Pertahankan Peringkat Utang RI, Moody's Beberkan Sederet Hal Ini!

AKURAT.CO, Lembaga Pemeringkat Moody's kembali mempertahankan Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada peringkat Baa2. Satu tingkat di atas investment grade dengan outlook stabil pada 10 Februari 2022.
Mengenai hal tersebut Moody's memandang bahwa efektivitas kebijakan moneter dan makro ekonomi akan tetap terjaga. Harapannya, reformasi struktural yang baru-baru ini ditempuh oleh pemerintah juga didukung oleh peningkatan investasi dan serta menopang daya saing ekspor.
Melansir dari Moody’s, pihak pemeringkat itu pun memperkirakan aktivitas ekonomi akan kembali ke rata-rata pada tahun 2023 dengan pertumbuhan bertahan pada tingkat tersebut setelahnya. Prospek stabil ini akan mencerminkan risiko yang seimbang, sehingga mereka berharap reformasi untuk dilaksanakan secara bertahap dengan menunda beberapa hal dan perbaikan yang mungkin akan terjadi. Secara keseluruhan untuk mempertahankan pertumbuhan dan metrik fiskal pada tingkat saat ini.
Moody's juga memproyeksikan pertumbuhan PDB di Indonesia akan kembali menjadi 5 persen. Pada tingkat diproyeksikan pertumbuhan akan lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain yang berada diperingkat Baa yang diperkirakan sebesar 3,7 persen.
Moody’s juga berasumsi bahwa dengan perlambatan pertumbuhan pendapat relatif pada tahun 2021 karena penurunan harga komoditas, beberapa pelonggaran dalam pengeluaran akan mendorong konsolidasi defisit fiskal menjadi 3,8 persen dari PDB pada tahun 2022.
Menurutnya ini akan menjadi pembuka jalan bagi pemerintah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan untuk kembali ke plafon defisit 3,0 persen pada tahun 2023 nantinya.
Kemudian Moody’s juga memaparkan terkait langkah-langkah fiskal dan moneter yang diambil dalam menangani pandemi Covid-19. Khususnya pada pembiayaan defisit bank sentral yang juga akan dinormalisasi pada akhir tahun ini sejalan dengan apa yang sudah ditargetkan pemerintah
Dengan keluarnya kebijakan yang efektif tersebut akan mengonfirmasikan kredibilitas kebijakan secara menyeluruh, dengan implikasi bagi kepercayaan investor asing, arus utang, mata uang dan inflasi.
Untuk peringkat Baa2 juga mempertimbangkan kekuatan fiskal yang relatif melemah. Secara khusus keterjangkauan utang yang sangat lemah, meskipun pemerintah telah mempertahankan rasio utang terhadap PDB pada tingkat yang jauh di bawah negara-negara lain dengan peringkat yang sama.
Reformasi pendapatan yang sudah disetujui baru-baru ini dengan rencana menuju normalisasi fiskal akan mendukung stabilisasi beban utang di tahun 2023.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 3Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 4Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Malam Ini!
- 5Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 6Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 7Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 8Sekjen PBB Guterres Desak Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Teheran Ajukan Proposal 7 Hari
- 9Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun
- 10Kejagung Amankan Mantan Sekjen Kementerian ESDM Tersangka Korupsi Nikel


