Akurat Logo

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal l-2024, Cerminan Agregat?

M. Rahman | 7 Mei 2024, 13:33 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal l-2024, Cerminan Agregat?

AKURAT.CO Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, pada Hari Senin 6 Mei 2024 mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun 2024 sebesar 5,11% secara year on year (yoy).

Petumbuhan yang cukup agresif di sela-sela kondisi ekonomi global yang sedang challenging dan bahkan di atas perkiraan awal bloomberg.

Kalau kita cermati, pertumbuhan ekonomi kuartal ini ditopang secara signifikan oleh konsumsi masyarakat. Pada masa kuartal ini ada 2 (dua) momentum, yaitu lebaran dan kontestasi politik di pileg dan pilpres.

Dengan momentum ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sejak awal sudah optimis pertumbuhan ekonomi di atas 5% dan meningkat dibandingkan kuartal terakhir yang menyentuh angka 5,04%.

Optimisme pelaku usaha dan pemerintah berbanding lurus dengan hasil yang diumumkan BPS. Selanjutnya muncul pertanyaan, apakah pertumbuhan ekonomi 5,11% ini sudah maksimal?

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 5,11 Persen, Ini Penyumbangnya

Jawabannya adalah belum. Karena pada rentang masa ini, terjadi fluktuasi inflasi yang memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat. Tercatat inflasi kuartal pertama 2024 menyentuh angka 3%. Lebih tinggi daripada inflasi agregat 2023 yang hanya mencapai angka 2,61%.

Kalau tren inflasi tidak turun, maka daya beli akan terus mengalami tekanan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi cenderung tidak sustain.

Selanjutnya dibutuhkan insentif moneter, insentif fiskal, maupun regulasi yang pro dengan pertumbuhan dan pro dengan pemerataan.

Dalam konteks moneter, tingkat suku bunga acuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 6,25% cenderung tidak ideal dan memerlukan penyesuaian. Tingkat suku bunga tinggi akan mengurangi likuiditas di sistem perekonomian dan juga mendorong cost push inflation.

Dari sisi fiskal, pemerintah hanya mempunyai ruang yang sangat terbatas pada tahun 2024 ini untuk bisa menopang daya beli masyarakat, kalau hanya misalnya mengandalkan pola konvensional dengan metode bansos.

Dengan asumsi makro nilai tukar rupiah Rp15.000 terhadap dolar AS dan juga harga minyak USD82 per barel, struktur keuangan negara sudah defisit lebih dari Rp500 triliun atau setara 2,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Bahkan isu kenaikan tarif PPN awal tahun 2025, juga memberikan tekanan terhadap dunia usaha dan memberikan dampak psikologis naiknya harga barang.

Sedangkan sisi regulasi, harus lebih banyak insentif terhadap industri padat karya. Karena, secara alamiah, investasi yang terus mengalir cenderung investasi padat modal. Sehingga pencapaian investasi yang selalu over target sejak tahun 2019, tidak diiringi dengan penyerapan tenaga kerja.

Dari target penyerapan 3 juta tenaga kerja, pada tahun 2023 hanya mampu menyerap 1,8 juta.

Selain faktor moneter, fiskal dan regulasi, pemerintah juga harus melakukan program prioritas hilirisasi yang melibatkan lebih banyak stakeholder dan pelaku ekonomi nasional. Program hilirisasi ini akan memberikan daya ungkit ekonomi lebih maksimal ketika pemerintah fokus dengan sektor pertanian, perikanan, peternakan dan perkebunan.

Program hilirisasi yang menjadi bagian komitmen presiden Jokowi sebagai bagian transformasi ekonomi, harus lebih dikembangkan di era pemerintahan selanjutnya.

Kalau pemerintah fokus dengan 4 (empat) hal tersebut, maka pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2024 akan terus tereskalasi dan sampai akhir tahun bisa mencapai target secara agregat sebesar 5,2%.

Tetapi, ketika pemerintah tidak memberikan insentif yang tepat sasaran, pertumbuhan ekonomi akan mencapai di bawah target, sesuai yang tertuang dalam proyeksi Kerangka Ekonomi Makro.

Ajib Hamdani

Analis Kebijakan Ekonomi APINDO

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa