5 Fakta Menarik Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, Pendiri Blue Bird

AKURAT.CO Ada beberapa perusahaan taksi yang beroperasi di Indonesia. Blue Bird menjadi satu perusahaan taksi yang tidak hanya terbesar, tetapi juga tertua di Indonesia. Tidak hanya mampu melewati puluhan tahun perubahan, Blue Bird juga berhasil beradaptasi dengan baik. Pendirian Blue Bird tidak lepas dari sosok Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono.
Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta penting terkait sosok Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono.
1. Alami kebangkrutan ketika masih kecil
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono atau biasa dipanggil Nyonya Djoko ini awalnya hidup dalam keluarga mampu. Namun, hanya beberapa tahun, keluarganya mengalami kebangkrutan dan membuatnya menjalani hidup dalam berbagai keterbatasan. Maka dari itu, sejak kecil, Mutiara Siti Fatimah telah berusaha keras membantu ekonomi keluarganya. Hingga akhirnya, Mutiara memutuskan untuk meninggalkan kampungnya demi berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
2. Berjualan pakaian hingga telur
Selama kuliah, Mutiara memutuskan untuk menikah dengan Djokosoetono. Meski telah berkeluarga, Wanita kelahiran Malang tersebut tetap membantu ekonomi keluarga dengan menjalani sejumlah bisnis. Salah satunya adalah menjual kain batik dari rumah ke rumah di kawasan rumahnya di Menteng, Jakarta. Selain itu, Mutiara juga membuka bisnis telur yang pasokannya dari Kebumen, Jawa Tengah. Bisnisnya pun terus berkembang.
3. Berbisnis dari mobil warisan perusahaan mendiang suami
Situasi Mutiara pun semakin sulit karena sang suami meninggal dunia pada September 1965 silam. Meski begitu, wanita kelahiran 17 Oktober 1921 ini terus berusaha berbisnis. Berbekal mobil sedan Opel dan Mercedes bekas dari perusahaan tempat mendiang suaminya bekerja, Mutiara membuat sebuah konsep bisnis yang sebelumnya belum pernah diterapkan di Indonesia.
4. Dirikan Chandra Taxi
Konsep bisnis tersebut adalah taksi yang tarifnya dihitung per meter. Tak hanya itu, model bisnis ini juga memanfaatkan telepon rumah untuk menerima pesanan sehingga taksi dapat langsung meluncur ke lokasi pemesan. Sopir pertamanya adalah sang anak sulung, Chandra, yang kemudian menjadi nama bisnisnya, Chandra Taksi. Terus meningkat, perusahaannya berhasil memliliki hingga 60 unit armada. Sempat tidak mendapatkan izin, akhirnya Mutiara berhasil mendapatkan izin setelah melakukan unjuk rasa dengan janda pahlawan kepada Ali Sadikin, Gubernur Jakarta saat itu.
5. Nama dari dongeng
Berbagai upaya dilakukan Mutiara demi meningkatkan perushaan taksinya. Salah satu caranya adalah dengan mengubah nama perusahaannya menjadi Blue Bird. Nama tersebut diambil dari salah satu dongeng favoritnya yang berasal dari Eropa. Berdiri dengan nama PT Sewindu Taxi, Blue Bird sempat memiliki hingga 5.000 armada. Selain itu, memiliki brand lain seperti Silver Bird dan Golden Bird, Blue Bird melebarkan sayap hingga berbagai kota lain mulai dari Bandung, Surabaya, Medan, hingga Lombok.
Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono terus mengembangkan bisnisnya hingga ia mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 2000 akibat penyakit kanker paru-paru.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK



