Rupiah Naik 21 Poin ke Rp15.549 Jelang Rilis Data Perdagangan dan Inflasi China

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 21 poin ke level Rp15.549 pada perdagangan Kamis (11/12024) jelang rilis data neraca perdagangan dan inflasi China besok.
Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa rupiah ditopang sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, pasar masih menunggu data utama indeks harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Desember, yang akan dirilis hari ini.
Inflasi IHK umum diperkirakan sedikit meningkat, sementara IHK inti diperkirakan terus turun. Inflasi diperkirakan akan tetap jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%, dan ditambah dengan tanda-tanda ketahanan pasar tenaga kerja baru-baru ini, menjadi pertanda buruk bagi ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal.
Baca Juga: Jelang Rilis Data CPI AS, Rupiah Berbalik Melemah 49 Poin ke Rp15.569
Namun para pedagang tampaknya masih mempertahankan ekspektasi mereka terhadap penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Maret, meskipun ada sedikit pemangkasan pada minggu lalu. Alat CME Fedwatch menunjukkan para pedagang memperkirakan peluang pemotongan suku bunga sebesar 67,1% di bulan Maret, naik dari 60,8% yang terlihat sehari lalu dan 64,7% yang terlihat pada minggu lalu.
Taruhan terhadap penurunan suku bunga lebih awal muncul kembali pada minggu ini setelah beberapa pejabat Fed menyatakan bahwa suku bunga tinggi berfungsi seperti yang diharapkan dalam menurunkan inflasi. Namun mereka juga tidak memberikan petunjuk kapan The Fed akan mulai menurunkan suku bunganya. Konsensus umum adalah penurunan suku bunga setidaknya 100 hingga 150 bps pada tahun ini.
"Fokus pasar saat ini tertuju pada angka perdagangan dan inflasi dari China, yang akan dirilis pada hari Jumat ini, untuk mengetahui isyarat ekonomi lebih lanjut terhadap importir tembaga terbesar di dunia tersebut," ujar Ibrahim dikutip Kamis (11/1/2024).
Sementara itu Wakil Presiden Bank Sentral Eropa Luis de Guindos mengatakan pada Rabu pagi bahwa zona euro mungkin telah berada dalam resesi pada kuartal terakhir dan prospeknya masih lemah. Bank Sentral Eropa (ECB) telah mencoba mempertahankan suku bunga pada rekor tertinggi selama beberapa waktu, namun kemungkinan besar akan mendapat tekanan untuk melonggarkan kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Sentimen Internal Rupiah
Dari internal, pemerintah tetap optimistis meski Bank Dunia atau World Bank merevisi ke bawah outlook ekonomi global 2024 dari 2,6% menjadi 2,4%. Sinyal perlambatan ekonomi 2024 pada dasarnya memang sudah muncul sejak 2023, namun angkanya terus direvisi ke bawah. Meski demikian, pemerintah telah mengantisipasi perlambatan global tersebut yang berpotensi mempengaruhi ekonomi Indonesia.
Pasalnya, hingga kini disrupsi mulai dari suplai barang, isu perubahan iklim, harga komoditas, dan pengetatan moneter memang menjadi faktor utama perlambatan ekonomi global. Untuk itu, dalam jangka pendek, pemerintah akan terus mendorong daya beli masyakarat dengan penyaluran bantuan social (bansos) berupa beras dan bahan pokok. Mengingat hingga kuartal ketiga 2023, bahwa produk domestik bruto (PDB) masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga.
Sedangkan bantuan, akan dimulai dari kuartal pertama 2024, bukan pada akhir tahun seperti yang dilakukan pada 2023. Hal tersebut sebagai upaya untuk menjaga ekonomi Indonesia tetap sesuai target pemerintah di angka 5,2% pada 2024. Adapun, Bank Dunia meramalkan ekonomi Indonesia pada 2024 dan 2025 akan stabil di 4,9%, lebih rendah dari ramalan 2023 di angka 5%. Dengan adanya perlambatan ekonomi global , kinerja ekspor diprediksi akan menurun.
Terlebih, Bank Dunia memprediksikan ekonomi untuk pangsa pasar ekspor utama Indonesia, yaitu China, dalam dua tahun ini akan terus melambat. Pada 2024 menjadi 4,5%, turun dari estimasi 2023 sebesar 5,2% dan terus menurun pada 2025 menjadi 4,3%.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan kumulatif Indonesia sepanjang Januari hingga November 2023 turun USD16,91 miliar dari periode yang sama pada 2022. Neraca perdagangan barang kembali mengalami surplus selama 43 bulan berturut-turut meskipun lebih rendah dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Tiba di Jakarta, Ryan Giggs Terkesan 'Kehebohan' Penggemar Sejak di Bandara
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan







