Efek Domino Global: Dolar Menguat, Mata Uang Asia Tertekan

AKURAT.CO Konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memicu efek domino ke pasar keuangan global.
Salah satu dampak paling terasa adalah menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) yang kembali diburu investor sebagai aset aman (safe haven).
Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk ancaman terhadap jalur energi strategis dunia.
Mengutip dari laman reuters, kondisi tersebut pun mendorong pelaku pasar menghindari aset berisiko dan beralih ke dolar.
Baca Juga: Megawati Terima Kunjungan Dubes Negara Sahabat, Bahas Geopolitik hingga Pemanasan Global
Di saat yang sama, mata uang utama dunia justru melemah. Euro, yen Jepang, hingga poundsterling tertekan, sementara indeks dolar tercatat menguat mendekati level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Tekanan juga menjalar ke kawasan Asia. Sejumlah mata uang negara berkembang mengalami pelemahan signifikan.
Bahkan, rupee India tercatat menyentuh level terendah sepanjang sejarah akibat lonjakan harga energi dan arus keluar modal asing.
Lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang memperburuk situasi. Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global, terutama jika jalur vital seperti Selat Hormuz terganggu.
Kenaikan harga energi ini berdampak langsung pada inflasi dan stabilitas ekonomi banyak negara.
Baca Juga: Prabowo-Megawati Bahas Geopolitik Global, Soroti Peran Indonesia di Panggung Dunia
Kondisi tersebut juga menekan pasar saham global. Bursa di berbagai negara, termasuk Asia dan Amerika Serikat, mengalami penurunan akibat meningkatnya ketidakpastian.
Investor cenderung menarik dana dari aset berisiko dan meningkatkan posisi kas.
Selain itu, ekspektasi kebijakan moneter global turut berubah. Rencana pemangkasan suku bunga oleh bank sentral utama, termasuk The Fed, mulai diragukan karena tekanan inflasi yang meningkat akibat harga energi.
Secara historis, kondisi seperti ini memang kerap mendorong penguatan dolar.
Dalam situasi krisis atau ketidakpastian global, dolar masih dianggap sebagai instrumen lindung nilai paling aman oleh investor.
Namun demikian, volatilitas pasar masih akan tinggi selama konflik belum mereda. Risiko inflasi, perlambatan ekonomi, hingga potensi stagflasi menjadi ancaman nyata bagi ekonomi global.
Bagi negara berkembang, tekanan ini bisa menjadi tantangan serius. Pelemahan mata uang, kenaikan harga energi, dan arus modal keluar berpotensi memperbesar beban ekonomi domestik dalam jangka pendek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK









