Akurat Logo

IHSG Anjlok 7,9 Persen ke Bawah 6.000, Menkeu: Imbas AS-China Saling Serang

Camelia Rosa | 8 April 2025, 19:04 WIB
IHSG Anjlok 7,9 Persen ke Bawah 6.000, Menkeu: Imbas AS-China Saling Serang

AKURAT.CO Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai bahwa investor merespon negatif kondisi perang dagang yang saat ini terjadi. 

Hal itu terlihat dari anjloknya bursa saham atau Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) imbas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor kepada sejumlah negara. 
 
Pada perdagangan Selasa (8/4/2025), IHSG ditutup memerah 7,9% ke level 5.996,14. Sebanyak 672 saham turun, 30 saham naik, dan 95 saham stagnan. Nilai transaksi hingga akhir perdagangan mencapai Rp 20,41 triliun dengan melibatkan 22,65 miliar saham dalam 1,43 juta kali transaksi. 
 
 
Dikatakan Sri, keputusan Trump tersebut menimbulkan sentimen negatif di kalangan investor. Apalagi China, yang dinilai akan menahan diri namun justru memilih untuk menentang ancaman Trump dan mengambil tindakan balasan untuk melindungi hak dan kepentingannya sendiri.
 
"China yang tadinya dianggap akan menahan diri justru melakukan retaliasi yang sama kerasnya dan ini menimbulkan suatu eskalasi makannya pemburukan di pasar uang dalam dua hari terakhir," jelasnya dalam acara Sarasehan Ekonomi yang digelar oleh Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian di Menara Mandiri, Jakarta hari ini, Selasa (8/4/2025). 
 
Seperti diketahui, AS mengenakan tarif timbal balik kepada China sebesar 34%. Namun Kementerian Keuangan China mengumumkan tarif tambahan sebesar 34% pada semua barang yang diimpor dari AS, dimulai pada 10 April 2025 mendatang.
 
Oleh sebab itu, Menkeu melihat adanya peningkatan eskalasi antara Tiongkok dan AS akan terus berlanjut. "Jadi ini adalah eskalasi yang belum berakhir, dan karena ini sudah menyangkut Presiden dengan Presiden biasanya akan sangat sulit untuk face saving," tandas Menkeu. 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.