Akurat Logo

Gubernur BI Sebut Ada Kemungkinan The Fed Turunkan Bunga pada September 2024

Silvia Nur Fajri | 2 Agustus 2024, 16:24 WIB
Gubernur BI Sebut Ada Kemungkinan The Fed Turunkan Bunga pada September 2024

AKURAT.CO Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengungkapkan bahwa terdapat kemungkinan penurunan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed Fund Rate/FFR) di Amerika Serikat akan terjadi lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan bahwa awalnya mereka memperkirakan The Fed baru akan menurunkan suku bunganya pada November atau Desember 2024. Namun, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2024, proyeksi tersebut mengalami perubahan. Kini, The Fed diperkirakan akan melakukan penurunan suku bunga pada September 2024.

"Namun, Federal Open Market Committee (FOMC) baru-baru ini mengindikasikan bahwa penurunan bunga The Fed mungkin dimulai pada September 2024," ujar Perry dalam konferensi pers KSSK pada Jumat (2/8/2024).

Baca Juga: Suku Bunga The Fed Diramal Turun di November 2024, Perry: Rupiah Akan Semakin Menguat dan Stabil

Meskipun demikian, Perry menyatakan belum dapat memastikan kapan suku bunga acuan BI, atau BI-rate, akan mengalami penurunan. Saat ini, BI-rate berada di level 6,25% setelah mengalami kenaikan 25 basis poin pada April 2024. Pada RDG Mei hingga Juli 2024, BI mempertahankan BI-rate pada level tersebut.

"Dengan kondisi inflasi inti yang diperkirakan tetap rendah di masa depan, seharusnya BI-rate bisa diturunkan. Inflasi inti pada Juli 2024 tercatat sebesar 0,18 persen month to month (mtm), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,1 persen mtm," kata Perry.

Kemudian, Perry menambahkan, meskipun inflasi inti stabil, BI belum dapat menurunkan BI-rate karena perlu fokus pada mitigasi risiko global. "Kami harus memastikan risiko global terkendali dulu sebelum memutuskan penurunan BI-rate. Ini merupakan langkah yang harus kami ambil untuk menjaga stabilitas," jelasnya.

Dalam rangka mitigasi risiko global, BI akan melakukan intervensi di pasar valuta asing, termasuk investasi di valas serta intervensi di spot. Perry juga menginformasikan bahwa cadangan devisa Indonesia masih dalam kondisi yang aman, meskipun tidak memungkinkan untuk terus-menerus melakukan intervensi di pasar.

"Untuk itu, kami melakukan koordinasi dengan Menteri Keuangan mengenai penggunaan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menyeimbangkan kondisi tersebut. Pada kuartal pertama tahun ini, terjadi aliran keluar SBN sebesar USD1,82 miliar," tambah Perry.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.