Akurat

BI: Indeks PMI Kuartal III-2025 Naik ke 51,6 Persen

Hefriday | 17 Oktober 2025, 17:59 WIB
BI: Indeks PMI Kuartal III-2025 Naik ke 51,6 Persen

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja lapangan usaha (LU) industri pengolahan terus menunjukkan peningkatan pada kuartal III 2025. 

Berdasarkan hasil survei terbaru, sektor ini tercatat berada dalam fase ekspansi dengan Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) mencapai 51,66%, naik dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 50,89%.
 
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, capaian tersebut mencerminkan peningkatan aktivitas industri yang cukup merata di sebagian besar sublapangan usaha.
 
“PMI-BI pada kuartal III 2025 menunjukkan ekspansi yang lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya. Angka ini mengindikasikan sektor industri pengolahan tetap menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Ramdan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
 
 
Peningkatan PMI-BI pada periode ini didorong oleh ekspansi pada mayoritas komponen utama, antara lain volume produksi sebesar 53,62%, volume total pesanan sebesar 52,82%, dan volume persediaan barang jadi sebesar 52,68%.
 
Kinerja positif di berbagai komponen ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk manufaktur masih kuat, baik dari pasar domestik maupun ekspor.
 
“Kenaikan pada komponen produksi dan pesanan mengindikasikan optimisme pelaku industri terhadap prospek ekonomi ke depan,” kata Ramdan.
 
Jika dilihat berdasarkan sublapangan usaha (Sub-LU), sebagian besar sektor manufaktur mengalami ekspansi dengan capaian tertinggi pada industri mesin dan perlengkapan yang mencatat indeks 58,57%.
 
Sektor lainnya yang juga tumbuh signifikan yakni industri pengolahan tembakau sebesar 57,79%, serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki dengan indeks 57,50%.
 
Ramdan menilai, sektor-sektor tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan industri nasional dan membuka lapangan kerja di berbagai daerah.
 
Kinerja positif industri pengolahan juga sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia. Dalam survei tersebut, nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk lapangan usaha industri pengolahan mencapai 1,61%, menandakan peningkatan aktivitas bisnis di sektor manufaktur.
 
Peningkatan ini turut didorong oleh realisasi proyek pemerintah, ketersediaan bahan baku, dan permintaan pasar yang stabil sepanjang kuartal ketiga.
 
Bank Indonesia memperkirakan kinerja industri pengolahan akan tetap terjaga pada triwulan IV 2025, dengan PMI-BI diproyeksikan berada di level 51,36%, yang berarti masih dalam fase ekspansi.
 
Peningkatan aktivitas diprediksi akan terjadi terutama pada akhir tahun, seiring dengan meningkatnya permintaan konsumen menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur akhir tahun.
 
“Kami melihat momentum positif ini akan berlanjut. Beberapa komponen utama diperkirakan tetap berada dalam fase ekspansi, terutama produksi dan pesanan baru,” jelas Ramdan.
 
Berdasarkan komponen pembentuknya, BI memperkirakan indeks volume produksi mencapai 52,89%, volume total pesanan sebesar 52,46%, dan volume persediaan barang jadi sebesar 51,74% pada kuartal keempat 2025.
 
Ketiga indikator tersebut menunjukkan pelaku industri masih optimistis terhadap prospek ekonomi nasional dan permintaan pasar.
 
Menariknya, BI juga mencatat bahwa pada kuartal IV 2025, industri furnitur berpotensi menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi, dengan indeks ekspansi mencapai 56,05%.
 
Selain itu, industri mesin dan perlengkapan serta industri kulit dan alas kaki diperkirakan tetap menjadi penyumbang utama dengan indeks masing-masing 57,86% dan 57,50%.
 
Ramdan menambahkan, peningkatan PMI juga tidak lepas dari dukungan investasi baru di sektor manufaktur, baik dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) maupun penanaman modal asing (PMA).
 
Selain itu, permintaan domestik yang kuat turut menopang aktivitas industri, terutama dari sektor otomotif, makanan-minuman, dan produk kebutuhan rumah tangga.
 
“Kombinasi antara konsumsi rumah tangga yang stabil dan peningkatan investasi di sektor riil menjadi faktor utama yang menjaga ekspansi industri,” katanya.
 
Dengan tren positif ini, Bank Indonesia optimistis industri pengolahan akan terus menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mendatang.
 
Peningkatan produktivitas, adopsi teknologi baru, serta keberlanjutan rantai pasok diharapkan dapat menjaga daya saing industri nasional di tengah ketidakpastian global.
 
“Sektor manufaktur adalah tulang punggung ekonomi. Konsistensi ekspansi ini menjadi sinyal baik bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional,” tukas Ramdan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa