Di Balik Kucuran Dana USD278 M Pemerintah China ke Pasar Saham

AKURAT.CO Pemerintah China mengumumkan akan memberikan stimulus suntikan dana sebesar USD278 miliar untuk menstabilkan pasar saham.
Selain itu, mereka juga bakal memberi insentif pemangkasan rasio cadangan wajib perbankan sebesar 50 bps. Pemangkasan rasio cadangan wajib perbankan yang berlaku efektif per 5 Februari 2024 tersebut menandai pemangkasan terbesar dalam 2 tahun terakhir.
Kebijakan ini ditujukan untuk memberikan tambahan likuiditas yang bisa disalurkan oleh perbankan sebesar USD140 miliar.
Baca Juga: Beda Nasib dengan China, Ekonomi AS Malah Tumbuh di Atas Ekspektasi
Head of Asia Macro and Investment Strategy BNY Mellon Investment Management, Aninda Mitra, mengatakan bahwa besaran stimulus untuk pasar saham kemungkinan masih belum cukup untuk menjaga kestabilan SSE dan HSE ke depannya karna masih di bawah 2% dari GDP China.
Ekonomi China sendiri diprediksi hanya akan tumbuh +4,6% pada 2024, lebih lambat dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2023 di level +5,2%.
"Oleh karena itu, jika stimulus dari pemerintah berhasil mendongkrak ekonomi China, hal tersebut dapat memberikan dampak positif terhadap permintaan beberapa ekspor unggulan Indonesia ke China seperti batu bara dan kelapa sawit," ujar Aninda dikutip Sabtu (26/1/2024).
Sementara itu, dampak tidak langsung dari pertumbuhan ekonomi China yang lebih baik datang dari konsumsi minyak mentah yang lebih tinggi, sehingga dapat memberikan dukungan terhadap harga minyak dunia dan berimbas positif terhadap emiten terkait minyak di Indonesia.
Diketahui, langkah stimulus ini diambil di tengah lemahnya pemulihan ekonomi China pasca-Covid akibat krisis perumahan, meningkatnya risiko utang pemerintah daerah, dan melemahnya permintaan global.
Lemahnya pemulihan ekonomi China berimbas luas ke pergerakan indeks saham di negara tersebut, di mana Shanghai Stock Exchange (SSE) dan Hang Seng Index (HSI) telah anjlok masing-masing sebesar 10,98% YoY dan 27,72% YoY dalam setahun terakhir (30 Januari 2023 hingga 26 Januari 2024).
Menanggapi hal ini, pemerintah China mengumumkan akan memberikan stimulus sebesar USD278 miliar dolar AS yang ditujukan untuk menstabilkan pasar saham. Merespon kedua stimulus tersebut, indeks SSE dan HSI masing-masing menguat sebesar +9,9% dan +7,8% sejak Selasa (23/1/2024).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








