Akurat Logo

BI Rate Ditahan, Rupiah Nanjak 25 Poin ke Rp15.635

M. Rahman | 21 Februari 2024, 17:18 WIB
BI Rate Ditahan, Rupiah Nanjak 25 Poin ke Rp15.635

AKURAT.CO Rupiah ditutup menguat 25 poin ke level Rp15.635 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 21 Februari 2024 usai BI menahan BI rate di level 6%.

Pengamat Pasar Uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah ditopang sentimen internal dan eksternal. 

Dari internal, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI Rate pada level 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 20-21 Februari 2024. Suku bunga Deposit Facility juga diputus tetap di posisi 5,25% dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Baca Juga: Jelang Pertemuan Gubernur Fed, Rupiah Anjlok 29 Poin ke Rp15.660

Keputusan tersebut menjadi kali keempat BI menahan di level tersebut setelah menahan pada November, Desember, dan Januari. Sebelumnya, BI menaikkan suku bunganya pada Oktober 2023 sebesar 25 basis poin (bps) dari 5,75%.

"Yang membuat BI menahan suku bunga acuan adalah masih adanya sentimen ketidakpastian pemilu yang terjadi di Indonesia saat ini dan keputusan The Fed yang belum memberikan sinyal penurunan suku bunga, Indonesia masih mencatatkan aliran modal masuk," ujar Ibrahim dikutip Rabu (21/2/2024).

Ditambahkan, inflasi yang terjaga di level 2,47 persen yoy di Januari 2024 diyakini tidak menjadi tekanan bagi BI Rate. Meskipun, di dua bulan berikutnya ada potensi peningkatan inflasi imbas dari kenaikan nilai beras dan aspek musiman bulan Ramadan.

"Hanya saja, diperlukan penjagaan bagi perbedaan imbal hasil yang memadai antara obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi Amerika Serikat yang sangat penting untuk mencegah arus keluar modal," imbuhnya.

Sentimen Eksternal Rupiah

Dari eksternal, investor juga mengabaikan data inflasi harga konsumen dan produsen AS yang lebih tinggi dari perkiraan untuk bulan Januari yang dirilis minggu lalu karena kemungkinan besar dipengaruhi oleh penyesuaian musiman dan tidak menunjukkan adanya tekanan harga baru. Hal ini akan membuat Federal Reserve berada di jalur yang tepat untuk mulai memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.

Fokus kini tertuju pada risalah pertemuan The Fed pada akhir bulan Januari untuk mendapatkan lebih banyak petunjuk mengenai kemungkinan arah suku bunga AS. Bank sentral telah mempertahankan suku bunga stabil selama pertemuan tersebut, namun sebagian besar meremehkan ekspektasi penurunan suku bunga lebih awal.

Selain risalah rapat The Fed pada hari Rabu, fokus juga tertuju pada pidato dari serangkaian pejabat The Fed minggu ini, termasuk Raphael Bostic dan Michelle Bowman, keduanya merupakan bagian dari komite penetapan suku bunga bank tersebut.

Bank sentral China memangkas suku bunga dengan margin yang lebih besar dari perkiraan pada hari Selasa, sementara Beijing juga mengumumkan serangkaian langkah-langkah dukungan yang ditujukan pada pasar properti yang sedang lesu, dalam upaya untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, data resmi menunjukkan peningkatan besar dalam belanja konsumen dan permintaan perjalanan selama liburan Tahun Baru Imlek, meningkatkan harapan pemulihan konsumsi China, yang merupakan pendorong utama perekonomian.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa