Trump Kenakan Tarif Hingga 145%, Struktur Pertumbuhan Ekonomi China Kian Terancam

AKURAT.CO Meski sempat mencatat lonjakan ekspor pada Maret 2025, perekonomian China tak sepenuhnya bebas dari tekanan. Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump telah menetapkan tarif tambahan hingga 145% terhadap berbagai barang asal China, termasuk ponsel, komputer, dan barang elektronik populer.
Tarif tersebut berada jauh di atas ambang batas yang menurut analis bisa menghancurkan perdagangan bilateral. Tentunya langkah tersebut pun memicu respons keras dari Beijing dan meningkatkan risiko retaknya hubungan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia.
Meskipun AS sempat memberikan pembebasan terhadap beberapa produk elektronik konsumen, Trump menegaskan bahwa pengecualian tersebut tidak akan berlangsung lama.
“Tarif tetap akan diterapkan pada produk-produk strategis milik China,” ujar Trump, Minggu (13/4/2025) lalu.
Baca Juga: Hadapi Tarif Trump, Airlangga: RI Bakal Beli Barang dari AS Sesuai Kebutuhan
Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran besar terhadap kelanjutan arus dagang global. Dikutip dari Bloomberg, data perdagangan China bulan lalu belum mencerminkan dampak jangka panjang dari perang dagang.
“Ekspor China kemungkinan akan terpukul pada April dan bulan-bulan berikutnya,” ucap Analis Bloomberg Economics, David Qu.
Sementara itu, lanjut David, turunnya impor sebesar 4,3% pada Maret menjadi pertanda lemahnya permintaan domestik.
"Sehingga hal tersebut menandakan bahwa pelaku industri dalam negeri tengah bersiap menghadapi penurunan ekspor yang dipicu tarif tinggi dari AS.
Kemudian jika melihat dari sisi pasar saham, lanjutnya, investor tampak sedikit lega berkat pembebasan tarif AS sementara ini. Dimana indeks Hang Seng China Enterprises naik 2,7%, dan indeks CSI 300 juga mengalami kenaikan sebesar 0,7%.
Baca Juga: Trump Bebaskan Ponsel dan Komputer dari Kenaikan Tarif Impor
"Meskipun begitu, ketegangan perdagangan antara AS dan China diperkirakan akan terus membayangi pasar dan ekonomi global dalam waktu dekat, terutama jika kedua negara tak menunjukkan tanda-tanda kompromi," paparnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 5Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara









