasi, pendidikan, ekspor-impor, pangan dan energi," tuturnya saat dihubungi Akurat.co, Kamis (26/9/2024).
Saat ini, salah satu permasalahan utama dalam pengelolaan anggaran fiskal di Indonesia adalah porsi belanja modal yang relatif lebih kecil dibandingkan belanja rutin. Kondisi ini mencerminkan keterbatasan kapasitas fiskal, di mana rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di angka 38%. Meningkatkan rasio utang hingga 50% tidaklah mungkin dilakukan karena kapasitas fiskal yang terbatas.
Baca Juga: Bertahap, Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Tak Akan Tercapai pada Tahun Depan
Dari perspektif investasi, daya tarik investasi di Indonesia saat ini belum mampu menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya daya tarik kawasan ekonomi khusus (KEK). Hambatan yang dihadapi termasuk kurangnya infrastruktur, ketidakpastian hukum, serta kurangnya integrasi dengan fasilitas umum. Selain itu, terdapat inkonsistensi antara kebijakan pemerintah pusat dan daerah, serta proses perizinan usaha yang sulit.
Di sisi pendidikan, rendahnya kualitas tenaga kerja di Indonesia turut menjadi faktor yang memperburuk situasi. Ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan di negara ini, di mana persentase lulusan SMP-SMA tidak mencapai 15%. Untuk mengatasi masalah ini, peningkatan kualitas pendidikan sangat diperlukan. Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi pemerataan standar mutu guru, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan di berbagai daerah, serta peningkatan partisipasi sektor swasta dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan.
Selain itu menurut Esther, salah satu strategi penting lainnya adalah mengaktifkan mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih luas, tidak hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga. Mengoptimalkan sektor ekspor dan impor merupakan kunci penting dalam upaya ini."Mengaktifkan mesin pertumbuhan ekonomi yang lain, bukan hanya dari konsumsi rumah tangga tapi juga meningkatkan ekspor impor," tambahnya.
Salah satu isu utama terkait ekspor adalah penurunan produksi beras di Indonesia pada tahun 2023, yang menyebabkan lonjakan harga. Harga beras pada tahun tersebut tercatat mencapai Rp13.210 per kilogram. Di kawasan ASEAN, Indonesia, Malaysia, dan Filipina merupakan produsen beras utama. Sementara itu, meskipun Singapura bukan produsen beras, negara ini menunjukkan keunggulan dalam pengolahan dan distribusi, terlihat dari nilai RCA (Revealed Comparative Advantage) yang relatif tinggi dan stabil.
Selain beras, ketergantungan Indonesia pada impor minyak juga menjadi sorotan. Pada periode Januari hingga September 2023, total volume impor minyak mencapai 32,8 juta ton. Tren ini dipicu oleh penurunan produksi minyak dalam negeri, sementara konsumsi domestik terus meningkat.
Tidak hanya itu, ketegangan geopolitik yang terjadi antara Iran dan Israel turut mempengaruhi pasar minyak global. Perang ini mengakibatkan kenaikan biaya logistik, penurunan pasokan minyak, serta kenaikan harga minyak dunia. Dampaknya pun merembet pada peningkatan biaya transportasi dan kenaikan harga barang-barang lainnya, yang pada akhirnya memicu inflasi di Indonesia.
"Langkah-langkah yang perlu diambil mencakup peningkatan produksi domestik, reformasi kebijakan investasi, serta peningkatan kualitas tenaga kerja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan," tegas Esther.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 3Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat









