OKX Rilis Proof of Reserves ke-47, Cadangan Aset Utama Capai USD27,4 Miliar

AKURAT.CO Platform aset kripto OKX kembali menerbitkan laporan Proof of Reserves (PoR) bulanan.
Memasuki edisi ke-47, laporan tersebut mencatat total aset utama senilai US$27,4 miliar berdasarkan verifikasi per 8 September 2026 pukul 00.00 UTC+8.
Dalam laporan tersebut, rasio cadangan untuk delapan aset utama yang ditampilkan berada pada level 100 persen atau lebih.
Delapan aset tersebut mencakup Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Tether (USDT), USD Coin (USDC), XRP, Dogecoin (DOGE), Solana (SOL), dan OKB.
Publikasi PoR secara rutin selama 47 bulan berturut-turut menjadi bagian dari mekanisme transparansi OKX terkait cadangan aset yang dimilikinya.
Melalui laporan tersebut, pengguna dapat melakukan verifikasi terhadap cadangan yang mendukung aset mereka.
“Kepercayaan tidak cukup dibangun melalui janji. Kepercayaan perlu didukung oleh transparansi yang dapat diverifikasi dan perlindungan yang terus berkembang,” kata Growth Manager OKX Wallet, Ferry.
Menurut Ferry, laporan PoR dan sistem keamanan merupakan dua aspek yang saling melengkapi dalam memberikan informasi sekaligus perlindungan kepada pengguna.
“Dengan laporan Proof of Reserves bulanan dan OKX Protect, kami ingin memberikan pengguna visibilitas yang lebih jelas sekaligus membangun lapisan keamanan yang siap menghadapi ancaman baru,” ujarnya.
Selain menerbitkan laporan cadangan, OKX juga mengembangkan sistem perlindungan melalui OKX Protect.
Kerangka tersebut mencakup perlindungan akun, keamanan aset dan self-custody, keamanan platform, dukungan pengguna selama 24 jam, unit pertahanan siber, serta kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
OKX menyebut sistem keamanannya memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) dan machine learning untuk membantu mengidentifikasi berbagai potensi risiko, mulai dari penipuan dan aktivitas mencurigakan hingga alamat berisiko serta upaya penyamaran identitas.
Sejumlah teknologi digunakan dalam sistem tersebut. Eagle-Eye, misalnya, digunakan untuk membantu mendeteksi deepfake dan mendukung proses verifikasi identitas.
Sementara TARDIS menganalisis perilaku pengguna serta rangkaian transaksi untuk membantu mendeteksi potensi penipuan.
Adapun SkyNet digunakan untuk menganalisis data blockchain guna mengidentifikasi alamat maupun aktivitas on-chainyang berpotensi membahayakan pengguna.
Sistem berbasis AI tersebut juga dilengkapi dengan pengawasan manusia sepanjang waktu.
OKX menyebut produk dan sistem keamanannya turut menjalani evaluasi oleh pihak independen.
Sejumlah perusahaan keamanan dan spesialis on-chain, termasuk Hacken, CertiK, dan SlowMist, disebut terlibat dalam proses evaluasi tersebut.
Baca Juga: Perkuat Penanganan Kekeringan, 141.440 Hektare Sawah Diselamatkan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Menag Pimpin Salat Jenazah, Rano Karno Sampaikan Pesan Keluarga untuk Guruh Soekarnoputra
- 10Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla








