Akurat Logo

Produk Ramah Lingkungan Makin Diminati, Harga Masih Jadi Tantangan

Esha Tri Wahyuni | 25 Agustus 2026, 21:10 WIB
Produk Ramah Lingkungan Makin Diminati, Harga Masih Jadi Tantangan
Ilustrasi Produk Digital - Pixabay

AKURAT.CO Ada persoalan yang masih menghambat pertumbuhan produk ramah lingkungan di Indonesia.

Minat masyarakat terhadap isu keberlanjutan mulai tumbuh, tetapi sebagian konsumen justru belum mengetahui atau kesulitan menemukan produk yang sesuai dengan nilai tersebut.

Survei Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan 37,1% responden pada 2021 mengaku belum pernah membeli produk berkelanjutan.

Dari kelompok tersebut, sebanyak 50,8% menyebut produk berkelanjutan tidak tersedia di lingkungan sekitar mereka.

Persoalannya tidak berhenti pada ketersediaan. Sebanyak 44% responden juga mengaku tidak membeli produk berkelanjutan karena kurang informasi, tidak memahami, atau tidak mengetahui produk tersebut.

Temuan tersebut menunjukkan tantangan industri produk berkelanjutan bukan semata-mata menciptakan permintaan.

Pelaku usaha juga perlu memastikan produk mereka mudah ditemukan dan informasi mengenai nilai keberlanjutannya dapat dipahami konsumen.

Data yang lebih baru menunjukkan potensi pasar produk ramah lingkungan sebenarnya cukup besar.

Survei PwC Voice of the Consumer 2025 terhadap 21.075 konsumen di 28 negara, termasuk Indonesia, mencatat 57% konsumen Indonesia memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan.

Baca Juga: Green Accounting, Cara Baru Hitung Biaya Lingkungan Perusahaan

Bahkan, 71% responden menyatakan bersedia membayar lebih untuk mendukung tujuan lingkungan.

Namun, kepedulian tersebut belum selalu berubah menjadi kebiasaan konsumsi. PwC mencatat 62% konsumen Indonesia menyatakan khawatir terhadap perubahan iklim, tetapi isu tersebut belum menjadi sesuatu yang mereka pikirkan secara rutin.

Di sisi lain, kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan. Sebanyak 50% konsumen Indonesia mengaku khawatir terhadap ketidakstabilan ekonomi dan biaya hidup.

Kondisi tersebut mendorong konsumen untuk membeli lebih sedikit dan memilih alternatif yang lebih murah.

Artinya, produk berkelanjutan menghadapi dua tantangan sekaligus, yakni konsumen harus bisa menemukan dan memahami produknya, sementara harga tetap harus masuk dalam pertimbangan daya beli.

Persoalan visibilitas menjadi penting karena produk yang tidak dikenal konsumen akan sulit masuk ke dalam pilihan belanja sehari-hari, sekalipun memiliki manfaat lingkungan.

Kondisi tersebut membuat ruang interaksi langsung antara pelaku usaha dan konsumen menjadi semakin penting.

Bagi sustainable brands, kehadiran di ruang fisik tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi. Konsumen dapat melihat produk secara langsung, mengetahui bahan yang digunakan, memahami proses produksi, sekaligus memperoleh informasi mengenai dampak lingkungan yang ditawarkan.

Pola tersebut mulai dikembangkan melalui Langkah Membumi Market (LMM) 2026 yang digelar Blibli Tiket Action.

Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, Langkah Membumi bertransformasi menjadi Langkah Membumi Market dengan tiga pilar utama, yakni Inspiring Talks, Eco Labs, dan Curated Market.

Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 8-11 Oktober 2026 di Grand Indonesia, Jakarta.

Konsep tersebut menempatkan produk berkelanjutan tidak hanya sebagai barang yang dipajang, tetapi sebagai bagian dari pengalaman konsumen.

Pengunjung dapat memperoleh informasi, mengikuti kegiatan edukasi, sekaligus melihat dan mencoba produk yang ditawarkan pelaku usaha.

Langkah ini juga menyasar kelompok konsumen muda. Data penyelenggara menunjukkan sekitar 90% audiens Langkah Membumi sejak 2023 berasal dari Gen Z dan young millennials.

COO dan Co-Founder Blibli, Lisa Widodo mengatakan, perubahan konsep tersebut dilakukan karena generasi muda semakin aktif mencari produk, layanan, dan pengalaman yang sesuai dengan nilai yang mereka yakini.

“Kami melihat bahwa generasi muda tidak hanya semakin peduli terhadap isu sustainability, tetapi juga semakin aktif mencari produk, layanan, dan pengalaman yang sejalan dengan nilai yang mereka yakini,” kata Lisa dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (25/8/2026).

Peluang tersebut juga terlihat dari perkembangan tenant pada penyelenggaraan sebelumnya.

Dalam naskah penyelenggara, Langkah Membumi tahun lalu diikuti lebih dari 40 tenant terkurasi. Di antaranya Gaea Home, Organic Culture, Ulur Wiji, Jumbuh, dan Karplanter.

Nilai transaksi disebut meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menjadi salah satu indikator bahwa keberadaan ruang khusus untuk mempertemukan sustainable brands dan konsumen memiliki potensi komersial.

Namun, angka transaksi tersebut sebaiknya dibaca sebagai capaian kegiatan, bukan sebagai gambaran keseluruhan pasar produk berkelanjutan di Indonesia.

Bagi pelaku usaha, manfaat ruang seperti ini juga terletak pada kesempatan menjelaskan produk secara langsung.

CEO dan Co-Founder Ulur, Wiji Joko Santoso mengatakan pihaknya berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap persoalan lingkungan.

Baca Juga: PGN Kenalkan Ekosistem Green Economic Life di Sleman melalui Suadesa Festival 2026

“Kami happy sekali karena acara Langkah Membumi ini selaras dengan visi kami di Ulur Wiji. Kami berharap masyarakat, terutama anak-anak muda, akan semakin aware terhadap isu-isu lingkungan, global warming, dan sampah,” ujar Joko.

Sejumlah produk yang ditawarkan sustainable brands juga menunjukkan bahwa konsep keberlanjutan telah masuk ke berbagai kategori kebutuhan sehari-hari.

Ulur Wiji menjadi salah satu merchant yang hadir dengan produk berbasis prinsip keberlanjutan. Selain itu, terdapat Dopper yang menawarkan tumbler dengan material daur ulang dan ChopValue yang memanfaatkan sumpit bekas sebagai bahan untuk furnitur serta interior.

Ada pula Demibumi yang menghadirkan produk hasil kurasi bebas plastik, 180 Degrees dengan lini pakaian berbahan daur ulang, serta Pala Nusantara yang menawarkan aksesori jam tangan berbasis bahan alam dan material daur ulang dari sampah plastik.

Ragam produk tersebut memperlihatkan bahwa pilihan konsumsi berkelanjutan tidak terbatas pada satu kategori.

Produk fesyen, rumah tangga, aksesori, hingga kebutuhan sehari-hari dapat masuk ke dalam ekosistem tersebut.

Tantangannya adalah membuat pilihan tersebut semakin mudah dijangkau konsumen.

Besarnya minat terhadap produk berkelanjutan belum berarti konsumen akan selalu memilih produk tersebut.

Tekanan biaya hidup dapat membuat konsumen kembali mempertimbangkan harga ketika harus memilih antara produk konvensional dan produk yang memiliki atribut keberlanjutan.

Karena itu, keberlanjutan perlu hadir bersama manfaat yang jelas bagi konsumen.

Informasi mengenai bahan, proses produksi, daya tahan, penggunaan kembali, hingga dampak lingkungan harus disampaikan dengan cara yang mudah dipahami.

Temuan PwC juga memperlihatkan adanya kebutuhan terhadap informasi yang lebih mudah diakses.

Dalam konteks konsumsi secara umum, konsumen semakin mencari produk yang sesuai dengan nilai pribadi, tetapi kemampuan mereka untuk merealisasikan pilihan tersebut tetap dipengaruhi faktor harga dan akses.

Di titik inilah strategi distribusi dan komunikasi menjadi sama pentingnya dengan inovasi produk.

Produk yang memiliki material daur ulang, proses produksi yang lebih bertanggung jawab, atau membantu mengurangi sampah tidak akan banyak mengubah perilaku konsumen jika keberadaannya sulit diketahui.

Transformasi Langkah Membumi menjadi Langkah Membumi Market menunjukkan bahwa industri mulai melihat persoalan keberlanjutan bukan hanya sebagai isu kampanye, tetapi juga sebagai persoalan bagaimana mempertemukan produk dengan konsumen.

Langkah Membumi sendiri pertama kali diperkenalkan pada 2022 dan kemudian berkembang menjadi platform yang mempertemukan pelaku usaha, komunitas, pemerintah, NGO, kreator, akademisi, serta masyarakat.

Pada 2026, pendekatan tersebut diarahkan lebih dekat kepada aktivitas konsumen melalui market, workshop, dan diskusi.

Model ini menjadi relevan karena data KIC menunjukkan masih terdapat kesenjangan antara keberadaan produk berkelanjutan dan kemampuan konsumen untuk menemukan atau memahami produk tersebut.

Sementara itu, data PwC menunjukkan konsumen Indonesia sebenarnya telah menunjukkan minat terhadap pilihan yang lebih ramah lingkungan.

Sebanyak 57% memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan dan 71% bersedia membayar lebih untuk mendukung tujuan lingkungan.

Dengan demikian, tantangan berikutnya bagi sustainable brands bukan hanya membuat produk yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Produk tersebut juga harus tersedia, mudah ditemukan, mudah dipahami, dan tetap relevan dengan kemampuan konsumen.

Jika celah antara minat dan akses tersebut semakin kecil, pilihan produk berkelanjutan berpeluang bergerak dari segmen khusus menjadi bagian yang lebih normal dalam keputusan belanja sehari-hari.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.