Mantan Menteri BUMN Beberkan Persamaan Krisis COVID-19 dengan Krisis 1998

AKURAT.CO, Berbeda dengan penilaian sejumlah pengamat ekonomi yang menyebut bahwa krisis Covid-19 berbeda dengan Krisis tahun 1998, Mantan Menteri BUMN Periode 1998-1999 yakni Tanri Abeng justru menilai sebaliknya bahwa terdapat banyak persamaan antara krisis Covid-19 dengan krisis 1998.
"Mengenai krisis Covid-19 apakah ini sama sebenarnya dengan krisis 1998? Saya mengatakan bakal banyak sekali persamaannya karena pandemi Covid ini memengaruhi ketahanan ekonomi," kata Tanri Abeng dilansir dari Antara, Selasa (19/5/2020).
Dia menjelaskan bahwa mula-mula krisis memengaruhi APBN dimana APBN akan mengalami penurunan signifikan, dan ini sama persis dengan krisis 1998. Kemudian pandemi Covid-19 juga akan mempengaruhi pergerakan nilai tukar atau kurs Rupiah, krisis tersebut akan masuk di situ.
Lalu krisis Covid-19 pasti akan memengaruhi pertumbuhan. Di tahun 1998 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami minus 14 persen misalnya. Lalu nilai tukar Rupiah melonjak dari Rp2.400 ke Rp16.000.
"Ini mungkin tidak seperti itu tetapi trennya akan memengaruhi fiskal berarti defisit, kalau sudah defisit apakah pemerintah harus mencetak uang atau mengambil pinjaman," kata mantan Menteri BUMN tersebut.
Kemudian, lanjut dia, bagaimana pergerakan daripada nilai tukar Rupiah, karena itu juga merupakan bagian penting dalam struktur perekonomian Indonesia.
"Dari Krisis 1998 itu supaya kita belajar apa yang dilakukan pada saat krisis tersebut ada dewan pemantapan ketahanan ekonomi yang berpola krisis," kata Tanri Abeng.
Dengan demikian maka Indonesia bisa mengatasi kondisi-kondisi yang berdampak negatif pada saat 1998 sehingga pada akhir tahun 1999, semua kondisi perekonomian telah berjalan normal.
Mantan Menteri BUMN periode 1998-1998 juga merasa khawatir jika roda perekonomian yang saat ini terimbas secara negatif oleh pandemi Covid-19 tidak segera dituntaskan, maka kondisi yang pernah terjadi pada Krisis 1998 bisa terulang kembali saat ini.
"Saya khawatir kondisi yang terjadi pada tahun 1998 bisa terulang kembali di krisis Covid saat ini," katanya.
Sebelumnya Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudistira menyebut bahwa banyak yang keliru membandingkan krisis ekonomi akibat Covid-19 ini dengan krisis 2008 atau krisis moneter pada tahun 1998, di mana dua krisis tersebut tidak ada apa-apanya karena Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO langsung menyimpulkan bahwa kondisi krisis ekonomi Covid-19 sekarang mirip dengan Great Depression atau Depresi Besar dunia pada tahun 1930-an.
Sedangkan Ekonom Chatib Basri mengatakan dampak ekonomi dari pandemi virus corona saat ini berbeda dengan krisis di tahun 1998 sebab kondisi saat ini juga berdampak pada sektor kesehatan dan sosial.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 2Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 3Link Live Score Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026, Cek Skor dan Susunan Pemain Sekarang!
- 4Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 5Link Live Streaming Indonesia vs Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026, Nonton di Sini!
- 6Kalender Jawa 5 Oktober 2026: Watak Weton Senin Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final FIFA ASEAN Cup 2026: Jam Berapa dan Tayang di Mana?
- 8Jokowi Temui Prabowo di Kertanegara Bersamaan dengan Putusan MK soal Gibran, Ada Apa?
- 9Kekayaan Negara Rp13,2 Triliun Diselamatkan, Prabowo: Bisa untuk Naikkan Gaji Guru dan Bantu Orang-orang Lapar
- 10Gibran Ogah Mundur, Denny Indrayana Dorong Pemakzulan




