Hadapi Tarif Trump, China Bakal Longgarkan Kebijakan Moneter
Demi Ermansyah | 10 Desember 2024, 12:58 WIB

AKURAT.CO Para petinggi China akhirnya mengubah pendekatan mereka terhadap kebijakan moneter, sebuah langkah pertama dalam sekitar 14 tahun silam sebagai persiapan menghadapi kemungkinan perang dagang kedua saat Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS bulan depan.
Politbiro, yang terdiri dari 24 pejabat senior Partai Komunis yang dipimpin Presiden Xi Jinping, mengumumkan akan mengadopsi pendekatan kebijakan yang "lebih longgar" pada tahun depan.
Dimana langkah ini dianggap sebagai sinyal pelonggaran kebijakan yang lebih besar, yang kemungkinan disambut baik oleh investor yang mengharapkan dorongan stimulus tambahan.
Baca Juga: China Batasi Ekspor Komponen Drone ke AS
Pemerintah juga menegaskan akan mengadopsi kebijakan fiskal yang "lebih proaktif." Sebelumnya, mereka hanya menyebut kebijakan fiskal akan "proaktif." Pernyataan ini didukung oleh laporan Xinhua, dikutip Selasa (10/12/2024), yang menyinggung peluang untuk meningkatkan pinjaman dan defisit fiskal pada 2025.
Meski dalam beberapa tahun terakhir China telah beberapa kali menyesuaikan kebijakan moneter antara pengetatan dan pelonggaran, karakterisasi kebijakan "bijaksana" tetap dipertahankan sejak 2011. Sebelumnya, negara ini sempat menerapkan kebijakan "sedikit longgar" selama Krisis Keuangan Global untuk menekan inflasi yang melonjak.
Pemerintah juga menegaskan akan mengadopsi kebijakan fiskal yang "lebih proaktif." Sebelumnya, mereka hanya menyebut kebijakan fiskal akan "proaktif." Pernyataan ini didukung oleh laporan Xinhua, dikutip Selasa (10/12/2024), yang menyinggung peluang untuk meningkatkan pinjaman dan defisit fiskal pada 2025.
Meski dalam beberapa tahun terakhir China telah beberapa kali menyesuaikan kebijakan moneter antara pengetatan dan pelonggaran, karakterisasi kebijakan "bijaksana" tetap dipertahankan sejak 2011. Sebelumnya, negara ini sempat menerapkan kebijakan "sedikit longgar" selama Krisis Keuangan Global untuk menekan inflasi yang melonjak.
Langkah terbaru ini mencerminkan kebutuhan mendesak untuk mempercepat pelonggaran kebijakan bank sentral di tengah harapan pertumbuhan ekonomi pasca-pandemi yang tidak tercapai. People's Bank of China (PBoC) telah beberapa kali memangkas suku bunga dan menurunkan cadangan wajib bank, meskipun mereka masih kesulitan mendorong peningkatan pinjaman.
Hingga pada akhirnya, konferensi Desember yang akan berlangsung nanti akan menjadi pijakan untuk Konferensi Kerja Ekonomi Pusat, yang bertugas merumuskan prioritas utama tahun depan, termasuk target pertumbuhan untuk 2025.
Hingga pada akhirnya, konferensi Desember yang akan berlangsung nanti akan menjadi pijakan untuk Konferensi Kerja Ekonomi Pusat, yang bertugas merumuskan prioritas utama tahun depan, termasuk target pertumbuhan untuk 2025.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








