Akurat Logo

OJK Dorong Digitalisasi Perbankan Jadi Mesin Produktivitas

Esha Tri Wahyuni | 8 Oktober 2026, 14:37 WIB
OJK Dorong Digitalisasi Perbankan Jadi Mesin Produktivitas
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong transformasi digital sektor keuangan tidak sekadar mengejar adopsi teknologi. Digitalisasi perbankan dinilai harus mampu meningkatkan produktivitas, memperluas akses pembiayaan, dan memberikan dampak langsung terhadap sektor riil serta masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso mengatakan, perkembangan teknologi harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Transformasi digital sektor keuangan harus diarahkan menjadi mesin produktivitas yang memperluas akses pembiayaan dan memberikan manfaat nyata bagi sektor riil serta masyarakat,” ujar Adi Budiarso dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Baca Juga: Tegas, OJK Terus Perkuat Pengawasan dan Penegakan Hukum

Menurutnya, masa depan sektor jasa keuangan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat industri mengadopsi inovasi teknologi. Aspek stabilitas, keamanan, tata kelola, pelindungan konsumen, serta manfaat ekonomi juga menjadi bagian penting dalam proses transformasi tersebut.

Hal ini menjadi semakin relevan seiring industri perbankan memasuki 2027 dengan tantangan yang semakin kompleks. OJK mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 13,65% secara tahunan pada Agustus 2026.

Di sisi lain, industri perbankan masih memiliki fondasi permodalan yang kuat. Rasio permodalan tercatat sebesar 24,1%, sedangkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 2,11%.

Namun, pertumbuhan tersebut berlangsung di tengah perubahan lingkungan industri yang tidak sederhana. Perkembangan teknologi, ancaman keamanan siber, perubahan regulasi, ketidakpastian makroekonomi, tuntutan penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG), hingga kesenjangan talenta menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan.

Adi menilai kondisi tersebut membuat industri keuangan perlu melihat transformasi digital secara lebih luas. Teknologi tidak cukup hanya digunakan untuk mempercepat proses internal, tetapi juga harus mampu meningkatkan kapasitas industri dalam menyalurkan pembiayaan dan mendukung aktivitas ekonomi.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Nixon L.P. Napitupulu. Menurutnya, keberhasilan transformasi digital sektor keuangan pada akhirnya harus diukur dari dampak yang dihasilkan terhadap perekonomian.

Baca Juga: OJK Terima 35 Ribu Aduan Terkait Entitas Ilegal hingga September 2026

“Teknologi bukan tujuan akhir transformasi sektor keuangan. Nilai sebenarnya terletak pada kemampuan teknologi untuk memperluas akses pembiayaan, meningkatkan efisiensi, memperkuat resiliensi, dan menggerakkan sektor riil,” kata Nixon.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.