Akurat

Fokus ke Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi, BI Rate Ditahan di 4,75 Persen pada Januari 2026

Hefriday | 21 Januari 2026, 15:33 WIB
Fokus ke Rupiah dan Pertumbuhan Ekonomi, BI Rate Ditahan di 4,75 Persen pada Januari 2026

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026. 

Keputusan ini menjadi sinyal kuat bahwa bank sentral masih memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain BI-Rate, suku bunga deposit facility tetap di 3,75% dan lending facility di 5,5%.
 
Kebijakan ini dinilai selaras dengan upaya menjaga inflasi tetap terkendali dalam target 2,5% ±1% pada 2026–2027, sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. 
 
Bagi pelaku pasar, keputusan BI ini menjadi perhatian utama karena berpengaruh langsung terhadap arah suku bunga perbankan, biaya kredit, serta iklim investasi domestik. 

BI Tahan BI-Rate 4,75 Persen di Tengah Ketidakpastian Global

Rapat Dewan Gubernur BI yang digelar pada Selasa (20/1/2026) dan Rabu (21/1/2026) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%.
 
 
Langkah ini diambil sebagai respons atas dinamika global yang masih sarat risiko, terutama tekanan dari pasar keuangan internasional.
 
Gubernur BI, Perry Warjiyo menegaskan, kebijakan tersebut konsisten dengan fokus bank sentral saat ini, yakni menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.

Suku Bunga Deposit dan Lending Facility Tetap

Selain BI-Rate, BI juga menahan instrumen suku bunga lainnya. Suku bunga deposit facility tetap berada di level 3,75%, sementara lending facility dipertahankan di 5,5%.
 
"Konsistensi ini bertujuan menjaga stabilitas pasar uang dan memastikan transmisi kebijakan moneter berjalan efektif ke sektor perbankan dan riil," ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Fokus BI: Stabilitas Rupiah dan Inflasi 2026–2027

Menurut Perry Warjiyo, keputusan RDG Januari 2026 ini sejalan dengan upaya menstabilkan rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global. Stabilitas nilai tukar dipandang krusial untuk menjaga daya beli masyarakat dan kepercayaan investor.
 
Di sisi lain, BI juga menargetkan inflasi tetap terkendali dalam kisaran 2,5% plus minus 1% pada periode 2026–2027, sebagai fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih solid.

BI Masih Buka Ruang Penurunan Suku Bunga

Meski menahan BI-Rate, Bank Indonesia menegaskan tetap mencermati ruang pelonggaran kebijakan moneter ke depan. Peluang penurunan suku bunga masih terbuka apabila inflasi terjaga dan stabilitas makroekonomi tetap solid.
 
BI juga akan terus memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial, agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh sektor usaha dan rumah tangga.

Dampak bagi Ekonomi dan Pelaku Usaha

Keputusan menahan suku bunga ini memberi sinyal stabilitas bagi pasar. Bagi pelaku usaha dan investor, kebijakan BI membantu menciptakan kepastian dalam perencanaan ekspansi dan pembiayaan.
 
Sementara bagi masyarakat, arah kebijakan ini diharapkan mampu menjaga inflasi tetap rendah, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
 
Dengan menahan BI-Rate di 4,75%, Bank Indonesia menunjukkan komitmen menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan dorongan pertumbuhan. Di tengah tekanan global, kebijakan ini menjadi jangkar penting bagi rupiah, inflasi, dan iklim investasi nasional.
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa