Di mana peranan tersebut menjadi salah satu peran paling strategis, mengingat tantangan ekonomi yang semakin kompleks di tingkat global dan nasional.
Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, sosok yang tepat untuk menduduki posisi ini harus memiliki kapasitas teknis yang mendalam, integritas tanpa cela, dan kepemimpinan yang tangguh.
"Pertama, dari segi kapasitas teknis, Menteri Keuangan harus memiliki penguasaan yang mendalam terhadap kebijakan fiskal dan keuangan negara. Hal ini mencakup pemahaman tentang mekanisme ekonomi nasional, serta dinamika global yang mempengaruhi pasar keuangan dan investasi. Pengalaman birokrasi juga sangat diperlukan, karena akan memberikan calon Menteri wawasan praktis tentang pengelolaan keuangan negara di tengah berbagai tantangan, seperti peningkatan tax ratio yang ambisius hingga 23 persen, stabilitas fiskal, serta pengelolaan utang luar negeri yang terus meningkat di tengah ancaman resesi global," paparnya ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (15/10/2024).
Selain kemampuan teknis, lanjutnya, integritas menjadi pilar utama yang harus dimiliki oleh calon Menteri Keuangan. Rekam jejak yang bersih dari segala bentuk penyalahgunaan wewenang atau korupsi adalah syarat mutlak.
"Sebab dalam menjalankan fungsinya, seorang Menteri Keuangan bertanggung jawab untuk mengelola anggaran negara yang sangat besar, memastikan setiap kebijakan fiskal berjalan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan," ucapnya kembali.
Dimana nantinya, publik akan menaruh kepercayaan besar kepada Menteri Keuangan yang memiliki reputasi bersih dan akuntabel, karena mereka tahu bahwa pengelolaan keuangan negara berada di tangan yang tepat.
Dengan banyaknya interaksi antar kementerian dan lembaga, serta hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, integritas yang kuat juga akan memastikan bahwa tidak ada pelanggaran yang dapat merusak kredibilitas pemerintahan secara keseluruhan.
"Tak kalah penting, seorang Menteri Keuangan juga harus memiliki kepemimpinan yang tangguh. Posisi ini tidak hanya menuntut kemampuan untuk memimpin di lingkup kementerian, tetapi juga memerlukan kemampuan interpersonal dan jejaring yang kuat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri," tegasnya.
Menteri Keuangan harus mampu bekerja sama dengan kementerian lain, pemerintah daerah, serta mitra internasional seperti investor asing, lembaga keuangan global, dan negara-negara lain.
Sedangkan dalam konteks ekonomi global yang penuh ketidakpastian dengan ketegangan geopolitik antara negara besar dan gangguan rantai pasok akibat perang atau krisis Menteri Keuangan perlu memiliki kemampuan negosiasi dan diplomasi ekonomi yang kuat.
Membangun hubungan yang baik dengan para pemangku kepentingan internasional adalah kunci untuk menjaga arus investasi masuk dan mempertahankan stabilitas fiskal Indonesia di tengah gejolak ekonomi global.
"Di samping itu, Menteri Keuangan harus mampu mendorong kerjasama antar kementerian, mengingat peran Kementerian Keuangan yang sangat strategis dalam mengelola anggaran seluruh sektor pemerintahan. Kementerian ini bertanggung jawab untuk mendistribusikan anggaran antar kementerian, serta mengatur transfer keuangan dari pusat ke daerah," ucapnya.
Oleh karena itu, kepemimpinan yang kuat dan kemampuan menjalin kolaborasi antar lembaga sangat diperlukan agar semua program dan kebijakan pemerintah berjalan efektif. Dalam skala global, kepemimpinan dalam berinteraksi dengan investor internasional dan lembaga keuangan global juga penting untuk memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang aman dan menarik bagi investasi asing.
Dengan demikian, Menteri Keuangan yang ideal dalam kabinet Prabowo Subianto adalah sosok yang memiliki kombinasi dari kapasitas teknis yang mumpuni, integritas yang tak tercela, dan kepemimpinan yang kuat.
Dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat, mulai dari ketidakstabilan fiskal hingga ketegangan geopolitik global, sosok ini harus mampu mengelola keuangan negara dengan cermat, menjaga transparansi, serta membangun jejaring luas di tingkat nasional dan internasional.
"Mereka bukan hanya seorang ahli ekonomi, tetapi juga pemimpin yang berintegritas dan visioner, yang mampu menjaga stabilitas dan memajukan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah," terangnya.
Sosok Paling Cocok?
Jika mengacu kepada syarat-syarat paling cocok untuk menjadi Menteri Keuangan berdasarkan pernyataan dari Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal, maka secara tidak langsung Sri Mulyani telah memenuhi persyaratan tersebut.
Seperti yang diketahui, posisi Menteri Keuangan di kabinet Prabowo Subianto membutuhkan sosok yang memiliki kapasitas teknis, integritas, dan kepemimpinan yang kuat karakteristik yang sangat jelas terlihat dalam rekam jejak Sri Mulyani Indrawati selama menjabat sebagai Menteri Keuangan.
Sri Mulyani telah membuktikan dirinya sebagai figur yang sangat kompeten dalam menangani tantangan keuangan negara, baik dalam situasi domestik maupun global. Sejak pertama kali menjabat pada 2005 hingga 2010, dan kemudian kembali di 2016 hingga sekarang, ia telah melalui berbagai periode krisis ekonomi dan mampu menjaga stabilitas fiskal Indonesia.
Dalam hal kapasitas teknis, Sri Mulyani dikenal sebagai seorang ekonom kelas dunia. Sebelum menjabat sebagai Menteri Keuangan, ia sempat menjabat sebagai Direktur Pelaksana di Bank Dunia, di mana ia menangani kebijakan keuangan global dan interaksi dengan negara-negara berkembang.
Pemahaman mendalam tentang ekonomi makro dan pengalaman birokrasi tingkat tinggi ini memungkinkan Sri Mulyani untuk merancang kebijakan fiskal yang adaptif dan efektif. Ia berhasil menjaga defisit anggaran tetap terkendali, bahkan ketika ekonomi Indonesia menghadapi tekanan berat, seperti saat pandemi Covid-19.
Pengalaman Sri Mulyani di panggung global juga memberinya keunggulan dalam berinteraksi dengan lembaga-lembaga internasional dan investor, sebuah kemampuan yang sangat diperlukan untuk seorang Menteri Keuangan di masa mendatang.
Integritas Sri Mulyani juga menjadi salah satu alasan utama mengapa ia dihormati, baik di dalam maupun luar negeri. Ia dikenal memiliki rekam jejak yang bersih dari korupsi dan selalu menjunjung tinggi transparansi dalam pengelolaan keuangan negara.
Pada masa pertama ia menjabat sebagai Menteri Keuangan, salah satu pencapaiannya yang paling menonjol adalah membersihkan Kementerian Keuangan dari praktik korupsi melalui reformasi birokrasi yang ketat.
Hal ini menjadikannya tokoh yang sangat dihormati dalam lingkup pemerintahan, di mana akuntabilitas dan integritas sangatlah penting dalam memastikan anggaran negara digunakan secara efisien dan tepat sasaran. Dalam kabinet Prabowo, Menteri Keuangan dengan integritas seperti Sri Mulyani akan sangat diperlukan untuk menjaga kredibilitas pemerintah di mata publik dan investor asing.
Selain itu, kepemimpinan Sri Mulyani telah terbukti tangguh dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Sebagai Menteri Keuangan, ia harus memastikan kebijakan fiskal diterapkan secara konsisten di seluruh kementerian dan pemerintah daerah.
Di tengah tantangan global, seperti ketidakstabilan ekonomi akibat pandemi dan perang dagang antara negara-negara besar, Sri Mulyani mampu menjaga koordinasi lintas kementerian dengan baik, sekaligus memelihara hubungan yang konstruktif dengan pihak eksternal.
Keterampilan interpersonalnya dalam berinteraksi dengan kementerian lain dan mitra internasional juga terlihat jelas saat ia mengoordinasikan anggaran belanja negara dan kebijakan stimulus fiskal selama krisis. Kemampuan ini sangat penting dalam kabinet Prabowo, terutama mengingat peran Menteri Keuangan sebagai penghubung antara pemerintah pusat, daerah, dan komunitas internasional.
Menteri Keuangan yang ideal dalam kabinet Prabowo Subianto harus memiliki tiga kualitas utama yang juga terlihat jelas dalam sosok Sri Mulyani: kapasitas teknis yang mumpuni, integritas yang kokoh, dan kepemimpinan yang kuat. Sri Mulyani telah menunjukkan bahwa kombinasi ini adalah kunci untuk menjaga stabilitas fiskal, menarik investasi asing, serta memastikan anggaran negara dikelola dengan transparan dan efisien.
Seperti yang dialami Sri Mulyani dalam berbagai krisis ekonomi, Menteri Keuangan masa depan juga harus mampu beradaptasi dengan cepat terhadap tantangan global yang selalu berubah, sambil tetap mempertahankan akuntabilitas dan kepercayaan publik. Maka dari itu, sosok yang akan mengisi jabatan ini haruslah mampu mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh Sri Mulyani, yang selama ini diakui sebagai salah satu Menteri Keuangan terbaik di dunia.
Dipanggil Prabowo
Beberapa waktu lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani dipanggil oleh Prabowo Subianto, dimana dirinya memastikan bahwa Presiden terpilih Prabowo Subianto telah memintanya menjadi menteri keuangan lagi.
Kepastian tersebut ia berikan setelah menemui Prabowo di kediamannya di Jalan Kertanegara VI, Senin (14/10/2024). Usai pertemuan, Sri Mulyani langsung mengatakan, "Beliau meminta saya menjadi menteri keuangan lagi," tegasnya.
Ia mengatakan bahwa permintaan disampaikan Prabowo setelah berdiskusi cukup panjang dengannya. "Saya dengan Pak prabowo sudah beberapa kali ya, tentu saja briefing untuk keuangan negara APBN, karena selama beliau transisi dan pada saat kita menyiapkan APBN 2025 kan perlu untuk mendengar apa-apa saja yang menjadi prioritas dan arahan dari presiden dan wapres terpilih," ujarnya lagi.
"Jadi kami selalu konsultasi. Kemudian kita juga berdiskusi mengenai berbagai langkah untuk memperkuat Kementerian Keuangan dan keuangan negara untuk bisa mendukung program-program Beliau," imbuhnya.
Manurutnya, Prabowo memberikan berbagai arahan mengenai pengelolaan dari sisi penerimaan negara, pajak, bea cukai, PNBP, belanja negara, belanja negara untuk kementerian/lembaga maupun untuk transfer ke daerah dan juga berbagai investasi yang dilakukan terus dioptimalkan ditingkatkan kualitasnya diyakinkan untuk efektifitas terutama untuk manfaat kepada masyarakat.
Prabowo juga sangat perhatian bagaimana dampak kepada APBN kepada masyarakat dan hal itu menjadi tekanan baginya. "Jadi kita diskusi cukup lama dan panjang ya selama ini dengan beliau. Oleh karena itu pada saat untuk pembentukan kabinet beliau meminta saya untuk menjadi menteri keuangan kembali," ujar Sri.