Rugi Link Net Melebar ke Rp1,44 Triliun di 2025 Meski Pendapatan Naik, Ini Sebabnya

AKURAT.CO Emiten penyedia layanan broadband dan TV kabel, PT Link Net Tbk. (LINK) mencatatkan kinerja keuangan yang masih tertekan sepanjang tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025, berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dipublikasikan di BEI.
Meski pendapatan mengalami kenaikan signifikan, Perseroan tetap membukukan rugi bersih sebesar Rp1,44 triliun, lebih tinggi dari tahun 2024 sebesar Rp1,18 triliun.
Pendapatan Naik 22%
Sepanjang 2025, pendapatan konsolidasian meningkat menjadi Rp3,08 triliun, naik dari Rp2,52 triliun pada 2024 atau tumbuh sekitar 22% secara tahunan (YoY). Kenaikan ini mencerminkan masih kuatnya permintaan layanan internet broadband dan distribusi TV di berbagai wilayah operasional perusahaan.
Namun pertumbuhan top line tersebut belum mampu menutup beban operasional dan keuangan yang masih tinggi.
Beban Operasional Masih Berat
Beberapa komponen beban utama yang menekan kinerja 2025 antara lain:
- Beban penyusutan: Rp1,67 triliun
- Beban jaringan dan beban langsung lainnya: Rp1,54 triliun
- Beban keuangan: Rp514 miliar
- Beban umum dan administrasi: Rp393 miliar
- Beban gaji dan kesejahteraan karyawan: Rp249 miliar
Total tekanan beban tersebut membuat Perseroan mencatatkan rugi sebelum pajak sebesar Rp1,44 triliun.
Setelah memperhitungkan beban pajak, rugi tahun berjalan dari operasi yang dilanjutkan mencapai Rp1,45 triliun, lebih dalam dibandingkan periode sebelumnya.
Perbandingan dengan 2024
Pada 2024, Perseroan membukukan rugi sebesar Rp1,18 triliun, yang ditopang oleh laba dari operasi yang dihentikan sebesar Rp569 miliar. Sementara pada 2025 tidak terdapat kontribusi dari operasi yang dihentikan, sehingga tekanan rugi sepenuhnya berasal dari bisnis yang berlanjut.
Secara per saham, rugi bersih dasar dan dilusian 2025 tercatat sebesar Rp527 per saham, membaik dibanding rugi Rp638 per saham pada 2024 untuk operasi yang dilanjutkan.
Struktur Keuangan dan Dampaknya
Di sisi neraca, total liabilitas meningkat menjadi Rp9,68 triliun, sementara ekuitas turun menjadi Rp3,54 triliun akibat akumulasi rugi. Pinjaman bank jangka pendek melonjak signifikan menjadi Rp6,99 triliun, mengindikasikan tekanan likuiditas dan kebutuhan pembiayaan yang lebih besar.
Meskipun demikian, arus kas dari aktivitas operasi tetap positif sebesar Rp1,35 triliun, menunjukkan bisnis inti masih menghasilkan kas operasional.
Beban Menggerus Pendapatan
Kinerja 2025 menunjukkan bahwa PT Link Net Tbk berhasil meningkatkan pendapatan, namun belum mampu mencapai profitabilitas akibat tingginya beban penyusutan, biaya jaringan, dan beban keuangan.
Ke depan, fokus efisiensi biaya, pengelolaan utang, serta optimalisasi monetisasi jaringan broadband akan menjadi faktor kunci dalam memperbaiki bottom line perusahaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








