Akurat Logo

Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 17.950, Ini 3 Faktor Pemicunya

Esha Tri Wahyuni | 14 Oktober 2026, 07:30 WIB
Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 17.950, Ini 3 Faktor Pemicunya
ilustrasi Mata Uang Rupiah dan Dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan berikutnya.

Tekanan terhadap mata uang Garuda datang dari ketidakpastian pasar energi global dan kekhawatiran investor terhadap perkembangan evaluasi indeks saham Indonesia oleh penyedia indeks global, MSCI.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak di rentang Rp 17.900 hingga Rp 17.950 per USD pada perdagangan berikutnya. Sementara itu, untuk perdagangan pekan ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp 17.780 hingga Rp 18.060 per USD.

Baca Juga: Little Siam PIK2 Gelar Lomba Nasi Goreng Nanas ala Thailand, Hadiah Jutaan Rupiah Menanti

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan fluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp 17.900-Rp 17.950. Sedangkan perdagangan dalam minggu ini diperkirakan berada di rentang Rp 17.780-Rp 18.060," ujar Ibrahim, dalam riset hariannya, Selasa (13/10/2026).

Pada perdagangan Selasa (13/10/2026), rupiah ditutup menguat 13 poin ke level Rp 17.900 per USD, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.913 per USD. Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah sempat melemah hingga 40 poin sepanjang perdagangan.

Meski ditutup menguat, pergerakan rupiah masih dibayangi sejumlah risiko eksternal dan domestik. Pelaku pasar mencermati perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia, sekaligus menunggu data ekonomi AS yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah, Dolar AS Bergerak di Rp17.960

Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan pasokan bahan bakar global di tengah konflik Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menyatakan Rusia bersedia memasok solar ke pasar global, disertai langkah pemerintahannya untuk sementara mencabut sanksi AS terhadap bahan bakar Rusia.

Tambahan pasokan tersebut berpotensi membantu meredakan ketatnya pasar bahan bakar. Namun, keberlanjutan kesepakatan itu masih menjadi perhatian karena muncul laporan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina setelah pengumuman tersebut. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar tetap memperhitungkan risiko gangguan pasokan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.