Akurat Logo

Ini Sebab Rupiah Ditutup Melemah Meski Ada Pelantikan 3 Wakil Menteri Ekonomi

M. Rahman | 18 Juli 2024, 16:19 WIB
Ini Sebab Rupiah Ditutup Melemah Meski Ada Pelantikan 3 Wakil Menteri Ekonomi

AKURAT.CO Rupiah ditutup melemah 55 poin ke level Rp16.155 pada perdagangan Kamis, 18 Juli 2024 meski Presiden Jokowi baru saja melantik 3 Wakil Menteri Ekonomi. Seperti diketahui, Jokowi baru saja melantik Thomas Djiwandono sebagai Wakil Menteri Keuangan, Yuliot sebagai Wakil Menteri Investasi dan Sudaryono sebagai Wakil Menteri Pertanian.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen eksternal saat ini lebih kuat mendikte gerak rupiah ketimbang sentimen internal.

"Ini karena permasalahan perang dagang antara AS dengan China di mana calon presiden Donald Trump mengatakan akan melakukan perang dagang kembali dengan China sementara China saat ini sedang bermasalah ekonominya. Karena yang berbicara calon presiden Donald Trump yang kemungkinan besar terpilih, pasar langsung merespons. Dari data tersebutlah membuat rupiah melemah," ujarnya kepada Akurat.co, Kamis (18/7/2024).

Baca Juga: Suku Bunga The Fed Diramal Turun di November 2024, Perry: Rupiah Akan Semakin Menguat dan Stabil

Ditambahkan, dari sisi eksternal, pejabat tinggi bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengatakan bahwa The Fed "lebih dekat" untuk memangkas suku bunga mengingat lintasan inflasi yang membaik dan pasar tenaga kerja dalam keseimbangan yang lebih baik, pernyataan yang membuka jalan bagi yang pertama pengurangan biaya pinjaman pada September.

Gubernur The Fed, Christopher Waller dan Presiden The Fed New York, John Williams sama-sama mencatat semakin pendeknyacakrawala menuju kebijakan moneter yang lebih longgar. Wallermenyoroti hal ini dalam pidatonya di Kansas City Fed dan Williams menegaskannyadalam wawancara. Secara terpisah, Presiden The Fed Richmond Thomas Barkin merasa "sangat gembira" bahwa penurunan inflasi mulai meluas.

"Komentar baru-baru ini oleh calon presiden dari Partai Republik Donald Trump mengenai belanja pertahanan AS di Taiwan juga membuat sentimen terhadap pasar regional tetap gelisah. Langkah seperti itu dapat mewakili upaya berkelanjutan pemerintahan Biden untuk memutus akses China terhadap kemajuan dalam kecerdasan buatan terhadap teknologi dan industri pembuatan chip. Hal ini juga dapat memicu tindakan pembalasan yang keras dari Beijing, sehingga memicu perang dagang baru antara negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia," imbuhnya.

Sentimen Internal

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2024 mampu berada dalam rentang 4,7% hingga 5,5% berkat kinerja perekonomian domestik. Konsumsi rumah tangga dan investasi mendorong kinerja produk domestik bruto (PDB) kuartal II-2024.

Ekspor barang meningkat didorong oleh kenaikan ekspor produk manufaktur dan pertambangan, terutama logam dan bijih logam serta besi baja, ke negara mitra dagang utama seperti India dan China.

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV juga diperkirakan akan tetap baik. Proyeksi positif ini juga didorong oleh rencana peningkatan stimulus fiskal dari 2,3% menjadi 2,7% dari PDB serta kinerja ekspor yang meningkat dengan kenaikan permintaan dari mitra dagang utama.

BI menyatakan akan terus memperkuat sinergi antara stimulus fiskal oleh Pemerintah dengan stimulus makroprudensial oleh BI. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi dapat didorong agar tetap berkelanjutan, khususnya dari sisi permintaan.

BI juga terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah untuk memitigasi dampak risiko tingginya ketidakpastian global. Koordinasi kebijakan dengan Pemerintah (Pusat dan Daerah) ditempuh melalui program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa