Akurat Logo

Neraca Perdagangan RI Surplus 41 Bulan Beruntun, Ini Kata Kemenkeu

Aris Rismawan | 17 Oktober 2023, 13:05 WIB
Neraca Perdagangan RI Surplus 41 Bulan Beruntun, Ini Kata Kemenkeu

AKURAT.CO Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada September 2023 tercatat surplus sebesar USD3,42 miliar.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu mengatakan surplus neraca perdagangan tersebut melanjutkan tren selama 41 bulan berturut-turut di tengah risiko global.

“Di tengah tren moderasi harga komoditas dan perlambatan kinerja pertumbuhan ekonomi global, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Hal ini menunjukkan kinerja sektor eksternal Indonesia yang masih kuat dan akan terus kita jaga ke depannya,” kata Febrio yang dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (17/10/2023).

Baca Juga: BPS: Capai USD3,13 Miliar, Surplus Neraca Perdagangan Agustus 2023 RI Anjlok 45,8 Persen Secara Tahunan

Febrio juga menjelaskan, walaupun tercatat surplus, aktivitas perdagangan internasional Indonesia mengalami penurunan sejalan dengan tren moderasi harga komoditas global serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang.

Lebih rinci, Harga beberapa komoditas ekspor utama Indonesia seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan nikel mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Bank Dunia memperkirakan bahwa harga komoditas global pada tahun 2023 akan termoderasi sebesar minus 21,2 persen dibanding tahun 2022 sebagai dampak dari meningkatnya tensi geopolitik dan pelemahan Tiongkok, sesuai laporan dari Commodity Market Outlook 2023,” ucap Febrio.

Selain melaporkan neraca perdagangan Indonesia, Febrio juga menyampaikan, ekspor September 2023 tercatat USD20,76 miliar atau mengalami kontraksi 16,17% secara tahunan (year on year/yoy), yang utamanya pada sektor industri dan pertambangan. Secara kumulatif, ekspor dari periode Januari-September 2023 mencapai USD192,27.

Sementara, dari sisi impor Indonesia tercatat sebesar USD17,34 miliar atau turun 12,45% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dan secara kumulatif impor dari periode Januari-September 2023 tercatat USD164,52 miliar.

“Penurunan nilai impor tersebut terjadi pada bahan baku atau penolong dan barang modal, sementara impor barang konsumsi masih tumbuh sebesar 4,74 persen secara tahunan,” ungkap Febrio.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada September 2023 tercatat surplus sebesar USD3,42 miliar.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu mengatakan surplus neraca perdagangan tersebut melanjutkan tren selama 41 bulan berturut-turut di tengah risiko global.

“Di tengah tren moderasi harga komoditas dan perlambatan kinerja pertumbuhan ekonomi global, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus. Hal ini menunjukkan kinerja sektor eksternal Indonesia yang masih kuat dan akan terus kita jaga ke depannya,” kata Febrio yang dikutip dari rilis pada, Selasa (17/10/2023).

Febrio juga menjelaskan, walaupun tercatat surplus, aktivitas perdagangan internasional Indonesia mengalami penurunan sejalan dengan tren moderasi harga komoditas global serta perlambatan ekonomi di sejumlah negara mitra dagang.

Lebih rinci, Harga beberapa komoditas ekspor utama Indonesia seperti minyak kelapa sawit, batu bara, dan nikel mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Bank Dunia memperkirakan bahwa harga komoditas global pada tahun 2023 akan termoderasi sebesar minus 21,2 persen dibanding tahun 2022 sebagai dampak dari meningkatnya tensi geopolitik dan pelemahan Tiongkok, sesuai laporan dari Commodity Market Outlook 2023,” ucap Febrio.

Selain melaporkan neraca perdagangan Indonesia, Febrio juga menyampaikan, ekspor September 2023 tercatat USD20,76 miliar atau mengalami kontraksi 16,17% secara tahunan (year on year/yoy), yang utamanya pada sektor industri dan pertambangan. Secara kumulatif, ekspor dari periode Januari-September 2023 mencapai USD192,27.

Sementara, dari sisi impor Indonesia tercatat sebesar USD17,34 miliar atau turun 12,45% (yoy) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dan secara kumulatif impor dari periode Januari-September 2023 tercatat USD164,52 miliar.

“Penurunan nilai impor tersebut terjadi pada bahan baku atau penolong dan barang modal, sementara impor barang konsumsi masih tumbuh sebesar 4,74 persen secara tahunan,” ungkap Febrio.

 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.