Prabowo Diminta Bertangan Besi Sekaligus Partisipatif dalam Membangun Ekonomi RI

AKURAT.CO Penerapan kebijakan "tangan besi" atau strong leadership dalam agenda pembangunan ekonomi nasional dinilai perlu dilakukan Presiden Terpilih, Prabowo Subianto namun dengan sejumlah catatan.
Menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, penerapan kebijakan "tangan besi" dalam agenda pembangunan tidak sesuai dengan semangat otonomi daerah dan prinsip pembangunan yang partisipatif.
Menurutnya, langkah-langkah tersentralisasi dan terburu-buru yang tak melibatkan masyarkat dapat berdampak buruk pada hubungan antara pemerintah pusat dan daerah, serta mengabaikan aspirasi lokal yang sebenarnya penting untuk keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan.
Bhima mengingatkan bahwa kebijakan pembangunan yang terlalu dipaksakan dan tersentralisasi, meskipun tujuannya adalah untuk mempercepat eksekusi proyek, justru akan menimbulkan masalah besar di kemudian hari. Hal ini dapat dilihat dari pengalaman penerapan Undang-Undang Cipta Kerja yang telah memperkuat kewenangan pemerintah pusat.
Ia menjelaskan bahwa akibat dari sentralisasi ini, pemerintah daerah banyak kehilangan kewenangan. Ini menyebabkan masalah serius, terutama dalam proyek hilirisasi di Sulawesi dan Maluku. Bhima mencontohkan bahwa meskipun pemerintah daerah harus menangani masalah lingkungan dan sosial yang muncul, bagi hasil dari hilirisasi ke daerah sangat kecil.
Salah satu dampak nyata dari kebijakan "tangan besi" ini adalah merebaknya konflik di proyek geothermal (panas bumi) di berbagai wilayah, yang terjadi karena pendekatan top-down yang minim pelibatan masyarakat. Konflik agraria pun berpotensi meningkat signifikan, dengan masyarakat yang sebelumnya dijanjikan kesejahteraan melalui pembangunan justru terjebak dalam konflik yang merugikan mereka.
Bhima juga mengingatkan bahwa meskipun semangat Prabowo untuk memangkas birokrasi guna meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya perizinan adalah hal yang positif, penerapan kebijakan dengan cara-cara "tangan besi" dapat lebih banyak menimbulkan kerugian bagi perekonomian. "Tangan besi dengan rencana program yang terburu-buru dan tidak partisipatif lebih banyak merugikan ekonomi," tegasnya.
Lebih lanjut, Bhima menekankan pentingnya pendekatan yang partisipatif dalam pembangunan, di mana masyarakat dan pemerintah daerah terlibat secara aktif. Hal ini tidak hanya mengurangi potensi konflik, tetapi juga memastikan bahwa pembangunan berjalan sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat setempat, sehingga dampak ekonominya lebih terasa dan berkelanjutan.
Penerapan kebijakan pembangunan yang terpusat tanpa pelibatan daerah dan masyarakat secara aktif, menurut Bhima, berisiko mengubah agenda pembangunan yang seharusnya membawa kesejahteraan menjadi sumber bencana bagi masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan "tangan besi" tanpa memperhatikan partisipasi publik justru berpotensi merusak nilai ekonomi yang ingin dicapai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 8Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







