Akurat Logo

Rupiah Melemah ke Rp17.800 per-Dolar AS, BI Ungkap Penyebabnya

Idham Nur Indrajaya | 21 September 2026, 18:52 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.800 per-Dolar AS, BI Ungkap Penyebabnya
Rupiah melemah ke sekitar Rp17.800 per US$. BI mengungkap penyebab tekanan kurs dan langkah stabilisasi nilai tukar. - Ilustrasi: Gemini Google

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah kembali berada di level yang perlu diperhatikan setelah dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh sekitar Rp17.800. Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) mengungkap sejumlah faktor yang membuat mata uang Garuda masih menghadapi tekanan, mulai dari situasi geopolitik Timur Tengah hingga meningkatnya kebutuhan dolar dari importir.

Menurut BI, rupiah melemah dipengaruhi kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga minyak yang berada di atas US$100 per barel, meningkatnya kebutuhan valas importir, serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan risiko inflasi global dan tekanan terhadap outlook fiskal.

Mengapa Rupiah Melemah ke Sekitar Rp17.800 per US$?

Berdasarkan narasi yang disampaikan Bank Indonesia, nilai tukar dolar AS berada di level Rp17.847 terhadap rupiah pada Senin, 21 September 2026. Level tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih berlangsung di tengah dinamika pasar global dan domestik.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS, tetapi juga kondisi eksternal dan permintaan valuta asing di dalam negeri.

Faktor eksternal yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kekhawatiran akibat tensi geopolitik di Timur Tengah. Ketidakpastian tersebut turut mendorong harga minyak tetap tinggi, bahkan berada di atas US$100 per barel.

Harga energi kemudian menjadi bagian penting dari persoalan karena kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi secara global. Bagi negara seperti Indonesia, kondisi tersebut juga dapat memengaruhi persepsi terhadap kondisi fiskal dan ekonomi secara lebih luas.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebutuhan valas importir. Ketika perusahaan membutuhkan dolar untuk membayar transaksi atau kewajiban kepada pihak luar negeri, permintaan terhadap mata uang AS di pasar domestik ikut meningkat.

Baca Juga: Bukan Lagi The Fed dan Dolar AS, Ini Risiko Baru yang Harus Dicermati Investor

Baca Juga: Bunga The Fed Sudah Diantisipasi, Rupiah Jadi Penentu Pasar Saham Indonesia

Erwin juga menyoroti arus keluar dana dari portofolio aset domestik sebagai salah satu faktor yang menekan nilai tukar.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," ujar Erwin melalui keterangan tertulis Bank Indonesia, Senin, 21 September 2026.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.